Ada yang hangat dari percakapan dua sahabat yang sudah saling mengenal belasan tahun. Obrolannya sering kali sederhana, melompat dari cerita lama, perubahan hidup, sampai hal-hal kecil seperti cara memilih pakaian yang terasa paling nyaman dipakai sehari-hari. Suasana itu terasa kuat dalam peluncuran kolaborasi perdana UNIQLO dan desainer asal Denmark, Cecilie Bahnsen, di The Dharmawangsa Jakarta beberapa waktu lalu.
Mengusung tema Shapes of Poetry, koleksi Spring/Summer 2026 ini terasa personal sejak awal diperkenalkan. Bukan hanya soal siluet feminin atau detail romantis yang menjadi ciri khas Cecilie Bahnsen, tetapi juga tentang hubungan, pertumbuhan, dan keseharian perempuan yang berubah seiring waktu.
Ketika Persahabatan Jadi Ruang Bertumbuh

Sheila Dara dan Fita Anggriani hadir sebagai pembicara dalam acara tersebut. Di tengah peluncuran koleksi fashion, percakapan keduanya justru mengarah pada cerita persahabatan yang terasa dekat dengan banyak orang.
Mereka mengenang pertemuan pertama pada 2012, hubungan yang terus bertahan di tengah kesibukan masing-masing, hingga bagaimana keduanya tetap merasa dekat meski tidak selalu bertemu setiap waktu. Tidak ada formula khusus yang mereka bicarakan. Hubungan itu berjalan alami, ringan, dan tumbuh bersama waktu.
Fita bercerita bahwa Sheila termasuk sosok yang jarang menghubungi lebih dulu, sementara dirinya lebih sering menjaga komunikasi. Sheila menanggapinya sambil tertawa. Dinamika seperti itu justru membuat hubungan mereka terasa akrab dan manusiawi.
Di titik itu, pembicaraan tentang fashion terasa punya konteks yang lebih luas. Pakaian bukan hadir sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan, melainkan bagian dari perjalanan seseorang mengenal dirinya sendiri.
Pertemuan Dua Pendekatan yang Punya Nilai Serupa

Kolaborasi UNIQLO dan Cecilie Bahnsen sendiri lahir dari hubungan yang terbangun cukup lama. Pertemuan pertama mereka terjadi pada 2019 ketika UNIQLO membuka toko pertamanya di Denmark. Yukihiro Katsuta, Senior Executive Officer Fast Retailing sekaligus Head of R&D UNIQLO, bertemu Cecilie dan tertarik pada pendekatan desainnya yang menggabungkan detail couture dengan fungsi sehari-hari.
Tujuh tahun kemudian, koneksi itu berkembang menjadi koleksi bersama. Cecilie Bahnsen dikenal lewat desain yang feminin dengan detail floral, volume lembut, frill, dan shirring yang khas. Namun menariknya, semua detail tersebut diterjemahkan ke dalam bentuk yang tetap ringan dan mudah dipakai sehari-hari. Ada keseimbangan antara craftmanship dan kenyamanan yang terasa relevan dengan filosofi LifeWear milik UNIQLO.
Dalam acara tersebut, Cecilie menyebut bahwa dirinya selalu tertarik pada pendekatan desain Jepang yang mengutamakan fungsi dan kehidupan sehari-hari. Baginya, pakaian seharusnya mengikuti bagaimana perempuan bergerak, hidup, dan mengekspresikan diri.
Fashion yang Bergerak Bersama Kehidupan

Koleksi ini adalah caranya melihat femininitas secara lebih dekat. Tidak terlalu kaku, tidak terasa dibuat untuk satu tipe perempuan tertentu.
Sheila Dara sempat bercerita bahwa cara dirinya berpakaian sekarang sangat berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Dulu ia cenderung mengikuti tren tanpa banyak pertimbangan. Kini, pilihannya terasa lebih dekat dengan identitas dirinya sendiri.
Perubahan itu terdengar sederhana, tetapi banyak perempuan mungkin pernah merasakan hal serupa. Ada fase ketika seseorang mulai lebih memahami apa yang nyaman, apa yang terasa merepresentasikan dirinya, dan apa yang ingin dipertahankan dari gaya personalnya.
Nuansa itu terasa kuat dalam koleksi ini. Gaun ringan, T-shirt dengan detail floral, sampai siluet yang lembut terasa dibuat untuk dipakai dalam banyak situasi: bekerja, bertemu teman, atau sekadar menjalani hari biasa.
Cerita Ibu dan Anak dalam Koleksi yang Sama

Kolaborasi ini juga menandai lini childrenswear pertama Cecilie Bahnsen. Ia menghadirkan koleksi anak perempuan yang tetap membawa detail khas desainnya, tetapi dengan pendekatan yang playful dan ringan.
Bagi Fita Anggriani, bagian ini terasa paling personal. Ia bercerita tentang putrinya yang mulai memiliki selera berpakaian sendiri. Ada momen-momen kecil ketika ibu dan anak bisa memilih pakaian bersama, saling memberi opini, lalu menikmati prosesnya tanpa harus terlihat identik.
Pendekatan itu terasa menyenangkan karena tidak memaksakan konsep “matching” secara literal. Koleksinya justru memberi ruang untuk interpretasi masing-masing.
Peluncuran UNIQLO dan Cecilie Bahnsen terasa lebih seperti percakapan tentang perempuan dan kehidupan sehari-hari dibanding sekadar presentasi fashion. Ada cerita tentang sahabat yang tumbuh bersama, tentang perempuan yang menjalani banyak peran, dan tentang pakaian yang perlahan menjadi bagian dari pengalaman personal seseorang.
Mungkin itu juga yang membuat koleksi ini terasa hangat untuk menemani versi diri yang terus berkembang dari waktu ke waktu.



