Perjalanan musim dingin saya di Jepang masih belum berakhir. Setelah saya meninggalkan KAI Alps di Nagano, saya melanjutkan perjalanan menuju Prefecture Gifu, tepatnya ke Okuhida-Onsengo, sebuah desa onsen yang terkenal di Jepang yang berada di ketinggian sekitar 1.200 meter, dikelilingi pegunungan Northern Alps yang indah.
Kami berangkat menggunakan shuttle bus dari Nagano menuju Gifu. Butuh waktu kurang lebih dua jam untuk tiba di KAI Okuhida dari KAI Alps. Bila Anda berangkat dari Tokyo, Anda bisa menggunakan Bus Hida Takayama Line dari Stasiun Shinjuku menuju Hirayu Bus Terminal. Butuh waktu sekitar 5 jam dengan tiket seharga ¥6.200. Dari Hirayu Bus Terminal, Anda hanya perlu berjalan kaki beberapa menit menuju KAI Okuhida.

Walau udara terasa dingin, siang itu cukup cerah, warna biru di langit tampak begitu terang, namun seluruh kota tertutup salju tebal. Informasi yang saya dengar dari staf resort, salju turun tiga hari sebelumnya. Tiga hari, dan tumpukan saljunya masih utuh. Atap restoran kecil, café mungil, papan kayu, bahkan bangku-bangku di pinggir jalan semuanya terbungkus salju. Kota ini tidak ramai, tapi terasa hidup. Ada aroma kaldu hangat dari dapur yang tak terlihat. Ada percakapan pelan yang terdengar samar di udara yang dingin.
Baru beberapa menit saya melangkahkan kaki di kota ini, saya pun langsung jatuh cinta.
Ryokan Baru dengan Jiwa Lama
KAI Okuhida resmi dibuka pada September 2024. Namun, begitu saya melangkah masuk ke area resort, sekilas saya seperti melihat sebuah bangunan yang sudah lama berdiri dan menyerap banyak cerita. Mungkin karena desain bangunannya yang terinspirasi dari alam sekitar, dengan sentuhan nuansa minimalis yang didominasi warna netral, membuatnya menyatu dengan bangunan-bangunan lama yang berdiri di sekitarnya.
Ketika pintu lobby terbuka, saya merasakan nuansa yang sama sekali berbeda dengan eksteriornya. Dari pintu masuk hingga meja resepsionis, tampak jalur serat kayu yang tersusun menyerupai aliran sungai. Meja resepsionis terbuat dari batu kokoh dengan motif bergelombang seperti siluet pegunungan. Di atasnya tergantung ornamen kayu menyerupai air terjun dan hujan salju. Dinding gelap dihiasi titik-titik cahaya kecil, seperti langit malam yang penuh bintang. Saya merasa ruang lobby ini ditata sedemikian rupa hingga tampak seperti sebuah karya seni yang indah.

Kayu dan batu mendominasi ruang ini. Menghadirkan suasana yang hangat, tenang, sekaligus mewah tanpa terasa berlebihan. Di sudut lobby, terdapat toko kecil yang menjual merchandise, camilan lokal, buku, hingga pernak-pernik khas Hida. Dari Main Building inilah akses menuju public onsen dan onsen lounge berada.
Resort ini terdiri dari empat area yang dipisahkan oleh jalanan dan dibatasi oleh pagar kayu yang kokoh. Main Building merupakan Gedung Utama, tempat lobby resort ini dan juga Onsen berada. East Building menjadi lokasi kamar dan dining area, sementara West Building dikhususkan untuk kamar dengan private onsen. Lalu Outbuilding merupakan ruang aktivitas yang terasa seperti dunia kecil tersendiri, lengkap dengan travel library, ruang workshop, camilan hangat, courtyard footbath, dan Kamakura Snow Hut.

Lorong-lorong kecil yang menghubungkan tiap bangunan tersebut menciptakan sensasi berjalan di desa onsen tradisional. Pada malam hari, lampu-lampu temaram menyala di antara kayu dan batu, menghadirkan suasana yang sunyi, dramatis, sekaligus indah.
Kamar Menghadap Gunung dan Pepohonan yang Diselimuti Salju
Saya menginap di Japanese Style Room dengan Outdoor Bath. Ruangannya luas, dengan sentuhan kayu alami yang terasa hangat. Headboard dengan lekukan kayu terinspirasi teknik mageki, yaitu teknik membengkokkan kayu khas Hida. Pada salah satu dinding kamar dihiasi lacquerware Hida-shunkei dengan warna merah kecokelatan yang langsung menarik perhatian siapa pun yang masuk ke kamar ini. Di kamar ini juga terdapat beberapa kursi kayu melengkung buatan lokal yang terasa halus ketika disentuh.




