Ada banyak cara memperkenalkan Indonesia kepada dunia. Melalui kain, musik, kuliner, atau arsitektur. Tapi Omakafé memilih medium yang jauh lebih subtil: secangkir minuman.
Lewat Season 6: Roots, Omakafé membuka babak baru setelah menempati lokasi baru di area Senopati, Jakarta Selatan. Namun lokasi baru ini hanyalah bagian kecil dari cerita. Yang sesungguhnya berubah adalah cara pengalaman itu dibangun. Jika selama ini coffee omakase dikenal sebagai eksplorasi teknik seduh dan karakter biji kopi, kali ini seluruh perjalanan dirancang untuk membawa tamu menelusuri akar budaya Indonesia melalui rasa.

Tema Roots lahir dari pertanyaan sederhana: bagaimana seseorang tetap terhubung dengan tempat asalnya, meski terus bergerak melintasi kota, negara, dan budaya? Jawaban itu tidak disampaikan melalui ceramah atau narasi panjang, melainkan melalui serangkaian sajian yang menggabungkan kopi, kakao, dan matcha dalam sebuah pengalaman omakase yang utuh.
Indonesia bukan diposisikan sebagai dekorasi ataupun identitas yang ditempelkan di permukaan. Ia menjadi fondasi dari setiap keputusan kreatif. Pemilihan bahan, struktur setiap sajian, teknik penyajian, hingga cerita yang mengiringinya dibangun dari referensi budaya Nusantara yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa yang terasa modern.

Pendekatan inilah yang membedakan Omakafé dari banyak pengalaman specialty coffee lainnya. Fokusnya bukan hanya menghasilkan cita rasa yang kompleks, tetapi membangun hubungan emosional antara tamu, bahan, dan cerita yang melatarbelakanginya. Minuman berubah menjadi medium untuk menyampaikan memori, lanskap, dan identitas.
Salah satu langkah paling menarik pada musim ini adalah hadirnya matcha. Omakafé mengembangkan interpretasi yang berangkat dari karakter bahan-bahan Indonesia. Ritual, tekstur, dan pengalaman menikmati minuman hijau tetap dipertahankan, namun seluruh pendekatannya diarahkan untuk melahirkan identitas baru yang berdiri atas kekayaan Nusantara. Gagasan ini menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang belum pernah ada, melainkan membaca ulang tradisi melalui perspektif yang berbeda.

Pengalaman tersebut berlangsung dalam ruang yang sengaja dibuat sangat intim. Hanya empat kursi tersedia di area omakase, memungkinkan percakapan mengalir secara personal antara tamu dan tim di balik bar. Tidak ada kesan terburu-buru. Setiap sajian hadir dengan ritme yang mengajak tamu memperhatikan detail, aroma, tekstur, dan cerita yang menyertainya. Di luar ruang omakase, tersedia area filter coffee dan signature beverages yang memberikan cara berbeda untuk memasuki dunia Omakafé tanpa harus mengikuti keseluruhan perjalanan.
Di balik seluruh pengalaman ini berdiri Mikael Jasin, World Barista Champion 2024, bersama Georgius “Odi” Teja, World Coffee in Good Spirits Champion 2025. Namun pencapaian mereka bukan hanya soal prestasi kompetisi internasional. Yang lebih penting adalah bagaimana keduanya menggunakan disiplin riset, teknik, dan storytelling untuk membentuk bahasa baru dalam menikmati minuman.

Season 6 memperlihatkan bahwa Omakafé tidak sedang berupaya menjadi coffee bar paling eksperimental atau paling eksklusif. Yang dibangun justru sesuatu yang lebih relevan bagi lanskap hospitality Indonesia saat ini: sebuah pengalaman yang memadukan gastronomi, riset, budaya, dan desain pengalaman menjadi satu kesatuan.
Roots berbicara tentang sesuatu yang melampaui kopi. Ia mengingatkan bahwa akar bukanlah tempat untuk kembali, melainkan fondasi untuk terus bertumbuh. Melalui setiap tegukan, Omakafé menawarkan cara baru untuk memahami Indonesia—bukan sebagai sesuatu yang hanya dikenang, tetapi sebagai sumber inspirasi yang terus melahirkan kemungkinan-kemungkinan baru.


