Ruangan auditorium IFI Thamrin yang gelap sunyi senyap. Para penonton dengan khidmat menikmati penampilan Asmara Abigail di atas panggung. Dari balik layar putih terdengar suaranya dan perlahan penari berambut panjang ini muncul dengan rambut digelung dan balutan jaket panjang.

The Impossible Shadow
Asmara kali ini menampilkan monolog koreografi The Impossible Shadow: a rhythm of dance and dialogue with Ratna Mohini. Mungkin tak banyak yang tahu tentang Ratna Mohini. Wanita yang terlahir dengan nama Carolina Jeanne de Souza-IJke ini adalah seorang penari Jawa dan sumber inspirasi kreatif dari Henri Cartier-Bresson, seorang fotografer Prancis yang juga suaminya sendiri. Karya ini mempersembahkan dialog maya antara Asmara dan Ratna Mohini, yang diterjemahkan melalui tarian dan seni visual, mengeksplorasi tema-tema identitas, migrasi, dan memori budaya.

75 Tahun Indonesia Prancis
Penampilan ini adalah bagian dari peringatan ke-75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Prancis. Terbagi dalam tiga babak, yang pertama Asmara berperan sebagai dirinya sendiri. Berbalut jaket panjang berwarna hijau tua, Asmara menceritakan banyak pihak yang mengatakan dirinya mirip dengan Ratna. Di bagian kedua, Asmara mentransformasi dirinya menjadi Ratna Mohini. Ia bercerita tentang hidupnya saat tinggal di Paris. Menjamu tokoh-tokoh tersohor di meja makannya bersama sang suami. Bagian ketiga menyatukan “Ratna Mohini” masa lalu yang diperankan oleh Aila El-Edroos dengan Asmara di masa kini.

Kisah Ratna Mohini dan Henri Cartier-Bresson
Kisah Ratna Mohini dan Henri Cartier-Bresson adalah salah satu penanda betapa hubungan bilateral kedua negara, Indonesia dan Prancis, dapat terjalin lewat seni budaya dan ilmu pengetahuan. Secara resmi hubungan bilateral kedua negara ini telah berjalan selama 75 tahun namun hubungan keduanya sudah terjalin sekitar 150 tahun. Hal inilah yang kemudian dikisahkan dalam sebuah buku dwibahasa Indonésie, Lumières Inouïes – 150 années d’échanges franco-indonésiens (Indonesia, Cahaya yang Mempesona – 150 Tahun Hubungan Prancis-Indonesia) yang diluncurkan pada kesempatan ini.

Buku karya Alexis Salatko
Buku yang ditulis oleh novelis Prancis Alexis Salatko dan diilustrasikan oleh Aline Zalko ini menceritakan 11 potret tokoh-tokoh Prancis yang memiliki ketertarikan terhadap Indonesia, meneliti dan mempelajarinya, atau tinggal di negara ini. Mereka antara lain penyair Arthur Rimbaud, pianis dan komposer Claude Debussy, penulis, penyair, dan aktor Antonin Artaud, penyair dan pelukis Henri Michaux yang pada 1931 menceritakan pengalamannya dalam kisah Un Barbare en Asie (Seorang Barbar di Asia).

Indonesia Prancis dalam buku: Indonésie, Lumières Inouïes
Termasuk dalam tokoh-tokoh tersebut, fotografer Henri Cartier-Bresson yang menikah dengan Ratna Mohini. Ratna adalah seorang penari Jawa yang dalam perjalanan hubungan mereka memainkan peranan penting dalam kehidupan seni suaminya. Cartier-Bresson sendiri dikenal sebagai tokoh yang mendukung gerakan dekolonisasi yang memotret suasana Indonesia merdeka. Pertunjukan oleh Asmara Abigail menutup rangkaian perayaan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Prancis. Melalui karya ini, Asmara mewakili transmisi simbolis antara mediator budaya masa lalu dan masa kini, melanjutkan percakapan antara seniman Indonesia dan Prancis dalam buku Indonésie, Lumières Inouïes.



