Selama lebih dari seabad, industri seni digerakkan jejaring kurator, galeri, kolektor, kritikus, dan seniman, mereka semacam pelegitimasi karya seni untuk diakui sebagai seni. Dalam sistem ini, mereka adalah manusia yang memegang kendali penuh atas nilai, makna, serta arah perkembangan seni. Namun, hadirnya kecerdasan buatan (A.I.) menghadirkan perubahan besar: A.I. tidak hanya dipakai sebagai alat kreatif, tetapi berpotensi mengambil peran dalam menentukan apa yang dianggap penting dan layak dalam ekosistem seni.

Produser kesenangan dan pentingnya ketidak pastian
Meski A.I. sangatlah canggih, kita bisa menilai bahwa karya-karya yang dihasilkan komputer cenderung sulit menghadirkan ekspresi jujur yang lahir dari ketidaksempurnaan manusia. Sehingga untuk sementara, A.I. hanyalah produser kesenangan mata semata, ia tak piawai menyoroti pentingnya ketidakpastian, spontanitas, dan kejujuran dalam seni. What a life, ya. Berdasarkan pemikiran di atas, UNICORN GALLERY, membesut pameran berjudul “Duchamp, A.I. and the Death of The Eye. Love Me, Love Me Not?, mengetengahkan 6 orang perupa: Aqil Reza, Dedy Sufriadi, Diana Puspita P, Gadogadogue, Juju Juan, dan Pandu Wijaya. Sebuah pameran yang menantang gagasan tentang siapa yang berhak menentukan nilai dan arah seni.

Bingkai pemikiran pameran di Unicorn Gallery Jakarta
Walau pun bingkai pemikiran pameran ini bagus dan hangat, tetapi kuratorial terlalu serius, fokus pada ancaman A.I. (atau memang sengaja dibuat serius, karena ini ancaman serius), sampai kesan kendor khas kemanusiawian nyaris tersingkirkan. Padahal ada karya Juju Juan berjudul ‘The Social Chase’, menggambarkan seekor monyet yang menyamar jadi rooster, yang sedang merasa photogenic di antara indoor plants, terasa kocak dalam warna yang vibrant. Ya, kocak, hal yang A.I. tak bisa lakukan, membuat kita tersenyum. Sementara karya Aqil Reza berjudul ‘Delft Porcelain of Young Man Statue with Blue and White Delft Pattern’, tampak elegan, chic, mendekati kesempurnaan, yang sebenarnya layak dicurigai sebagai karya buatan A.I.

Lan of Hope dan pola matrix tak sempurna
Coba lihat juga karya Dedi Sufriadi berjudul ‘Land of Hope’, yang artistik dan ruwet. Ruwet adalah keadaan yang sangat manusiawi, yang semua kita paham. Lihat juga karya Gadogadogue, berjudul ‘The Profesional’, berupa serbet yang digantung terbalik. Serbetnya bermotif pola matrix, pola unggulan sempurna dari komputer, namun di karya ini pola matrix nya sangat manusiawi, kotak-kotaknya tidak konsisten. Nah, bagaimana, perlukah kita khawatir dengan A.I.? Pameran “Duchamp, A.I. and the Death of The Eye. Love Me, Love Me Not?, berlangsung dari tanggal 13 Agustus hingga September 2025







