Untuk koleksi spring/ summer 2026 dibuka Studio 133 Biyan dengan sebuah nada yang jarang terdengar di tengah hiruk-pikuk mode: keheningan yang penuh permenungan. Di InterContinental Jakarta, Pondok Indah, label ini menghadirkan koleksi yang seakan mengusap kembali permukaan masa lalu—material yang tergerus waktu, pakaian kerja yang lahir dari ketahanan, serta keindahan yang bertahan karena ia tidak lekang.
“Reforged” bukan sekadar tema tapi adalah proses. Ia mengajak kita menatap kembali akar industri yang dulu melahirkan pakaian sebagai fungsi, martabat, dan keterampilan tangan. Di sinilah Studio 133 Biyan memulai, dan dari sinilah ia ditempa ulang.

Ketegasan Siluet yang Melunak
Koleksi ini memulihkan kembali daya tarik utilitarian: jaket struktural, jumpsuit longgar, celana baggy, tunik yang mengikuti gerak tubuh, hingga cocoon shapes yang menjadi ciri khas pendekatan kontemporer Biyan. Material—dari denim, katun, linen, nylon hingga sutra—diseimbangkan antara kekuatan dan kelembutan, disiplin dan kebebasan. Ada nuansa ketegasan yang direndahkan, sebuah kontrol yang dibuat lebih manusiawi.
Motif Sebagai Ingatan Kolektif


Pattern dalam “Reforged” bekerja seperti arsip visual: geometri primitif, polkadot, garis-garis, kotak-kotak, hingga ilustrasi puitis hewan-hewan terancam punah—sebuah pengingat lembut tentang dunia yang terus bergeser. Palet warna bergerak pelan dari cokelat, abu-abu, dan netral, menuju hijau, biru, merah, jingga, lalu kembali mengakar pada biru denim dan hitam yang abadi.
Keahlian tangan tetap menjadi jantung koleksi. Konstruksi twisted, sulaman halus, manik-manik yang nyaris tak bersuara—semuanya memberikan keunikan bukan lewat kemegahan, tetapi lewat kehadiran. Setiap detail terasa seperti sebuah persembahan kecil; bukan teriakannya, tetapi bisikannya yang membekas.
Pembuka Show Sebagai Identitas dalam Dialog


Peragaan dibuka dengan dua model kembar berjalan berpasangan, sebuah penghormatan pada presentasi ikonis Studio 133 Biyan era 90-an. Gerak mereka serupa, namun berbeda dalam detail—sebuah metafora tentang identitas yang dibentuk oleh apa yang bertahan, tetapi tetap melunak mengikuti waktu. Seiring koleksi berlanjut, formasi itu mengendur, bergeser, dan membentuk ulang dirinya, seperti identitas yang terus berubah tanpa kehilangan inti.
Keindahan yang Tidak Disempurnakan
Runway dibangun di depan sebuah rumah tua berlapis seng, berkarat, dengan tekstur garis yang tidak rata—semuanya dibiarkan apa adanya. Tidak ada ilusi kemewahan, tidak ada upaya memoles masa lalu. Kejujuran ruang itu menjadi kontras lembut bagi rafinasi koleksi, menciptakan narasi yang lebih dalam: kecantikan tidak membutuhkan kesempurnaan, ia hanya perlu keaslian.
Koleksi ini adalah sebuah pengingat bahwa membangun kembali bukan berarti menghapus, melainkan merangkul apa yang telah teruji. “Reforged” adalah ajakan untuk melihat ulang nilai dari proses, dari keuletan, dari sejarah yang tidak dibungkam tetapi dipurnakan kembali.





