Satu abad bukan sekadar angka ketika yang dirayakan adalah kehidupan dan nilai yang terus tumbuh melampaui generasi. Bagi keluarga besar Yayasan Meutia Hatta Swasono, satu abad kelahiran Rahmi Hatta menjadi kesempatan untuk membaca kembali sosok perempuan yang mendampingi Mohammad Hatta, Proklamator Kemerdekaan sekaligus Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia, melalui bahasa yang lebih hidup: fashion, seni, musik, teater, dan kepedulian sosial. Sejarah tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang jauh, melainkan dihadirkan kembali agar relevan dengan masyarakat hari ini.

Seabad Perjalanan Waktu
Rangkaian Satu Abad Rahmi Hatta berlangsung sejak Juli hingga September 2026 dengan gagasan utama tentang keteladanan, kesederhanaan, intelektualitas, keluarga, dan kemanusiaan. Puncaknya berlangsung pada Sabtu, 5 September 2026, di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, melalui Fashion Performance Art “RUMAH” dan kegiatan sosial “Ikatan Cinta”. Dua agenda ini memiliki bahasa yang berbeda, namun bertemu pada satu gagasan penting: keluarga sebagai ruang pertama tempat cinta, karakter, dan nilai kemanusiaan tumbuh.
RUMAH, Sebuah Pertunjukan
“RUMAH” menjadi salah satu persembahan paling menarik dalam perayaan tersebut. Disutradarai dramawan dan pegiat teater senior Wawan Sofwan, pertunjukan ini membaca perjalanan hidup Rahmi Hatta melalui konsep rumah sebagai ruang pembentukan manusia. Rumah bukan sekadar alamat atau bangunan, melainkan tempat seseorang mengenal kasih sayang, belajar bertanggung jawab, membangun keluarga, sekaligus mewariskan prinsip hidup kepada generasi berikutnya. Teater, fashion, musik, dan tari kemudian dirangkai menjadi sebuah narasi panggung yang intim sekaligus spektakuler.


Kebaya Rahmi Hatta
Fashion memberikan dimensi visual yang kuat dalam “RUMAH”. Koleksi busana pribadi Rahmi Hatta dihadirkan kembali dan diperagakan oleh Top 4 Puteri Indonesia serta Abang None Jakarta Barat. Pakaian yang pernah menjadi bagian dari kehidupan personal Rahmi Hatta memperoleh konteks baru ketika dibawa ke atas panggung. Di tangan generasi hari ini, busana tersebut tidak lagi sekadar menyimpan kenangan, tetapi menjadi cara untuk melihat kembali karakter, gaya, dan perjalanan seorang perempuan dalam lanskap sejarah Indonesia.
Monolog Maudy dan Prilly
Atmosfer pertunjukan semakin kaya melalui monolog Maudy Koesnaedi dan Prilly Latuconsina, disusul penampilan musik lintas generasi dari Iwan Fals, Isyana Sarasvati, Vicky Mono, Aqi Singgih, dan Audrey, serta tari kreasi. Komposisi tersebut membuat “RUMAH” terasa seperti pertemuan antara arsip masa lalu dan energi masa kini. Sosok Rahmi Hatta diterjemahkan melalui berbagai disiplin seni, membuktikan bahwa sejarah personal dapat menemukan bentuk baru ketika dibaca melalui kreativitas.

Afternoon Tea di Perpustakaan
Perjalanan menuju “RUMAH” sendiri telah dimulai pada 1 Juli 2026 melalui Afternoon Tea Talkshow “Satu Abad Rahmi Hatta, Sebuah Legacy” di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Mengusung tema “Legacy of Rahmi Hatta: Past, Present and Future”, diskusi yang menghadirkan Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono, Dr. Dewi Motik, M.A., M.Si., dan Prilly Latuconsina membicarakan intelektualitas, kesederhanaan, serta keteladanan Rahmi Hatta dan relevansinya bagi perempuan Indonesia. Koleksi busana pribadinya juga diperkenalkan melalui fashion presentation dengan sentuhan kontemporer.
Ikatan Cinta
Jika “RUMAH” menerjemahkan warisan melalui seni dan fashion, “Ikatan Cinta” membawanya langsung ke kehidupan masyarakat. Sebanyak 40 pasangan mengikuti prosesi nikah massal di Tennis Indoor Senayan pada 5 September 2026. Prosesi yang disaksikan Wakil Menteri Agama Republik Indonesia Muhammad Syafi’i tersebut berlangsung dalam suasana khidmat dan kekeluargaan. Bagi Yayasan Meutia Hatta Swasono, kegiatan ini menjadi bentuk kepedulian yang konkret bagi masyarakat yang menghadapi kendala sosial, ekonomi, maupun administratif untuk memperoleh kepastian hukum dalam perkawinan.

Donor Darah hingga UMKM
Semangat tersebut diperluas melalui donor darah, layanan pembuatan paspor, serta keterlibatan pelaku UMKM dalam rangkaian kegiatan. Ketua Pelaksana Fajrin Saadi menegaskan bahwa warisan Rahmi Hatta bukan sekadar benda atau peninggalan sejarah, melainkan contoh hidup yang dapat diteruskan melalui tindakan. Gagasan tersebut menjadi penting karena kepedulian tidak berhenti sebagai nilai abstrak; ia memperoleh makna ketika hadir dalam kehidupan orang lain. Meutia Hatta, putri sulung Mohammad Hatta dan Rahmi Hatta sekaligus pimpinan Yayasan Meutia Hatta Swasono, pun menyampaikan rasa haru atas momentum yang mempertemukan sejarah keluarga dengan kepedulian sosial.

Cerita Sebuah Warisan
Satu Abad Rahmi Hatta akhirnya menemukan kekuatannya justru ketika warisan tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang harus dibekukan. “RUMAH” menghidupkannya melalui busana, musik, tari, monolog, dan teater; “Ikatan Cinta” meneruskannya melalui keluarga-keluarga yang memperoleh kesempatan untuk mengawali kehidupan bersama secara sah. Dari panggung fashion hingga prosesi pernikahan, pesan yang diwariskan Rahmi Hatta terasa sederhana sekaligus fundamental: rumah adalah tempat nilai pertama kali tumbuh, keluarga adalah ruang untuk menjaganya, dan kepedulian membuat nilai tersebut terus memiliki arti bagi masyarakat.

