Ada satu hal yang selalu saya sukai dari Tokyo. Kota ini seperti tidak pernah benar-benar berhenti bergerak. Bahkan ketika pagi masih sangat dini, lampu toko sudah menyala, orang-orang berjalan cepat menuju stasiun, dan aroma kopi dari kafe kecil mulai memenuhi udara.
Di tengah ritme kota yang seperti itu, saya tiba di OMO3 Tokyo Akasaka by Hoshino Resorts.
Hotel ini berada di kawasan Akasaka, sebuah distrik yang punya karakter unik di Tokyo. Di siang hari, area ini dipenuhi gedung perkantoran dan restoran legendaris yang sudah berdiri sejak puluhan tahun. Sementara saat malam tiba, suasananya berubah menjadi distrik hiburan yang ramai dengan bar dan restoran fine dining.

Di sekitar kawasan ini juga berdiri beberapa landmark penting Tokyo seperti Akasaka Palace serta kuil bersejarah seperti Hie Shrine yang terkenal dengan festival Sanno. Sejak era Edo, Akasaka memang dikenal sebagai kawasan yang menjadi panggung bagi politik, bisnis, sekaligus budaya kota.
Lokasinya juga sangat strategis. Empat stasiun dengan enam jalur kereta berada dalam jarak berjalan kaki, membuat perjalanan menuju berbagai area Tokyo seperti Shinjuku, Roppongi, hingga Tokyo Tower terasa sangat mudah.
Lobby yang Hangat di Tengah Kota
Ketika pertama kali melangkah masuk ke lobby, semua hiruk pikuk dan keramaian di area Akasaka langsung lenyap digantikan suasana yang terasa santai dan welcoming.
Tidak ada kesan formal yang berlebihan. Ruangannya terasa modern, hidup, dan sangat mencerminkan karakter kota. Di lantai dasar ini terdapat OMO Base, ruang utama hotel yang berfungsi sebagai front desk sekaligus lounge tempat berbagai aktivitas berlangsung.

Di salah satu dinding terdapat Go-KINJO Map, sebuah peta besar yang berisi rekomendasi tempat makan, toko unik, hingga hidden gems di Akasaka yang dipilih langsung oleh staf hotel. Rasanya seperti mendapatkan daftar rahasia tempat-tempat favorit warga lokal.

Setelah check-in, tim hotel mengajak saya berkeliling melihat fasilitas hotel. Mereka menjelaskan bagaimana brand OMO dari Hoshino Resorts memang dirancang sebagai city tourism hotel, di mana hotel menjadi titik awal untuk menjelajahi lingkungan sekitar.
Kamar Nyaman dengan Sentuhan Praktis Jepang
Saya mendapatkan kamar tipe Queen Room. Begitu membuka pintu kamar, kesan pertama yang muncul adalah desain yang sederhana namun sangat efisien. Tempat tidur double berukuran 160 cm menjadi pusat ruangan, cukup luas untuk beristirahat dengan nyaman setelah seharian berjalan di kota.
Hal yang saya perhatikan langsung adalah tata ruangnya yang sangat praktis. Bathroom, toilet dengan washlet, dan wash basin dibuat terpisah sehingga dua orang bisa menggunakannya bersamaan tanpa saling menunggu.

Kamar ini juga dilengkapi berbagai fasilitas yang membuat tinggal di sini terasa nyaman, mulai dari humidifying air purifier, room wear, slippers, hingga perlengkapan mandi lengkap. Ada juga sofa kecil di dekat jendela yang menjadi tempat favorit saya untuk duduk sejenak sambil melihat lampu kota Akasaka di malam hari.
WiFi tersedia gratis di seluruh kamar, dan fasilitas seperti kettle, teh, kulkas kecil, serta berbagai detail kecil lainnya membuat kamar ini terasa sangat lengkap.
Malam di Akasaka: Local Rhythm Night “A Blooming Night’s Rest”
Malam pertama saya di hotel ini ditutup dengan sebuah aktivitas yang cukup unik. Setiap malam pukul 20.00 hingga 23.00, hotel mengadakan Local Rhythm Night bernama “A Blooming Night’s Rest.”
Kegiatan ini berlangsung di OMO Base yang dihiasi instalasi bunga dari Sogetsu School, salah satu dari tiga aliran besar seni ikebana Jepang. Susunan bunga dengan aksen merah yang terinspirasi dari warna “aka” pada nama Akasaka menciptakan suasana malam yang terasa artistik sekaligus menenangkan.

