Jakarta sering kali mengejutkan lidahnya sendiri, tapi malam itu di Bar Luca, kejutan datang dalam bentuk asap tipis, bumbu pekat, dan bara arang yang membawa napas Canggu. Jumat malam, 12 September 2025, Bar Luca Jakarta menjadi panggung di mana bara dari Bali berpindah ke ibu kota. Malam itu, Meimei Southeast Asian Barbecue hadir lewat pop-up dinner eksklusif, membawa semangat arang, bumbu, dan kreativitas yang lahir di Canggu.

Acara ini terasa intim sekaligus meriah. Undangan makan malam ini seakan membuka pintu menuju ruang rahasia, di mana makanan bukan sekadar hidangan, tetapi cerita. Dan sang maestro di balik malam ini, Chef Yudha Permana, hadir dengan filosofi yang sudah ia kembangkan di Bali: memadukan kesederhanaan dengan kedalaman rasa, selalu memberi ruang bagi bahan lokal untuk berbicara.

Malam itu bukan sekadar kolaborasi. Ia adalah pernyataan bahwa kuliner Bali—dengan akar tradisi dan keberanian bereksperimen—punya tempat di Jakarta.
Meimei Bali: Jiwa Asia Tenggara dalam Bara
Di Canggu yang selalu hidup dengan ritme ombak dan musik pantai, muncul sebuah destinasi kuliner baru yang menyalakan percakapan: Meimei Southeast Asian Barbecue. Diluncurkan pada awal 2025 oleh tim visioner di balik Pulau Projects, Meimei bukan sekadar restoran, melainkan sebuah laboratorium rasa di mana arang menjadi bahasa utama.

Di bawah arahan Chef Yudha Permana, dapur Meimei menafsirkan ulang resep-resep klasik Asia Tenggara dengan lensa modern. Filosofinya jelas: rasa harus tajam, bahan harus segar, dan setiap hidangan wajib bercerita. Hasilnya adalah menu yang memikat indera dan imajinasi sekaligus. Ada Pepes Mackerel and Roe dalam balutan daun pisang—sebuah ode pada teknik lama, tapi dihidangkan dengan presentasi kontemporer. Ada juga Handpicked Papuan Crab Opor on Toast, yang menabrakkan kekayaan rempah Nusantara dengan gaya canapés Eropa. Atau Angus Beef Flat Iron dengan saus kacang, yang terasa seperti pesta rakyat dalam balutan elegan.



Tidak berhenti di makanan, Meimei juga memikat lewat bar. Co-owner sekaligus Beverage Director Windu Tenaya merancang koktail yang sama beraninya dengan dapur. Dari Yuzu Pandan (campuran shochu Bali, elderflower, melon pandan, yuzu) hingga Watermelon Chili (perpaduan tequila, jalapeño, semangka, calamansi, garam daun jeruk purut), setiap gelas adalah ekspresi Asia Tenggara dengan twist global. Koktail ini tidak hanya sekadar pelengkap; mereka adalah babak kedua dari pengalaman kuliner Meimei, sama pentingnya dengan makanan yang keluar dari dapur.



Yang membuat Meimei menonjol adalah caranya memadukan masa lalu dengan masa kini. Interiornya mengusung elemen tropis dan sentuhan budaya lokal, tapi selalu dengan kilau modern. Lokasinya di Jalan Pantai Batu Bolong, Canggu, menjadikannya persinggahan alami bagi komunitas internasional yang mencari rasa autentik sekaligus inovatif. Di sini, makan bukan hanya soal kenyang—ia adalah perjalanan multisensori yang menyalakan nostalgia sekaligus rasa ingin tahu.
Yuki Bali: Fondasi Filosofi Rasa
Sebelum ada Meimei, ada Yuki—restoran izakaya modern yang kini punya cabang di Canggu dan Uluwatu. Di sinilah Chef Yudha menemukan bahasa kulinernya: sederhana, berbasis bahan lokal, tapi berani melampaui batas.