Namun pusat perhatian tetap pada private outdoor bath dengan daybed di sampingnya. Tepat di depannya, jendela besar membingkai pegunungan Hida yang tertutup salju.
Sore itu, saya menyempatkan diri untuk berendam sambal memerhatikan sinar matahari yang mulai meredup dari balik jendela kayu. Uap air hangat bertemu udara dingin. Nafas pun mulai melambat, dan pikiran menjadi lebih tenang. Di kejauhan, pegunungan mulai menghilang di balik gelapnya malam dan suasana mulai terasa sunyi, seolah tak terganggu oleh waktu.
Hida Craftsman Experience, Belajar Sabar Lewat Kayu
Setelah merasa lebih segar, saya pun turun dari kamar menuju ke Outbuilding untuk mengikuti Hida Craftsman Experience. Kami diajak mencoba teknik membengkokkan kayu yang telah diwariskan lebih dari seribu tahun. Kesempatan langka ini tentunya tidak akan saya lewatkan.
Di meja tempat saya melakukan aktivitas telah tersedia berbagai perlengkapan yang dibutuhkan. Kami akan membengkokkan sebatang kayu pipih yang akan dikaitkan ke furoshiki untuk menjadi handle tas. Untuk membengkokkan kayu pipih tersebut, kami perlu memanaskannya di dalam air hangat hingga lentur, lalu perlahan dibentuk mengikuti cetakan. Terlihat mudah saat melihat instruktur memperagakannya. Namun ketika saya memegang kayu itu sendiri, saya sadar teknik ini menuntut kesabaran dan ketekunan. Terlalu cepat, kayu bisa retak. Terlalu keras, bentuknya bisa rusak.

Handle kayu yang sudah mulai melengkung akhirnya disematkan ke sebuah cetakan penahan, lalu kemudian dikeringkan menggunakan oven khusus. Setelah kering sempurna, handle kayu tersebut kemudian dipadukan dengan kain furoshiki khas KAI. Melihat hasilnya membuat saya seperti bangga terhadap kerajinan yang saya buat sendiri. Bukan hanya karena hasilnya terlihat cantik, tetapi karena saya merasa ikut menghidupkan sejarah Hida.
Dua Malam yang Sarat Rasa
Makan malam pertama, kami disajikan Hida Beef Miso Sukiyaki sebagai hidangan utama. Akhirnya saya bisa merasakan daging sapi Hida yang terkenal itu langsung di tempat asalnya. Hida beef yang lembut itu hampir meleleh di lidah. Selain itu, kami juga dihidangkan seasonal platter yang terdiri dari beberapa makanan musiman yang tersusun seperti karya seni kecil dan penuh warna. Sebagai penutup, roasted marshmallow dengan mitarashi soy syrup memberi sentuhan hangat yang sempurna.

Hidangan pada malam kedua terasa lebih kompleks. Grilled sesame tofu dengan sea urchin membuka dengan rasa lembut yang kaya. Moryo-style hot pot dengan daging bebek yang lembut memberi keseimbangan rasa yang nikmat dan hangat. Black sesame ramisu sebagai penutup terasa unik dan tak terduga di lidah, namun memberikan rasa manis yang pas untuk menutup perjalanan rasa malam itu.
Sarapan di KAI Okuhida tak kalah menarik. Rasanya bukan sekadar makan pagi, namun lebih seperti ritual kecil untuk menyambut hari. Semua hidangan dibuat dari bahan-bahan lokal yang berasal dari wilayah Pegunungan Gifu. Sarapan di hari kedua menghadirkan hidangan lokal berupa miso pot hangat, rolled omelet, grilled fish, hingga ginger simmered beef. Memberikan rasa hangat yang perlahan menyebar di tubuh, seolah menjadi energi pertama untuk memulai hari di tengah udara pegunungan yang dingin.

Hari ketiga, saya menikmati Sutate soup khas Shirakawa dan grilled cod fish yang dimasak hingga permukaannya sedikit keemasan, menghadirkan aroma panggangan yang menggugah selera. Daging ikan yang lembut dan juicy berpadu sempurna dengan kuah Sutate yang hangat, sebuah sup tradisional dari wilayah Shirakawa yang kaya rasa dan dibuat dari bahan-bahan sederhana khas pegunungan.
Onsen yang Memberikan Ketenangan dan Beragam Manfaat
Sebelum bermunculan tempat-tempat pemandian air panas di area ini, Hirayu Onsen adalah yang terbesar dan tertua. Konon, tempat ini ditemukan setelah seorang prajurit melihat seekor monyet putih berendam untuk menyembuhkan luka.
Airnya kaya mineral. Bicarbonate yang terkandung di dalamnya membantu membersihkan dan menghaluskan kulit. Kandungan garam menciptakan lapisan hangat sehingga tubuh tidak mudah kedinginan setelah mandi.




