Selama dua malam saja, COPA membuka dapurnya untuk sebuah kolaborasi langka yang mempertemukan dua pendekatan kuliner yang saling melengkapi. Chef Francisco Araya, peraih bintang Michelin dari Araya Singapore, hadir memasak berdampingan dengan Chef Matías Mardones, sosok di balik arah kuliner COPA.
Bersama-sama, mereka menghadirkan menu khas Amerika Latin, kesegaran Pasifik Selatan, dan teknik dari Jepang. Jamuan ini terasa seperti percakapan, pengalaman, dan filosofi yang diterjemahkan ke dalam rangkaian hidangan.
Kreasi dari Dapur COPA Jakarta dan Araya Singapura
Di Araya, Chef Francisco Araya dikenal lewat interpretasi kuliner Chile yang dikreasikan melalui teknik Jepang yang halus dan presisi. Pendekatan ini menemukan keseimbangan alami dengan gaya Chef Matías Mardones di COPA Jakarta, yang mengangkat tradisi Amerika Latin dengan rasa yang berani.
Perjalanan dimulai dengan kesederhanaan yang disengaja. Marraqueta, roti khas Chile, disajikan hangat bersama mentega chipotle. Paduan ini menghadirkan rasa akrab. Setelah itu hadir Andean choclito, flan jagung lembut dengan baby corn dan yuzu kosho.

Selanjutnya, Crudo berisi beef tartare di atas roti labu ala sopaipillas, dilengkapi aioli bawang putih dan bawang bombay. Hidangan cantik ini menjadi jembatan menuju menu utama.
Sajian cantik lainnya adalah Rose Ceviche. Scallop Hokkaido disajikan dalam leche de tigre berbasis sitrus, dipertegas dengan acar daikon dan sentuhan minyak aromatik.
Sementara Pato Ahumado, dada bebek yang melalui proses aging selama 2 minggu dengan mentega, kemudian diasap, dipanggang perlahan, dan diakhiri di atas panggangan, disajikan bersama mole poblano, acar bawang merah, serta selai beri liar.

Kolaborasi ini mencapai puncaknya pada Moqueca, interpretasi stew ikan khas Brasil yang ditingkatkan. Ikan kinki Jepang (rockfish) dipilih karena dikenal akan teksturnya yang lembut dan rasa alaminya. Diolah dengan cara direbus dengan api kecil pada suhu 57 derajat selama 30 menit.
Sausnya yang terasa familiar dibuat dari santan dan minyak dendê, elemen penting dalam masakan pesisir Brasil, dilengkapi sea asparagus dan kiwicha. Sedikit minyak cabai menutup hidangan dengan kehangatan.
Lomo Liso tampil berani dan memuaskan. Tajima Wagyu MB9 striploin dipanggang di atas api, disajikan bersama tortilla kentang, krim jagung ala humita, dan demi-glace bit.

Bagian dessert dibuka dengan Amazonas, perpaduan namelaka kelapa-limau, chutney nanas, dan sorbet mojito. Ringan, segar, dan berfungsi sebagai penyegar setelah rangkaian rasa intens.
Akhirnya, bonbon cokelat buatan tangan menyajikan cerita personal. Menggunakan kakao single-origin, buah-buahan lokal, dan karamel asap, koleksi ini merujuk pada memori masa kecil dan lanskap Chile, lengkap dengan bentuk-bentuk playful yang terinspirasi dari Pulau Paskah dan Patagonia.
Kolaborasi ini jadi momen singkat ketika dua visi kuliner bertemu dalam keseimbangan. Bagi para tamu, ini adalah kesempatan langka untuk mencicipi menu yang terasa utuh dan meninggalkan kesan yang bertahan lama setelah suapan terakhir.


