Lima belas tahun berkarya masih terbilang muda di peta fashion Indonesia, namun bagi Yosafat Dwi Kurniawan, desainer dan ‘a risk taker‘, rentang satu setengah dekade boleh dibilang cukup untuk merumuskan satu pemikiran mode yang matang. Melalui “Time Dilation” S/S 2026, peragaan tunggal perdananya, Yosafat mencoba merangkum masa lalu, saat ini, dan masa depan dalam satu koleksi high fashion yang mengalir misterius, lewat gelapnya galaksi penuh kelip stellar, sebuah refleksi perjalanan kreatif sekaligus penanda arah baru yang ingin ia tuju.

Ultra Feminine
Langkah ini cukup berani, Yosafat yang dikenal dengan gaya rancangan urban glam, kini ia masuk ke arena high fashion yang ultra-feminine. Cukup mendebarkan, memasuki arena stellar, arena yang dikuasai oleh Adrian Gan, Didi Budiardjo, Sebastian Gunawan, Eddy Betty, dan beberapa orang desainer lagi. Strategi masuknya cukup humble, Yosafat hadir membawa formasi purifikasi couture dan kepekaan modernis, satu estetika yang tenang namun tetap radikal. Yosafat datang dengan minimalis: siluet bersih, tailoring presisi, serta struktur teratur tanpa riuh ornamentasi.

Quiet Couture Yosafat
“Quiet couture” versi Yosafat membuat publik melihat sisi lain, yaitu sisi soliditas konstruksi dan kerapihan eksekusi. Presentasi fashion show diakhir dengan tantangan bagi semua undangan untuk maju mendekati model, memperhatikan detail pengerjaan, membolak balik jahitan dan lining, cukup nekat. Tingkat presisi sangat tinggi, zipper bisa bagaikan bagian dari lekuk tulang belakang, dari jarak pandang 15 meter, terlihat zipper metalik meliuk di atas bahan hitam pekat bagai dipahat, setelah didekati, memang sang zipper menempel sempurna.

15 Tahun menuju Stellar
Dalam refleksinya, Yosafat menyebut lima belas tahun terasa seperti karir yang baru dimulai, namun panjang, penuh perubahan, dan sarat transformasi. Ia pun merangkum tiga masa: masa lalu sebagai fondasi, saat sebagai realitas, dan masa depan sebagai kesiapan menatap kemungkinan. Masa lalu sebagai pijakan, terwakili oleh garis new look, masa kini dari tingkat kemudahan pemakain dan tabrak elemen dan siluet, masa depan dipetik dari sesuatu yang menyilaukan, dingin dan metalik.

Waktu tetap bertumbuh
Pada akhirnya, “Time Dilation” bukan sekadar retrospeksi, tetapi proyeksi. Yosafat menutup narasi dengan harapan sederhana: tetap belajar, tetap bersemangat, dan tetap setia pada rasa ingin tahu yang sama seperti dirinya lima belas tahun lalu. Sebuah perjalanan yang tak pernah selesai. Waktu, seaneh dan seelastis apa pun sifatnya, selalu menyisakan ruang untuk bertumbuh. Dan di titik itulah, Yosafat menyongsong babak berikutnya.