Di KAI Okuhida tersedia banyak pilihan untuk menikmati manfaat daro mata air panas ini, dari mulai private bath, indoor bath, outdoor bath, dan courtyard footbath. Masing-masing memberikan sensasi yang berbeda-beda. Tentunya saya mencoba semuanya. Namun tetap saja, momen paling intim adalah berendam sendirian di private bath yang berada di kamar saya, ditemani pegunungan dan suara angin musim dingin yang menenangkan.
Day Trip ke Shirakawa-go
Salah satu aktivitas yang ditawarkan KAI Okuhida adalah day trip ke Shirakawa-go, sebuah desa tradisional bersejarah di Prefektur Gifu, yang ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO sejak 1995. Desa ini terkenal dengan atapnya yang terbuat dari jerami dengan kemiringan curam bergaya Gassho-zukuri. Shirakawa-go memang dikenal indah dan menakjubkan pada musim dingin. Karena itulah aktivitas ini hanya berlaku bagi tamu yang berkunjung dan menginap di KAI Okuhida pada musim dingin saja.

Anda dapat mendaftarkan diri untuk mengikuti tour day trip ke Shirakawa-go menggunakan Shuttle Bus gratis yang disediakan KAI Okuhida bagi tamu yang menginap. Karena tempat duduknya terbatas, jadi Anda perlu memesan aktivitas ini jauh hari sebelum kedatangan Anda.
Perjalanan dari KAI Okuhida menuju Shirakawa-go menempuh waktu sekitar dua jam. Bus akan berhenti di rest area sebanyak dua kali. Tak terasa, saya sudah tiba di sebuah desa yang selama ini hanya bisa saya lihat dari kartu pos atau wallpaper computer. Bus akan berhenti di area parkir, dan Anda akan diberiwaktu selama tiga jam untuk menjelajahi Shirakawa-go.
Namun sayangnya pada saat itu salju tidak setebal yang saya bayangkan. Lanskapnya tetap indah, tapi tidak se-magical foto atau video orang di social media. Ada sedikit rasa kecewa, tentu saja. Tapi mungkin justru itu yang membuat pengalaman ini terasa nyata. Tidak semuanya harus dramatis untuk menjadi bermakna.
Kamakura Snow Hut, Dunia Kecil di Tengah Hamparan Salju Putih
Sore hari setelah kembali dari Shirakawa-go, saya mencoba masuk ke Kamakura Snow Hut di courtyard yang berada di area Outbuilding. Kubah salju kecil itu berdiri sederhana, hampir seperti igloo tradisional. Sejak kedatangan saya di KAI Okuhida, Snow Hut ini memang menarik perhatian siapa pun yang lewat di depannya.
Kamakura Snow Hut diperuntukkan bagi tamu KAI Okuhida yang ingin mencoba pengalaman lokal yang unik. Anda perlu melakukan reservasi terlebih dahulu jika ingin mencoba pengalaman ini. Di dalam snow hut ini terdapat Kotatsu, atau meja rendah khas Jepang yang dilengkapi pemanas elektrik di bawahnya dan ditutupi selimut tebal untuk menahan panas, membuat kaki Anda di bawah meja terasa hangat dan nyaman. Staf resort juga menyediakan makanan kecil dan kopi. Tempat ini memang cocok buat Anda yang ingin menghabiskan waktu romantis bersama pasangan. Apalagi ketika malam tiba, cahaya kuning dari lampu pijar yang hangat memberikan tampilan yang indah di dalam dan sekitar snow hut.


Saat berada di dalam, saya merasa suara dunia luar seperti meredam. Walau dingin tetap terasa, namun ada sensasi intim yang sulit dijelaskan. Duduk di dalam ruang salju itu membuat saya merasa seperti berada di dunia kecil yang terpisah dari segalanya. Hanya ada saya, napas yang terlihat seperti asap tipis, dan keheningan musim dingin.
Oil Blending Workshop, Aroma yang Menjadi Kenangan
Pagi terakhir di KAI Okuhida, saya mengikuti aktivitas Oil Blending Workshop di Outbuilding. Kami diajak untuk mencampur essential oil yang diekstraksi dari kayu Hida, serta memilih aroma yang paling sesuai dengan selera dan perasaan kita pada saat itu.
Saya memilih aroma yang hangat dan woody, dengan sedikit sentuhan manis. Prosesnya sederhana, namun terasa personal. Seolah saya sedang merangkum perjalanan tiga hari ke dalam botol kecil.
Botol itu kini saya simpan. Setiap kali saya membukanya, aroma kayu hangat itu membawa saya kembali ke Okuhida.

Ketika akhirnya saya meninggalkan KAI Okuhida, saya sadar perjalanan ini bukan tentang salju paling tebal atau foto paling sempurna. Perjalanan ini justru tentang momen-momen kecil yang perlahan tinggal dalam ingatan.
Tentang pagi yang dimulai dengan semangkuk sup hangat. Tentang langkah pelan di lorong kayu yang sunyi. Tentang uap onsen yang naik perlahan ke udara dingin pegunungan.
KAI Okuhida tidak mencoba memukau dengan cara yang berlebihan. Kita justru diajak untuk melambat, untuk benar-benar merasakan tempat yang kita datangi. Mungkin itulah kemewahan yang sesungguhnya.
Sebuah perjalanan yang tidak hanya dilihat, tetapi benar-benar dirasakan.