Yuki menghadirkan menu yang memadukan Bali dengan Jepang, dari sushi nabati hingga wood-fired specialties. Di sini pula lahir kolaborasi dengan chef internasional, dari Adam Liston hingga Ross Magnaye, menjadikan Yuki bukan hanya destinasi makan, tapi ruang bertukar ide.
Bagi Yudha, Yuki adalah fondasi. Dari sana ia membawa semangat yang sama ke Meimei, dan malam ini, ke Jakarta.
Bar Luca Jakarta: Panggung Kosmopolitan
Dengan atmosfernya yang chic namun tetap ramah, Bar Luca Jakarta terasa seperti rumah kedua bagi bara yang dibawa dari Bali. Dindingnya yang elegan, pencahayaan temaram, dan bar yang biasanya menjadi pusat perhatian, malam itu berpindah peran menjadi panggung bagi Meimei Southeast Asian Barbecue. Begitu pintu dibuka, aroma arang dan bumbu tropis menyatu dengan denting gelas koktail, menciptakan suasana yang seolah menghapus jarak ribuan kilometer antara Canggu dan ibu kota.

Jakarta, dengan denyut kosmopolitannya, menerima kehadiran Meimei dengan tangan terbuka. Pop-up dinner ini bukan sekadar kolaborasi satu malam, melainkan sebuah pernyataan bahwa kuliner bisa melampaui geografi dan budaya. Malam itu, Bar Luca membuktikan dirinya bukan hanya tuan rumah, tetapi bagian dari cerita Pulau Projects—tempat di mana api dari Bali menemukan audiens baru, dan di mana makan malam berubah menjadi pengalaman yang melekat di ingatan.
Menyusuri Hidangan Malam Itu
Pop-up dinner di Bar Luca Jakarta dimulai dengan “Pepes” Mackerel & Roe dalam balutan daun pisang, aromanya smoky dan laut, dipadukan dengan rice crackers renyah yang memberi dimensi tekstur.

Lalu hadir Pomelo Salad: perpaduan calamari bakar, ebi, dan citrus segar. Rasanya ringan, segar, dengan ledakan rasa tropis yang menyegarkan sebelum masuk ke hidangan berat bumbu.

Grilled Tiger Prawn kemudian tampil menawan, dagingnya tebal dan manis, disiram saus kepala udang yang intens umami. Hidangan ini sederhana namun penuh karakter, menghadirkan rasa laut dengan sentuhan api.

Untuk sejenak, meja dihiasi Wok Stir-Fry Vegetables: bok choy dan brokoli ditumis dengan bawang putih. Teksturnya masih crunchy, rasanya bersih dan ringan, seolah memberi jeda di tengah arus bumbu dan daging.

Lalu hadir kejutan: Grilled Octopus yang empuk sempurna, berpadu kalio berbumbu pekat, serta morel yang diisi krim manchego. Paduan smoky, creamy, dan earthy membuatnya jadi salah satu hidangan paling kompleks malam itu.

Kemudian Clam Paella mengambil alih panggung. Scallops dengan XO butter, lapchiong yang gurih, dan relish jahe daun bawang menghadirkan percampuran rasa Asia dan Mediterania dalam satu piring penuh kejutan.

Tak ketinggalan Nduja Crab Fried Rice—nasi goreng merah dengan kepiting manis, sedikit pedas, gurih, dan smoky. Comfort food dengan sentuhan global yang sukses mencuri perhatian.

Penutup malam itu menghadirkan dua wajah manis. Coconut Berry Granita, dengan blackberry Noorys, krim kelapa, dan coconut crisp, terasa ringan dan tropis. Sedangkan Sticky Ginger Pudding dengan tamarind caramel dan es krim vanilla memberi akhir yang hangat, manis, dan menenangkan.


Lebih dari Sekadar Makan Malam
Apa yang dibawa Pulau Projects malam itu lebih besar dari sekadar hidangan. Dari Yuki yang membangun pondasi izakaya modern di Bali, Meimei yang menyalakan bara Asia Tenggara, hingga Bar Luca Jakarta yang jadi panggung kosmopolitan—semua adalah bagian dari narasi besar tentang bagaimana kuliner bisa menjadi jembatan.
Bagi tamu yang hadir malam itu, pengalaman ini adalah perjalanan singkat: dari pepes sederhana hingga pudding penuh kehangatan. Dan mungkin, itulah kekuatan kuliner terbaik—mengubah makan malam biasa menjadi cerita yang ingin kita ulangi lagi dan lagi.

