Doodle adalah seni kebebasan, coretan spontan yang lahir tanpa rencana, seakan tangan bergerak mengikuti arus bawah sadar. Ia bukan sekadar “iseng”, melainkan refleksi batin yang menolak keindahan formal dan goresan berencana. Dalam kesederhanaan garis dan pola repetitif, doodle bisa menjadi meditasi sunyi yang menenangkan pikiran, sekaligus katarsis dari riuh dunia. Di Jakarta ada satu nama seniman yang tengah mencuat: Ryan Geraldin. Ia berekspresi dengan bahasa garis, kontras monokromatik, dari coretan warna hitam, hingga kawat aluminium yang dibengkok-bengkokkan. Ia membuat mata kita menelusuri jalan doodle gambaran tangannya, tak ada ujung, hingga kita terus tenggelam di dalam putaran jalur yang ia ciptakan.

Ryan Geraldin versi 3D
Baru-baru ini coretan doodle nya bertransformasi menjadi 3D, muncul dari hasil kolaborasi bersama ALTO PROJECT berjudul UNALOME. Doodle menjadi seni instalasi yang bergantung di langit-langit ruang, menjadi aksesori aesthetic dengan medium kawat. Konsepnya sendiri seperti mengingatkan bahwa kehidupan adalah anyaman garis tak linear, hidup bukan sekadar garis lurus menuju akhir, melainkan rangkaian lengkung, simpul, pertemuan tak terduga, dan terkadang kusut. Seperti ampersand yang berulang, kehidupan dirayakan dalam perputaran tanpa henti: lahir, tumbuh, kehilangan, lalu lahir kembali, tiada ujung.

Budaya, Doodle, dan Busana
Keindahan filosofi ini diterjemahkan ke dalam medium busana, dengan Cita Tenun Indonesia sebagai mitra pengrajin. Tiga kebudayaan tradisional menjadi inspirasi: Dayak dengan motif kelakai dan jejak kaki bayi melambangkan kelahiran; Sumba Timur dengan kuda, ladang, dan bukit merepresentasikan perjalanan hidup; Toraja dengan tanduk kerbau, batu nisan, dan atap tongkonan mengabadikan penghormatan terakhir. Setiap motif adalah metafora visual, menegaskan bahwa benang kehidupan selalu menautkan masa lalu, kini, dan nanti.

Ryan Geraldin dan Alto Project
Salah satu karya yang istimewa berjudul “Thread of Time” , coretan doodle Ryan berubah mendium menjadi sulur berteknik sulam di atas kain denim yang dilipit-lipit. Kain denim berlipit dengan sulur-sulur Ryan disiapkan oleh ALTO PROJECT. Pemilihan denim ikat sebagai material utama bukan tanpa alasan, bahan ini kuat, berkarakter, dan dekat dengan keseharian, denim dalam karya ini menjadi ‘tanah’ baru bagi garis-garis Ryan. Teknik drapery menghadirkan ilusi gerak dan aliran, sedangkan detail sulaman merekam proses kreatif yang emosional, menjadikan karya ini perpaduan puitis antara seni visual dan bahasa busana.







