Yang menarik dari Ria Miranda adalah bagaimana ia terus berupaya melampaui stereotip desain modestwear tanpa kehilangan esensi modesty. Di tangannya, modest fashion selalu progressive, tempat bereksperimen, menempatkan modesty bukan sebagai batas, tetapi sebagai kanvas bagi desain kontemporer. Kreatifitas tersebut kembali ia hadirkan dalam koleksi berjudul ‘JUXTAPOSED’, di ajang The Langham Fashion Soirée 2025, di hotel The Langham, Jakarta.

Modestwear berestetika kontemporer
Ria terus mendefinisikan ulang modestwear sebagai ekspresi personal yang modern dan berestetika tinggi. Lewat siluet arsitektural, soft tailoring, serta permainan layer dan volume, ia menghadirkan rancangan yang seirama dengan tren global yang tengah mengeksplorasi proporsi dan bentuk-bentuk unik. Elemen-elemen outer dihadirkan dalam berbagai pilihan, dari yang oversized hingga berpenutup kepala yang avant-garde, dari yang glamor sporty sampai yang reversible, dari yang transparan hingga yang solid bak bangsawan. Bentuk lengan dari era Elizabethan yang menggelembung dihadirkan lagi bersama motif-motif floral yang abstrak.

Ria Miranda dan JUXTAPOSED
Ria Miranda menghadirkan modesty dengan jiwa high craft, perpaduan antara sentuhan buatan tangan dan kesadaran estetika bentuk akhir. Warna-warna lembut berpadu dengan detail romantis, menjadikan setiap busana lebih dari sekadar produk mode; ia adalah kegembiraan dalam bereksperimen. Sementara, dibalik koleksi JUXTAPOSED ini adalah cerita tentang paradoks kehidupan, antara lembut dan kokoh, struktur dan fluiditas, kesedihan dan kebahagiaan. Ria menjahit paradoks tersebut menjadi harmoni, menghadirkan busana sebagai refleksi perjalanan batin manusia untuk menemukan keseimbangan. JUXTAPOSED bukan sekadar koleksi, melainkan cermin dari proses perjalanan kreatif diri.

Eksplorasi Pola
“Belum lama ini saya mengalami masa muram, dan saya berusaha keras melaluinya dengan menggembirakan diri,” ungkap Ria Miranda. “Saya menyadari bahwa keduanya saling bersisian — duka dan suka, jatuh dan bangun — semua itu juxtaposed, saling melengkapi. Dari situ saya menemukan makna baru, semangat baru.” Refleksi personal itu kemudian ia alihkan menjadi bahasa desain: benturan tekstur, eksplorasi pola, hingga terciptanya harmoni visual yang mencerminkan semangat untuk tumbuh dalam dinamika kehidupan.

























