Jakarta seakan tak pernah kehabisan energi. Di tengah hiruk pikuk kota, selalu ada ruang baru untuk dijelajahi, terutama di dunia kuliner. Salah satunya datang dari Pantja Hospitality Group, sebuah nama yang kini banyak dibicarakan bukan hanya karena makanannya, tapi juga karena caranya menghadirkan pengalaman menyeluruh.
Dari Persahabatan Menjadi Visi

Pantja Hospitality Group lahir dari persahabatan Kabir Suharan dan Rapha Menchaca. Berawal dari kecintaan mereka terhadap makanan dan minuman, grup ini berkembang menjadi salah satu ikon hospitality di Jakarta Selatan.
Pantja berdiri di atas lima pilar yaitu makanan, minuman, musik, hospitality, dan desain. Filosofinya sederhana tapi kuat yaitu hands-on philosophy, di mana setiap detail sekecil apa pun tak pernah terlewat. Mulai dari pemilihan bahan segar, teknik memasak dengan api kayu bakar, hingga kurasi musik yang mengiringi setiap hidangan, semuanya diperhatikan dengan saksama.

Jika Pantja di Senopati kini menjadi tolak ukur fine dining dan cocktail bar berkelas di Jakarta, maka Pantja Izakaya hadir di SCBD dengan energi berbeda. Interior kayu natural berpadu dengan sentuhan modern, ditemani alunan musik pop Jepang era 80-an, menciptakan atmosfer seolah berada di Tokyo, namun tetap dengan denyut kehidupan Jakarta.
Dua Dunia Rasa: Pantja dan Pantja Izakaya


Dalam satu grup yang sama, Pantja dan Pantja Izakaya menghadirkan dua karakter kuliner yang berbeda tapi saling melengkapi. Mencoba hidangan dari keduanya seperti menyelami dua dunia kuliner dalam satu perjalanan, satu penuh kemewahan sederhana, satunya lagi penuh kehangatan.

Menu di Pantja dirancang untuk menyajikan pengalaman kuliner yang elegan.
- Cocktails: Sakura Stone Sour yang floral dan lembut, Mex Martini dengan karakter agave, hingga Limo Sour non-alkohol yang segar berkat teh putih dan jeruk.
- Raw Bar: Tai Truffle Sashimi dengan yuzu ponzu yang halus, serta Sashimi Tacos yang playful dengan tekstur berbeda.
- Chef’s Counter: Campanelle pasta segar, Black Cod dengan yuzu miso yang lembut, hingga puncaknya Stone Axe Fullblood Wagyu Ribeye.
- Main Dining: Truffle Sliders beraroma jamur dan PFC (Pantja Fried Chicken) dengan saus ranch pedas habanero.
- Dessert: Strawberry Shortcake yang ringan dan manis sebagai penutup.
Sementara, Pantja Izakaya menafsirkan ulang izakaya Jepang dengan sentuhan khas Pantja. Suasana lebih santai, menu lebih playful, tapi tetap berakar pada presisi rasa.

- Cocktails: Shisho Gimlet yang segar, Ume Tonic dengan harmoni sake dan peach, serta Yuzu Lemonade non-alkohol yang ringan.
- Raw Bar: Oyster dengan ponzu dan wasabi, serta Shima Aji sashimi dengan jalapeño dressing.
- Chef’s Counter: Tsukune meatball dengan kuning telur, Gyoza dengan chili oil khas bonito, hingga Maguro Kama Donabe yang kaya rasa.
- Main Dining: Gyukatsu Sando dengan shokupan lembut dan tonkatsu sauce umami.
- Dessert: Matcha Dessert yang memadukan strawberry, warabi mochi, dan miso crumble.
Pantja Izakaya lebih intimate, cocok untuk hangout bersama teman atau sekadar melepas penat dengan comfort food penuh karakter.
Lebih dari Makan, Ini Tentang Hidup
Pantja Hospitality Group tidak hanya membicarakan makanan, tapi juga cara hidup. Lewat website resminya, pantjahospitality.id, pengalaman digital bisa dirasakan bahkan sebelum tamu melangkah ke restoran.
Visinya sederhana, menciptakan ruang bagi orang untuk berhenti sejenak di tengah sibuknya Jakarta, merasakan makanan, musik, desain, dan keramahan dalam satu kesatuan. bukan hanya makan, tapi juga membangun kenangan.
Pantja Hospitality akan membangun ekosistem gaya hidup kuliner yang utuh. Dari Pantja Steakhouse yang akan hadir permanen pada 2026, Pantja Deli dengan cita rasa klasik ala New York dan West Coast lewat pop-up, hingga Pantja Concierge yang menawarkan pengalaman bespoke private dining dan catering, semua konsep ini lahir dari filosofi yang sama untuk menghadirkan cerita melalui makanan, minuman, dan pengalaman.
Dalam setiap detailnya, Pantja Hospitality Group ingin berbagi kisah itu dengan setiap tamu, menjadikan setiap kunjungan bukan sekadar santap, melainkan sebuah kenangan.

