Di tengah industri mode dunia yang semakin didominasi produksi massal, Batik Valiri bersuara tentang masa depan pakaian yang justru dapat lahir dari akar budaya dan kelestarian alam. Berasal dari Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, jenama ini menghadirkan batik yang tidak hanya menawarkan cerita-cerita visual, tetapi juga mengisahkan hubungan erat antara masyarakat, hutan, dan tradisi. Setiap lembar kain menjadi representasi bahwa kemewahan sejati lahir dari waktu dan kedalaman cerita yang menyertainya.

Valiri dari Desa Beka, Kecamatan Marawola
Batik Valiri lahir di Desa Beka, Kecamatan Marawola, sebuah kawasan yang berdampingan dengan Hutan Ranjuri seluas sekitar sembilan hektare. Nama “Valiri” berasal dari bahasa Kaili yang berarti “jadi di sini”, sebuah penanda bahwa seluruh proses kreatifnya berakar pada ruang hidup masyarakat setempat. Hutan tersebut bukan sekadar lanskap hijau, melainkan sumber inspirasi motif, bahan pewarna alami, sekaligus ruang yang menjaga keberlangsungan budaya lokal selama bertahun-tahun.
Semangat Anak Muda Bernama Afrianto
Pendiri Batik Valiri, Afrianto atau Anto, memulai perjalanan usahanya pada 2019 setelah memperoleh pengalaman panjang sebagai perajin batik di Kota Palu. Berbekal pelatihan dari Pemerintah Kabupaten Sigi, ia melihat peluang besar untuk menghadirkan batik yang merepresentasikan identitas daerahnya sendiri. Baginya, kekayaan alam dan sejarah Sigi memiliki potensi yang sama besarnya dengan daerah-daerah yang selama ini identik dengan tradisi batik di Indonesia.

Bercerita dengan motif lokal
Keistimewaan Batik Valiri terlihat pada pilihan motif yang seluruhnya berangkat dari kekayaan lokal. Motif taiganja, misalnya, menghadirkan simbol kesuburan, kasih sayang, dan awal kehidupan dalam budaya Kaili. Selain itu, terdapat interpretasi visual Pohon Rau, daun kelor, senjata tradisional guma, hingga peninggalan megalitik yang tersebar di wilayah Sigi. Setiap motif bukan sekadar dekorasi, melainkan medium untuk menghidupkan kembali pengetahuan budaya kepada generasi masa kini.
Arsip budaya di sehelai Batik
Pendekatan tersebut menjadikan Batik Valiri bagaikan selembar arsip budaya yang dapat dikenakan, menghadirkan narasi tentang alam, sejarah, dan identitas masyarakat dalam bahasa visual yang relevan bagi gaya hidup kontemporer. Inilah yang membuat Batik Valiri memiliki daya tarik, baik bagi pencinta wastra maupun bagi mereka yang mencari produk dengan nilai budaya yang autentik. Dari sisi desain, Batik Valiri memadukan teknik batik cap dan canting dengan eksplorasi sapuan kuas abstrak serta batik ciprat. Perpaduan teknik tradisional dan pendekatan modern tersebut menghasilkan karya yang terasa segar, fleksibel, ekspresif, dan bisa sejalan dengan perkembangan minat mode.

Dedaunan Pewarna
Karakter visual Batik Valiri semakin kuat melalui penggunaan pewarna alami yang berasal dari Hutan Ranjuri. Daun rau menghasilkan warna krem yang lembut, daun mangga menghadirkan nuansa kuning kehijauan, sementara daun jati dan ketapang menciptakan spektrum cokelat kemerahan hingga hitam. Setiap warna membutuhkan proses yang lebih panjang dibandingkan pewarna sintetis, namun justru menghadirkan kedalaman karakter sekaligus memperlihatkan penghormatan terhadap alam.
Prinsip Berkelanjutan dari Desa
Prinsip keberlanjutan diterapkan secara konsisten dalam setiap proses produksi. Masyarakat adat Desa Beka hanya memanfaatkan daun yang telah gugur tanpa menebang pohon, sementara seluruh aktivitas di kawasan hutan dilakukan melalui kesepakatan bersama para tokoh adat. Hutan Ranjuri tidak hanya menyediakan bahan baku, tetapi juga berfungsi sebagai penyangga ekosistem yang melindungi desa dari banjir sekaligus menjaga ketersediaan sumber air bersih saat musim kemarau.

Program Inkubasi Gampiri
Perjalanan Batik Valiri menuju praktik yang semakin berkelanjutan memperoleh penguatan melalui Program Inkubasi Gampiri Interaksi. Selama delapan bulan, pendampingan dilakukan untuk memperbaiki tata kelola usaha, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, memperluas akses pasar, hingga mendorong transisi penggunaan pewarna alami. Program tersebut juga melibatkan masyarakat dalam pelatihan ekstraksi warna, teknik penguncian warna berbahan alami, serta penanaman kembali pohon mangga, ketapang, dan jati sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan sumber daya.
Dampak Perkembangan Usaha
Transformasi tersebut membawa dampak nyata terhadap perkembangan usaha. Omzet Batik Valiri meningkat dari sekitar Rp10 juta menjadi Rp25 juta per bulan, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi anak-anak muda dan ibu rumah-tangga di Desa Beka. Melalui jejaring Gampiri Interaksi dan Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), Batik Valiri juga semakin dikenal sebagai cendera mata resmi dalam berbagai kunjungan nasional maupun internasional. Pengunjung dari Brasil, Amerika Serikat, Jepang, dan berbagai negara lain datang untuk mempelajari proses pembuatannya sekaligus membawa pulang karya yang sarat makna.

Kita Bertemu di Batik Valiri
Batik Valiri memperlihatkan bahwa wastra dapat menjadi ruang pertemuan antara kreativitas, pelestarian budaya, dan pemulihan lingkungan. Ketika hutan tetap lestari, pengetahuan lokal terus diwariskan, dan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi yang adil, selembar kain berubah menjadi simbol harapan. Dari Kabupaten Sigi, Batik Valiri menghadirkan pesan bahwa masa depan industri fashion Indonesia dapat dibangun melalui harmoni antara tradisi, inovasi, dan tanggung jawab terhadap alam.

