Dalam lanskap mode yang terus berevolusi, koleksi rancangan Siklus 3.0 lahir sebagai simbol keberlanjutan dan adaptasi. Kolaborasi antara OE dan Wilsen Willim ini bukan sekadar kelanjutan dari dua bab sebelumnya, tetapi penegasan visi baru: bagaimana batik bisa menjadi bagian dari kehidupan modern. Bila Siklus 1.0 adalah permulaan dan Siklus 2.0 penguatan identitas, maka Siklus 3.0 adalah perayaan keseharian, saat batik menjadi bagian penting dari ritme urban metropolitan.

Cerdas di tangan Wilsen Willim
Koleksi ini tampil grafis, taktis dan cerdas. Mood-nya ringan, terstruktur, dan bersandar pada disiplin desain yang khas Wilsen Willim. Visual batiknya menghadirkan kombinasi garis-garis panjang dan simbol kincir angin (signature Wilsen Willim), sebuah ‘tanda’ putaran gerak dan kontinuitas. Dengan teknik batik cap dari Pekalongan, motif ditempatkan secara dinamis, kadang di tepian, kadang menjelajah seluruh permukaan kain. Hasilnya adalah bahasa visual baru yang muncul presisi modern dan kualitas produksi yang baik.

Fleksibilitas Styling
Permainan styling dari elemen yang presisi menjadi daya tarik seru di Siklus 3.0. Misalnya, kemeja tunik berdetail vest dikenakan dengan pantalon lurus, motif garis-garis batiknya berada di posisi taktis yang memberi efek memanjangkan dan merampingkan. Sepotong kemeja guayabera hitam, bertepian gegaris batik, sungguh sederhana tetapi sangat ‘darling’. Dari kemeja hingga kebaya janggan, dari rok hingga korset dan dasi, koleksi ini menawarkan fleksibilitas styling yang tinggi. Mudah dikenakan dan jaminan tampil chic maksimal.

Batik dan Everyday Life
Presentasi Siklus 3.0 berlangsung di Grand Ballroom The Langham Jakarta dalam ajang The Langham Fashion Soirée. Dengan dukungan BRI, Make Over, Optik Seis, dan Bocorocco, peragaan ini menampilkan deretan figur publik seperti Alexander Poindl, Faradina Mufti, Twinda Rarasati, hingga Ivan Gunawan — memperkuat narasi bahwa batik kini tak lagi terbatas pada seremoni, tetapi telah menjadi bahasa gaya hidup. Lebih dari sekadar kolaborasi, Siklus 3.0 adalah bentuk penghormatan. Ia menarik batik ke konteksnya semula, yaitu sebagai bagian dari everyday life, bukan sekadar simbol budaya dan seremoni. Dalam benang-benang grafis dan pola modernnya, tersimpan pesan tentang kesinambungan — bahwa tradisi yang hidup adalah tradisi yang beradaptasi.

























