Luxina, La Collection Privée Christian Dior Rose Star lahir dari kisah magis yang menyatukan dua ikon abadi: mawar Centifolia kesayangan Christian Dior dan bintang keberuntungan yang menandai berdirinya rumah mode legendaris ini. Francis Kurkdjian, sebagai direktur parfum Dior, meramu wewangian ini bukan sekadar sebagai parfum, tetapi sebagai interpretasi emosional dari sejarah rumah couture yang selalu menautkan mode dengan memori, takhayul, dan kepekaan estetis. Rose Star menjadi perwujudan spiritual dari filosofi Dior: antara kebun bunga dan mimpi haute couture, antara takdir dan keberanian kreatif.

Rose Star – Sang Mawar Dior
Dalam balutan aroma, Rose Star menghadirkan lima dimensi seperti lima sudut bintang Dior: zesty, fruity, spicy, honeyed, dan musky. Ledakan segar menyerupai kulit lemon disusul kilatan lychee, raspberry dan pir, sementara Sichuan pepper memberi aksen pedas yang intens. Lapisan aroma berlanjut seperti kain couture yang dipotong presisi—membentuk sentuhan musky yang lembut, hingga akhirnya menetap dalam nuansa madu yang adiktif. Rose Star bukan hanya parfum, melainkan narasi olfaktori yang menautkan warisan Christian Dior dengan sensibilitas modern Kurkdjian.

Sentuhan Francis Kurkdjian
Dengan sentuhan akhir berupa tutup couture yang menampilkan lima belas motif ikonik Dior, setiap botol La Collection Privée tampil seperti artefak mode — tenang, anggun, tetapi menyimpan gairah kreatif yang meletup di dalamnya. Rose Star berdiri bukan hanya sebagai parfum baru, tetapi sebagai simbol bahwa di dalam rumah Dior, setiap wewangian diperlakukan seperti gaun: dibangun dengan struktur, emosi, dan takdir.


