Presentasi koleksi ANJANGSANA Private Collection 2026 dari jenama SUDIMAMPIR berlangsung dengan elok dan chic di dalam showroom LaFlo, Menteng, Jakarta Pusat. Dikelilingi furnitur elegan yang sophisticated, koleksi ini tampil sebagai pernyataan halus tentang bagaimana wastra Indonesia hari ini semakin jadi bagian dari gaya hidup metropolitan. Di tengah meningkatnya undangan sosial dengan dress code “A Touch of Wastra Indonesia”, kolaborasi antara Su Yin (seorang arsitek), dan Didi Budiardjo sebagai perancang busana, hadir sebagai jawaban yang relevan.

Dialog Kenangan SUDIMAMPIR
SUDIMAMPIR memposisikan diri sebagai jenama yang memahami kebutuhan berpakaian mewastra masa kini, mudah diinterpretasi, mix and match, styling restyling, namun tetap memiliki bobot budaya yang kuat. Nama Anjangsana sendiri merefleksikan semangat kebersamaan lintas generasi. Koleksi ini menjadi dialog antara memori, sejarah kultural, dan kecintaan pada wastra Indonesia. Ada rasa hangat, rasa pulang, serta penghormatan terhadap nilai yang diwariskan, tanpa terjebak dalam romantisme seremonial.


ANJANGSANA Sambut Lunar New Year dan Lebaran
ANJANGSANA merupakan koleksi kedua dari SUDIMAMPIR, setelah Serawung yang diluncurkan pada Maret 2025. Jika Serawung berbicara tentang pertemuan dan interaksi melalui teknik patchwork lintas wastra, maka Anjangsana bergerak lebih tenang. Koleksi ini lahir bertepatan dengan momentum Lunar New Year dan kehadiran masa Lebaran yang berdekatan, sebuah kebetulan waktu yang justru menguatkan makna silaturahmi dan kebersamaan.

Aneka Wastra Nusantara
Secara material, ANJANGSANA merangkum kekayaan tekstil Nusantara dari Palembang, Pekalongan, Cirebon, Solo, Tuban, hingga Subak. Rancangannya terasa luwes, namun tetap berstruktur, dan finishing yang prima. Detail craft seperti jalinan kancing, keliman ber outline, hingga bros bagai petikan serumpun kembang, membuat setiap busana berdiri sebagai karya desain yang ditangani dengan serius, meski dibalut nuansa kasual yang bersahaja.


Styling dan Restyling
Spirit styling dan restyling menjadi kunci utama koleksi ini. Setiap item dirancang agar dapat berdiri sendiri, mudah dipadukan dengan isi lemari personal pemakainya. Filosofinya sederhana namun penting, wastra tidak harus selalu tampil formal. Ia bisa hidup dalam keseharian, tanpa kehilangan kandungan estetika Nusantara.

Wastra Produksi Tangan
Keunikan SUDIMAMPIR juga terletak pada keberanian bermain warna dan jenis bahan, saling ditabrakkan, benar-benar se-Indonesia dalam satu rancangan. Su Yin dengan preferensi palet monokrom yang redup, bertemu dengan Didi Budiardjo yang ekspresif dan penuh perayaan hidup. Perbedaan ini justru melahirkan harmoni seru di SUDIMAPIR. Dengan prinsip seasonless, genderless, dan timeless, SUDIMAMPIR juga menegaskan komitmennya pada kualitas. Tidak ada kain printing, seluruh wastra dipilih dan diolah dengan penuh pertimbangan, termasuk batik cap yang tetap dijunjung sebagai produk kerakyatan bernilai.

Eksklusif di LaFlo Menteng
Setiap busana dibuat terbatas, bahkan satu kain untuk satu rancangan, menjadikannya pilihan bagi mereka yang ingin tampil unik tanpa harus berpakaian seragam. Selain itu, tingkat eksklusivitas juga terjaga. Presentasi hanya berlangsung dua hari, tamu diatur hanya tiga orang per jam di LaFlo Menteng, pembatasan ini membuat para high-society semakin tereksklusivkan.






