Bagaimana jika hantu dari legenda rakyat Ingris “Sukie Wanita Bergaun Putih” menjadi gaun pengantin fall winter 2026/27? Apakah orangtua dan para besan akan setuju? Inilah ide terbaru dari desainer Bora Aksu di London Fashion Week. Inspirasi datang dari legenda rakyat Inggris tentang Sukie, perempuan bergaun putih “the White Lady” yang dikabarkan menghantui penginapan George & Dragon serta lorong sunyi Hellfire Caves. Ide menjadikan sosok hantu sebagai gaun pengantin bukan sekadar provokasi estetika, melainkan eksplorasi tentang memori, kehilangan, dan bagaimana narasi perempuan sering tersisa sebagai rumor.

Legenda Sukie untuk London Fashion Week
Koleksi ini dibangun dalam dua babak, berlangsung di St. Paul’s Church Covent Garden, menghadirkan fase pertama yang membayangkan Sukie sebagai perempuan hidup. Siluet utilitarian abad ke 18 diterjemahkan melalui short suit berhias kristal, jaket militer terstruktur, serta kombinasi wool check yang terasa rasional namun rapuh. Bora Aksu memperkuat karakter ini dengan kontras tekstur, velvet puffer bertali pita berdampingan dengan crochet lembut, menghadirkan ketegangan antara perlindungan dan kerentanan.

Bora Aksu dan Sukie
Babak kedua berubah ke atmosfer seperti séance. Sukie tidak lagi menjadi perempuan, melainkan jejak. Capelet transparan melayang di atas bouclé blazer, gaun polkadot tertutup lace tipis yang nyaris bergerak sendiri, sementara slip dress hitam mekar dengan crochet poppy merah darah. Bahasa bunga di sini berayun antara duka dan ancaman, menghadirkan romantisisme gotik yang terasa sadar diri.

Pengantin Bayangan
Dari sisi teknik, koleksi ini menunjukkan kedewasaan konstruksi Bora Aksu. Silk organza, tulle, dan voile digunakan untuk menciptakan efek melayang yang kontras dengan tailoring yang semakin kuat. Pendekatan keberlanjutan juga hadir melalui penggunaan lace iridescent deadstock dari rumah pengantin Turki yang telah tutup, mempertegas gagasan bahwa memori material dapat dihidupkan kembali, sama seperti legenda. Dualitas antara tubuh dan bayangan menjadi inti visual yang konsisten sepanjang koleksi.

Romantisme Pengantin Organza
Penutup koleksi menampilkan rangkaian gaun organza putih dan lace yang terasa lebih seperti artefak daripada busana pengantin. Look terakhir, gaun bridal dengan mawar putih tertangkap dalam veil, menjadi referensi langsung pada kisah elopement tragis Sukie. Bora Aksu kembali membuktikan kemampuannya merawat tragedi tanpa menjadikannya sensasi. FW26 bukan sekadar romantisisme gotik, tetapi refleksi tentang perempuan yang tidak tercatat sejarah, namun terus hidup sebagai cerita yang berulang.














Foto: Kendam

