Desainer usia milenial, Wilsen Willim, menghadirkan koleksi berjudul Algorithm: Universal Language, yang diciptakan Wilsen untuk merayakan perjalanan karir fashion yang baru berusia sedekade, sembari menancapkan level bahwa ini adalah koleksi couture pertamanya. Apa sih maksud ‘Algoritma’ di sini? Dalam konteks estetika, algoritma merujuk pada sistem, formula, atau pola terstruktur dalam menyusun kombinasi warna, tekstur, dan atmosfer visual untuk menciptakan harmoni yang ritmis. Ketika seorang desainer atau seniman menggunakan “algoritma”, mereka sedang menerapkan rumus presisi di balik keindahan yang kasat mata.

Algoritma Penyebrang ready-to-wear ke Couture
Bagi Wilsen sendiri Algoritma ini adalah sebuah gagasan yang menghubungkan sistem tenun dengan bahasa universal berupa angka. Dari sanalah seluruh koleksi bertumbuh, bukan sekadar sebagai rangkaian busana, melainkan sebagai sebuah sistem berpikir. Bergerak jauh melampaui batas ready-to-wear, menyeberang masuk ke wilayah couture, mempertemukan dekonstruksi, ketelitian konstruksi, dan narasi budaya dalam satu rancangan. Di usia belianya, ia mempertemukan nuansa mistis warisan Nusantara dengan karakter urban yang dinamis, modern, dan tajam tanpa kehilangan identitas. Pendekatan tersebut menghadirkan keseimbangan yang jarang ditemukan dalam lanskap mode Indonesia saat ini.

Penghormatan pada tradisi tailoring
Salah satu rancangan yang kuat memperlihatkan ide algoritma di benak Wilsen adalah Sebuah cropped jacket hitam dengan referensi beskap dan militer tampil tegas melalui bahu yang kokoh, garis kisi beraksen perak, serta detail frog fasteners (kancing kait) yang memberi penghormatan pada tradisi tailoring. Di bawahnya, rok ballgown berukuran dramatis dibangun dari panel-panel kulit hitam yang berpadu dengan tenun geometris bermotif belah ketupat. Sabuk kulit berukuran lebar menjadi titik temu dua volume besar tersebut sehingga keseluruhan siluet terasa monumental.

Drama Visual dan Avant-Garde
Drama visual koleksi semakin kuat melalui arahan gaya yang sinematik. Syal putih yang menjuntai menciptakan ilusi gerak yang konstan, melembutkan struktur jaket yang kokoh. Rambut yang ditata menyerupai mahkota avant-garde dipadukan dengan lace-up ankle boots kulit hitam menghasilkan sosok perempuan yang tegas, anggun, dan percaya diri. Penampilan tersebut tidak sekadar menawarkan kemewahan visual, tetapi juga membangun karakter perempuan modern yang menghormati akar tradisinya tanpa terikat oleh batas-batas konvensional.

Pengembangan Wastra
Sebagai fondasi koleksi, Wilsen kembali menggunakan benang denim daur ulang hasil pengembangan Ecotouch yang dipadukan dengan Tenun Sutra Garut, Tenun Dayak Iban dari Kapuas Hulu, Songket Jembrana Bali, serta Songket Minang dari Halaban. Keempat wastra tersebut kemudian diolah menjadi material couture yang hidup berdampingan dengan batik tulis Cirebon bermotif algoritma. Langkah ini memperlihatkan bagaimana keberlanjutan tidak lagi menjadi slogan, melainkan bagian integral dari proses kreatif yang berdampak pada pelestarian budaya sekaligus penguatan ekonomi para penenun.

Algoritma Nada
Eksperimen Wilsen tidak berhenti pada tekstil. Bersama musisi Ican Harem, motif-motif tenun dipindai menggunakan teknologi artificial intelligence untuk diterjemahkan menjadi komposisi musik. Algoritma visual berubah menjadi algoritma nada, ritme, tempo, dan lapisan suara yang mengiringi presentasi mode. Pendekatan multidisiplin ini memperlihatkan bahwa sebuah kain dapat dibaca, didengar, sekaligus dirasakan sebagai pengalaman artistik yang utuh, memperluas makna fashion show menjadi sebuah pertunjukan budaya kontemporer.

Misteri dan Inspirasi Rebel
Sebanyak 60 rancangan busana pria dan wanita tampil dengan palet yang terinspirasi dari denim daur ulang, mulai dari biru, hitam, putih, abu, hingga biru elektrik yang diperkaya aksen emas, perak, dan perunggu. Kemeja, jaket, rok, celana, korset, apron, bib, serta kain jarik hadir berdampingan dengan harness kulit, biker jacket, dan sabuk berkarakter rebel. Kontras antara wastra yang elegan dengan elemen punk justru melahirkan identitas baru yang relevan bagi generasi muda, tetapi juga misterius.

Reinventing Tenun: Journey to Algorithm
Koleksi ini juga menjadi ruang kolaborasi lintas disiplin. Aksesori logam dari Subeng Klasik, karya kulit dari Peau, hingga alas kaki rancangan Bocorocco menyempurnakan keseluruhan presentasi. Setelah pertunjukan utama, publik memperoleh kesempatan menikmati detail setiap karya melalui sesi Re-See di Rumah Heritage Menteng by Plataran. Perjalanan kreatif Wilsen menelusuri empat sentra tenun Indonesia pun didokumentasikan dalam film Reinventing Tenun: Journey to Algorithm, yang memperlihatkan bahwa proses kreatif sama pentingnya dengan hasil akhirnya.

Masa Depan Wilsen Willim
“Algorithm: Universal Language” menjadi penanda penting dalam perjalanan Wilsen Willim sebagai desainer yang terus bergerak melampaui pakem. Berbekal latar belakang seni murni, rekam jejak sebagai pemenang Harper’s Bazaar Asia NewGen Fashion Awards, serta kolaborasi panjang bersama berbagai seniman dan komunitas wastra Indonesia, Wilsen menunjukkan bahwa masa depan couture Indonesia tidak harus meniru pusat mode dunia. Ia dapat tumbuh dari tenun, dibangun melalui teknologi, lalu berbicara dalam bahasa yang dipahami siapa pun: bahasa kreativitas yang universal.











FOTO: REGA ARIE

