Tidak semua revolusi dalam dunia fashion lahir dari tren baru. Sebagian justru bermula dari keberanian meninggalkan aturan lama. Itulah yang terjadi pada dekade 1920-an, ketika wanita mulai memilih pakaian yang lebih ringan, lebih praktis, sekaligus menjadi simbol kebebasan berekspresi. Semangat inilah yang menjadi fondasi Jazz & Jasper, koleksi terbaru dalam Sebastian Gunawan Signature Annual Fashion Show 2026 yang dipresentasikan megah di Ballroom Hotel Mulia Senayan, Jakarta.

The 1920s
Sebelum memasuki era yang enerjik ini, cara berpakaian wanita masih dipenuhi konstruksi yang rumit. Korset yang menyesakkan nafas, rok-rok gala yang menyembunyikan crinoline (bagai sangkar lebar) dibaliknya, hingga struktur busana yang membuat tubuh nyaris tidak memiliki ruang untuk bergerak bebas. Dekade 1920-an mengubah semuanya. Siluet menjadi lebih sederhana, ringan, dan memberikan keleluasaan bergerak. Fashion tidak lagi sekadar menunjukkan status sosial, tetapi juga mencerminkan perubahan cara hidup.

Sebastian Gunawan dan Cristina Panarese melihat Jazz Era bukan hanya sebagai periode sejarah, melainkan sebuah momentum ketika seni, musik, dan gaya hidup saling memengaruhi. Pada satu kali mereka berdua bepergian ke Paris, menikmati sebuah pertunjukan musik jazz. Ternyata momen nonton konser ini menjadi titik awal lahirnya imajinasi tentang koleksi Jazz & Jasper. Selanjutnya lahirlah interpretasi baru terhadap siluet flapper 20s yang diterjemahkan melalui bahasa couture khas Sebastian Gunawan Signature.

Jazz dan Kehidupan Dinamis
Nama Jazz & Jasper sendiri memadukan dua karakter yang saling melengkapi. Jazz merepresentasikan ritme kehidupan yang dinamis, spontan, dan penuh optimisme. Sementara jasper, batu yaspis yang banyak hadir dalam estetika Art Deco, menjadi lambang keteguhan, kemewahan, sekaligus keindahan yang mampu bertahan melintasi waktu. Keduanya berpadu menjadi narasi yang memberi identitas kuat pada keseluruhan koleksi.

Alta Moda tetapi Rileks
Secara visual, koleksi ini menawarkan siluet yang terasa lebih rileks dibandingkan karya-karya Sebastian Gunawan sebelumnya. Tailoring yang presisi berpadu dengan rok berumbai yang bergerak lembut mengikuti langkah. Potongan low waist, tulip skirt, serta bentuk cocoon menghadirkan karakter khas 1920-an tanpa kehilangan relevansi bagi perempuan masa kini. Permainan material transparan memperkaya dimensi busana, menghasilkan kesan ringan namun tetap elegan.

Palet Solid
Pilihan warna juga menjadi bagian penting dalam membangun atmosfer Jazz Era. Sebastian dan Cristina mengesampingkan dominasi warna primer dan menghadirkan palet solid yang identik dengan kemewahan dekade tersebut. Hitam tampil sebagai warna utama, ditemani kilau emas dan perak dalam berbagai karakter, mulai dari yang berpendar terang hingga beraksen lembut. Perunggu dan biru melengkapi harmoni visual yang terasa klasik sekaligus kontemporer.

Namun, koleksi ini tidak berhenti pada nuansa monokrom dan metalik. Sebagai jenama yang kreatif, Sebastian dan Cristina juga menghadirkan paradoks yang justru menjadi daya tarik tersendiri. Maka meletuplah warna merah menyala, bersandingan dengan kilau perak, dramatis, memberikan energi baru bagi wanit yang ingin menjadikan fashion sebagai medium ekspresi. Kombinasi tersebut memperlihatkan bahwa keberanian tetap memiliki tempat di tengah estetika klasik.


Savoir-Faire
Keahlian tangan menjadi napas utama seluruh koleksi. Sentuhan savoir-faire hadir melalui detail Art Deco dan Art Nouveau, patchwork lace, tekstur menyerupai bulu yang dibangun dari permainan utasan benang, hingga motif stripes yang mengalami transformasi total. Bila pada era 1920-an garis-garis identik dengan Breton shirt yang kasual, kali ini Sebastian Gunawan mengangkatnya ke tingkat alta moda melalui konstruksi dan pengerjaan yang sangat presisi.

Kenyamanan dan Kemewahan
“Harapannya koleksi ini bisa diterima oleh audience dan klien-klien. Ini sesuatu yang agak sedikit berbeda, lebih loose dan relax,” ungkap Cristina Panarese. Pernyataan tersebut terasa selaras dengan arah koleksi yang menawarkan kenyamanan tanpa mengurangi kemewahan. Presentasi semakin lengkap melalui kolaborasi aksesori kepala bersama Rinaldy A. Yunardi, sementara tata rias dan rambut dipercayakan kepada Clarissa – The Spirit of A Goddess bersama Donny Liem x Artisan Pro, memperkuat karakter setiap tampilan di atas runway.




















