Bagaimana meramu identitas Nusantara agar pantas dipandang dunia? Pertanyaan ini seolah menemukan jawabannya lewat koleksi terbaru KRATON karya Auguste Soesastro di Plaza Indonesia Fashion Week 2025. Dengan sentuhan quiet luxury, kemewahan yang berbisik lembut tanpa perlu logo mencolok, KRATON tampil sebagai representasi modern dari Indonesia yang matang. Kualitas material, potongan presisi, serta detail subtil menjadi bahasa visual yang elegan sekaligus universal.

Archipelago Crusie yang berlabuh di Bali
Koleksi bertajuk Archipelago Cruise membawa kita menelusuri benang merah dari Bali ke dunia. Lima belas tahun lalu, tepatnya Januari 2010 di New York, Auguste pernah mempersembahkan tema ini dalam koleksi runway. Kini, ia kembali menggali arsip tersebut, namun dengan perspektif berbeda, menyoroti dinamika sosial dan kultural Pulau Dewata yang terus bergerak. Hasilnya adalah paduan kontras antara western resort wear dan elemen tradisional Bali, dua dunia yang berseberangan tetapi bisa ia taklukkan untuk berjalan seiring.


KRATON
Dalam Archipelago Cruise, KRATON memperlihatkan busana siang hingga malam yang elegan, sekaligus pakaian formal tropis yang serba canggih. Silk suits, linen parkas, hingga sarung Bali tenun tangan hadir dalam kesederhanaan garis siluet reductionist khas KRATON. Fokus pada tailoring yang tajam melahirkan koleksi yang tak sekadar mantap, melainkan juga menjadi pernyataan kultural: reclaiming dignity di tengah arus globalisasi barat.

Perjalanan Auguste Soesastro
Auguste tak pernah sekadar mencipta lalu berhenti. Ia kembali, mengolah ulang, menyempurnakan gagasan yang pernah disentuhnya. Baginya, riset dalam satu musim hanyalah goresan permukaan; butuh bertahun-tahun eksperimen untuk benar-benar memahami, bahkan mungkin seumur hidup. Maka, setiap koleksi KRATON bukanlah titik akhir, melainkan kelanjutan dari perjalanan menuju kesempurnaan yang mungkin tak pernah terjangkau.

Mode Indonesia untuk global
KRATON bersama Auguste Soesastro telah membuktikan bahwa mode Indonesia bisa hadir di ranah global tanpa kehilangan akar. Nusantara tampil bukan sekadar eksotik, melainkan sebagai bahasa universal yang setara—dengan tenun, sarung, dan filosofi hidupnya. Inilah cara Auguste menjawab dunia: bahwa Indonesia tidak hanya siap tampil, tetapi juga siap diperhitungkan.