Di sini saya diajak membuat aroma mist mereka sendiri. Ada lima pilihan aroma yang bisa dipadukan sesuai suasana hati. Mulai dari Akasaka dengan aroma floral elegan, Refresh dengan sentuhan aroma citrus, Relax yang beraroma fruity, Sleep dengan aroma lavender lembut, hingga Shrine yang memiliki aroma woody seperti kuil-kuil tua di Tokyo.
Di sisi ruangan, terdapat deretan ikebana berikuran kecil yang bisa Anda pakai untuk medium pengharum ruangan. Setelah mencampur aroma, Anda bisa menyemprotkan aroma yang Anda buat ke permukaan bunga-bunga kering di ikebana tersebut, dan membawahnya ke kamar sebagai pengharum ruangan. Atau Anda juga bisa membawa botol kecil aroma therapy Anda ke kamar, lalu semprotkan ke atas bantal.

Di kamar, pengalaman ini berlanjut. Saya mencoba mengikuti ritual yang disarankan, yaitu berendam di bathtub dengan bath salts untuk membantu tubuh benar-benar melepas penat setelah seharian berjalan menjelajahi Tokyo. Air hangat perlahan membuat otot yang tegang terasa lebih ringan, sementara aroma menenangkan dari bath salt membuat saya menjadi lebih relaks.
Setelah itu, saya menyeduh teh herbal yang telah disiapkan di kamar, hasil kolaborasi dengan toko teh legendaris Akasaka, Tsuchihashien. Campuran chamomile dan lavender menghadirkan rasa yang ringan dengan aroma floral yang menenangkan. Sebelum tidur, saya menyemprotkan aroma Sleep yang tadi saya racik sendiri ke bantal. Perlahan, kamar dipenuhi wangi lembut lavender, membuat kamar terasa seperti spa kecil di tengah kota.
Menyusuri Akasaka Saat Kota Masih Sepi
Pagi berikutnya saya bangun lebih awal untuk mengikuti tur hotel bernama “The Early Bird Catches the Worm.” Pukul 6.45 saya sudah berada di OMO Base, tempat titik kumpul, karena aktivitas ini akan dimulai tepat pada pukul 7.00.
Tur ini dipandu oleh OMO Ranger, pemandu lokal yang mengajak para tamu berjalan menyusuri Akasaka sebelum area ini benar-benar sibuk. Jalanan yang biasanya dipenuhi pekerja kantoran terasa hampir kosong. Kami dipinjamkan sebuah buku panduan yang berisikan urutan destinasi yang akan kami lewati pagi ini, lengkap dengan foto dan informasi singkat.

Pagi itu cuaca begitu cerah, matahari belum sepenuhnya keluar, baru sinarnya yang terpancar dari kejauhan. Cahayanya memantul pada kaca gedung-gedung tinggi, menciptakan pantulan yang indah di sepanjang jalan. Pemberhentian pertama kami di depan Harry Potter Mahaodokoro Store yang ikonik, dengan latar belakang Gedung TBS Holdings Inc., salah satu stasiun televisi ternama Jepang yang berbasis di Akasaka. Kami juga mengunjungi sebuah shrine yang masih sepi pengunjung, sehingga suasananya terasa jauh lebih tenang.
Di akhir tur, sang pemandu memberikan rekomendasi tempat sarapan terbaik di sekitar hotel.
Sarapan Ikonik di Ueshima Coffee
Rekomendasi itu membawa saya ke Ueshima Coffee Shop, kafe yang berada di lantai dasar OMO3 Tokyo Akasaka. Tamu yang menginap di hotel ini akan mendapatkan diskon 10% untuk semua menu.
Di sini, menu yang paling terkenal adalah Akasaka Cube Toast, sarapan eksklusif untuk tamu hotel. Bentuknya seperti kubus roti yang diisi ratatouille hangat dengan saus keju yang creamy. Di atasnya terdapat sayuran warna-warni yang membuat tampilannya hampir seperti karya seni kecil.

Dipadukan dengan kopi Ueshima yang dibuat menggunakan metode double nelle drip, sarapan sederhana ini terasa sangat memuaskan dan tentu saja mengenyangkan.
Suasana kafenya sendiri hangat dan sedikit nostalgik, tempat yang pas untuk duduk santai sebelum memulai hari menjelajah Tokyo.
Sebuah Hotel yang Membuat Akasaka Terasa Lebih Dekat
Menginap di OMO3 Tokyo Akasaka memberikan pengalaman yang terasa berbeda. Bukan hanya karena kamarnya yang nyaman atau lokasinya yang strategis, tetapi karena hotel ini benar-benar mengajak Anda untuk mengenal lingkungan sekitarnya. Mulai dari tur pagi, aktivitas malam, hingga rekomendasi tempat makan lokal, semuanya terasa seperti undangan untuk menikmati Akasaka dengan cara yang lebih santai.

Dan ketika akhirnya saya meninggalkan hotel ini, yang saya ingat bukan hanya kamar atau sarapannya, namun juga suasana pagi di jalanan Akasaka yang masih sepi, aroma lavender yang menenangkan di kamar, serta secangkir kopi hangat yang saya nikmati sambil melihat kota perlahan kembali hidup.


