Di tangan Hermès, jam tangan tidak pernah sekadar dan bukan hanya alat penunjuk waktu. Tapi adalah objek naratif—tempat seni, kerajinan, dan imajinasi bertemu dalam ritme mekanis yang hampir teatrikal. Di Watches And Wonders 2026, Hermès membuka babak baru lewat tema “Mysterious Mechanisms”, sebuah eksplorasi terhadap transparansi mekanik dan permainan visual antara cahaya, bayangan, serta kedalaman. Di antara trio koleksi yang diperkenalkan, Arceau Samarcande muncul sebagai karya paling puitis sekaligus paling emosional.
Koleksi Arceau sendiri bukan nama baru dalam dunia horologi Hermès. Dirancang pertama kali oleh Henri d’Origny pada 1978, desainnya dikenal melalui bentuk lug asimetris yang terinspirasi sanggurdi kuda—sebuah penghormatan halus terhadap akar equestrian maison asal Paris tersebut. Namun pada Arceau Samarcande, warisan itu tidak berhenti sebagai kode desain. Hermès membawa simbol kuda masuk jauh ke jantung mekanika.


Dial kristal Saint-Louis yang terbuka membentuk siluet kepala kuda menjadi pusat perhatian. Sekilas terlihat seperti ilustrasi artistik yang melayang di atas permukaan jam, tetapi justru melalui potongan itulah dunia mekanis di baliknya mulai terlihat. Gear, roda, dan konstruksi movement tampil seperti panggung miniatur yang hidup. Hermès menyebutnya sebagai ruang di mana fungsi berbicara dengan estetika—dan Arceau Samarcande menerjemahkan gagasan itu dengan sangat literal.
Keindahan Arceau Samarcande bukan hanya terletak pada skeletonisation-nya, tetapi juga pada cara Hermès membangun rasa misteri. Kepala kuda itu seolah menjadi gerbang antara dua dunia: dekoratif dan mekanis, eksternal dan internal, imajinatif dan presisi. Bahkan minute repeater—salah satu komplikasi haute horlogerie paling rumit—tidak dipamerkan secara agresif, melainkan hadir seperti suara tersembunyi yang menunggu untuk dibangunkan. Ketika diaktifkan, gong minute repeater beresonansi lembut dari dalam case berdiameter 38 mm, menciptakan pengalaman yang lebih intim daripada demonstratif.

Di balik estetika artistiknya, Hermès membekali Arceau Samarcande dengan movement Manufacture H1297 self-winding via micro-rotor, terdiri dari 339 komponen dan 40 jewels, dengan cadangan daya 48 jam. Finishing-nya dilakukan secara manual melalui mirror polishing, chamfering, circular satin finishing hingga bead blasting—detail yang menunjukkan bahwa jam ini dibangun dengan disiplin haute horlogerie yang serius, bukan sekadar objek fashion mewah.
Menariknya, Hermès tidak mencoba membuat Arceau Samarcande terasa terlalu teknikal. Justru sebaliknya, maison ini membungkus kompleksitas mekanis dalam bahasa visual yang lembut dan emosional. Pilihan material seperti white gold atau rose gold, dial kristal Saint-Louis biru maupun putih, hingga strap alligator dengan nuansa warna subtil membuat keseluruhan jam terasa seperti karya seni bergerak, bukan instrumen industri.

Di era ketika banyak jam skeleton tampil agresif dan futuristis, Arceau Samarcande memilih jalur berbeda. Ia tidak berteriak tentang komplikasi, tidak memamerkan mekanika secara vulgar. Hermès justru bermain dengan ilusi, transparansi, dan rasa penasaran. Seolah mengingatkan bahwa dalam dunia horologi, kemewahan sejati kadang hadir bukan dari apa yang diperlihatkan sepenuhnya, tetapi dari apa yang dibiarkan tetap misterius.



