Uluwatu sedang menemukan bahasa kulinernya sendiri. Di antara restoran-restoran yang tumbuh di kawasan ini, Sana hadir dengan pendekatan yang terasa tenang, slow, intim. Satu restoran Australian-Asian yang mempertemukan makanan berbasis bahan berkualitas, minuman yang diracik dengan serius, dan suasana yang membuat waktu seolah berjalan sedikit lebih lambat. Gagasannya sederhana—arrive at Sana, tiba bukan hanya secara fisik, tetapi juga benar-benar duduk, makan, berbincang, dan membiarkan sebuah hidangan berkembang tanpa perlu terburu-buru.

Di Sana, di antara Australia dan Asia
Dapur Sana bergerak bebas di antara Australia dan Asia, tanpa merasa perlu memilih salah satunya. Pagi dimulai dengan Miso Scrambled Eggs bersama spring onion relish, crispy shallots, coriander, dan paratha roti, atau Mushroom Toast dengan sautéed mushrooms, stracciatella, truffle oil, dan crispy garlic. Untuk brunch yang lebih indulgent, Sana McMuffin menyatukan bacon, fried egg, barbecue sauce, American cheese, dan hash brown dalam satu komposisi yang familiar sekaligus menyenangkan. Ketika hari beranjak siang, Tuna Crudo dengan tangerine, yuzu, ginger, pickled shallots, herb oil, dan crisp rice crackers menawarkan kesegaran yang ringan, sementara Pan-Fried Focaccia dengan stracciatella, chilli crunch, spring onion, dan nori nyaris mustahil hanya disantap satu kali.


Hidangan yang kaya cerita
Untuk hidangan yang lebih besar, Sana menunjukkan permainan rasa yang semakin menarik. Korean Beef Saam mengajak tamu merakit sendiri potongan beef cheek yang direbus perlahan bersama kimchi, pickles, lettuce cups, shiso, dan perilla leaves. Sementara itu, Coral Trout hadir dengan dashi cream, roe, charred leek, dan chives. Rump Roast membawa sentuhan New York deli melalui béarnaise, miso, wasabi herb oil, dan pickled shallots, sedangkan Charred Cabbage membuktikan bahwa bahan sederhana pun dapat menjadi hidangan berkarakter ketika diberi roasted sesame sauce, curry leaves, dan toasted almonds.

Pengalaman Gourmet
Di balik bar, pengalaman gourmet Sana berlanjut dalam bentuk koktail yang tidak sekadar menjadi pendamping makanan. Dirty Tora, dengan dashi-infused gin dan dabu-dabu brine, bermain pada wilayah gurih yang tidak biasa, sementara Fleur de Pisco menggabungkan lemongrass, mango, calamansi, dan lavender dengan karakter floral yang menyegarkan. Untuk penutup, Pineapple Pie hadir hangat bersama vanilla bean ice cream, butterscotch sauce, dan praline, sementara Coconut Panna Cotta menawarkan akhir yang lebih ringan dengan watermelon mint granita, berry sherbet, dan lemongrass syrup. Semua ini terasa semakin lengkap dengan wine list yang dirancang untuk menemani aperitif singkat maupun makan malam yang panjang.


Pagi, Siang, dan Sore, di Sana
Namun daya tarik Sana bukan hanya apa yang tersaji di piring. Interior dengan warm timber, tekstur natural, dan pencahayaan lembut membentuk suasana yang polished tanpa menjadi formal, sementara bar, wine lounge, pool area, dan dining room menawarkan karakter berbeda untuk setiap waktu kunjungan. Pagi terasa ringan, siang mengundang untuk berlama-lama, dan ketika cahaya sore berubah menjadi senja, Sana bergeser secara alami menjadi tempat untuk koktail dan dinner. Di Uluwatu yang semakin kaya pilihan kuliner, Sana tidak perlu berteriak untuk diperhatikan; ia cukup menyajikan makanan yang jujur, minuman yang terukur, hospitality yang hangat, dan satu alasan sederhana untuk tinggal sedikit lebih lama.





