Di tengah perbincangan mengenai lingkungan yang sering dipenuhi narasi krisis dan drama kehidupan, Han Chandra memilih jalur yang lebih sunyi. Seniman asal Bandung ini tidak berbicara tentang bencana, melainkan tentang hubungan yang lebih intim, antara manusia dan alam. Ia menghadirkan semesta visual yang tenang, tempat di mana batas antara tubuh, tanah, ingatan, dan kehidupan, melebur jadi puitisasi alam, betapa jiwa yang tulus terasa kecil dan innocent.

Bayang, Acrylic on Canvas 60 x 80 cm
Bunga dan Bintang Semesta
Di dalam semesta yang ia ciptakan, manusia tidak ditempatkan sebagai penguasa alam ataupun korban dari perubahan lingkungan. Sebaliknya, manusia menjadi bunga dan bintangnya alam hijau. Tampak luar alam seperti mencekam karena ada sesosok anak yang terlepas di hutan, rambutnya coklat lumpur menggemaskan, namun tidak ada rasa kekhawatiran di mimiknya, ia seperti berteman dengan pinus, hujan, dan lumpur hidup. Sosok anak tersebut tampak ‘slow living‘ dalam harmoni. Kita yang mempertanyakan: “Mana orangtuanya?” Tapi Han seperti menenangkan semua orang, bahwa anak tersebut di tangan alam, orangtua yang sebenarnya.

Dalam Susah dan Senang #2, Acrylic on Canvas 30 x 40 cm
Haruu adalah Aku
Mata anak tersebut terpejam, mulut seperti kode bahwa ada sesuatu yang sedang bermain di alam pikirannya. Tubuhnya ditumbuhi lumut, semacam isyarat kerentanan dan kerinduan. Sang anak adalah figur sentral, ia bernama Haruu, karakter naif yang terus muncul dalam perjalanan kuas Han Chandra. Haruu bukan sekadar tokoh fiktif, ia semacam alter ego, representasi pengalaman hidup yang sangat personal. Han sendiri senang menghabiskan waktu dengan berkebun di lahan keluarganya di kawasan Pengalengan, Jawa Barat. Han mentransfer pengalaman hidupnya bersama alam dan kesendirian menjadi bahasa visual yang mudah dirasakan banyak orang.

Sang Eksistensialis, Acrylic on Canvas 40 x 60 cm
Haruu dan Selimut Gelap
Haruu menjadi wadah bagi emosi yang sering kali sulit diucapkan. Ia memainkan rasa sepi, ketakutan, keberanian yang naif, hingga batin yang kerap bertransformasi. Hutan menjadi tempatnya berlindung, semesta yang menghadirkan ketenangan. Ketika gelap datang, sementara adalah selimut, pengawal bermain yang memungkinkan seseorang berdamai dengan dirinya sendiri, pemusnah ego. Haruu juga berkemampuan menggandakan diri, menjadi lima Haruu, bermain di hutan layaknya gambaran seniman Henri Matisse, hilanglah rasa sepi.

Bersatu, Acrylic on Canvas 100 x 80 cm

Tunas, Acrylic on Canvas 60 x 80 cm
Haruu lahir dari bumi
Salah satu karya yang paling kuat menampilkan narasi Han adalah karya berjudul “Tunas”, komposisi karya ini terbagi dua ruang. Bagian atas menampilkan langit biru yang luas sebagai simbol kemungkinan dan kebebasan masa depan. Bagian bawah, adalah bumi, tempat munculnya tunas yang mengakar di kepala Haruu, sebuah pengandaian yang dalam, bahwa semua ide sejatinya tumbuh dari akar pikiran. Kontras langit dan bumi bersama pikiran Haruu ini menciptakan dialog yang mendalam antara harapan dan proses, antara pertumbuhan dan perjalanan optimis untuk mencapai tujuan.

Dalam Susah dan Senang, PLA-Acrylic
Mata Haruu Terpejam
Figur anak dengan mata terpejam menghadirkan kesan ketenangan yang nyaris meditatif. Dari kepalanya tumbuh tunas hijau yang merekah, menjadi simbol kesadaran baru yang lahir dari dalam diri. Simbolisme ini terasa sederhana, namun justru karena kesederhanaannya pesan yang disampaikan menjadi begitu gamblang. Han Chandra mengajak penonton memahami bahwa pertumbuhan sejati sering kali dimulai dari ruang-ruang yang tidak terlihat oleh orang lain.

Lampu Dalam Susah dan Senang, Mix Media, Acrylic, PLA 2026
Haruu terbawa awan dan hujan
Banyak yang suka dengan Haruu, bukan hanya hutan dan telaga, tapi juga awan dan hujan. Pada patung berjudul “Lampu Dalam Susah dan Senang”, Haruu berjalan-jalan ke langit, dibawa gumpal-gumpal awan yang padat dengan cahaya pra petir, serta riangnya bulir-bulir hujan. Haruu bermantel pohon pinus. Untuk melihat karya ini, pengunjung harus mendongak ke atas, Haruu bergelayut mungil di sana, wajahnya tenang dan baik. Hati kita berteriak: “Haruu, jangan lama-lama, bumi menanti!” Pameran tunggal Han Chandra ini berjudul “I AM FOREST”, berlangsung di Artsphere, di Dhamawangsa Square, Jakarta Selatan, mulai tanggal 23 Mei hingga 23 Junii 2026.

Kotak Musik Cahyawulan, Mix Media, Wood, PLA


