Bagi Bvlgari, warna bukan sekadar elemen dekoratif. Ia telah menjadi bagian penting dari identitas kreatif Maison Roma ini—terlihat dari keberanian Bvlgari mempertemukan batu permata dengan warna-warna yang intens dan kontras dalam berbagai kreasi High Jewelry-nya.
Melalui Bvlgari Kaleidos: Colors, Cultures and Crafts, eksplorasi tersebut memasuki babak baru di Shanghai. Bertempat di Power Station of Art, museum seni kontemporer publik pertama di daratan Tiongkok, pameran ini menghadirkan lebih dari 300 mahakarya perhiasan berwarna, mulai dari kreasi High Jewelry hingga pilihan dari Bvlgari Heritage Collection dan sejumlah koleksi pribadi.
Namun edisi Shanghai menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar perjalanan menyusuri arsip warna Bvlgari. Kali ini, bahasa visual khas Maison tersebut ditempatkan dalam dialog dengan budaya, filosofi dan tradisi artistik Tiongkok.
Tiga Cara Melihat Warna

Kaleidos Shanghai terbagi dalam tiga bab yang menawarkan cara berbeda untuk memahami warna: The Science of Colors, Color Symbolism, dan The Power of Light.
Bab pertama melihat warna sebagai fenomena ilmiah sekaligus bahasa kreatif. Komposisi batu permata dengan warna primer, kontras dan harmoni memperlihatkan bagaimana Bvlgari membangun karakter sebuah perhiasan melalui chromatic composition.
Kemudian, Color Symbolism membawa pembahasan tersebut ke wilayah budaya. Warna tidak lagi hanya dilihat berdasarkan bagaimana mata menangkapnya, tetapi juga berdasarkan makna yang dilekatkan manusia kepadanya.
Di sini, sistem Wu Xing atau Lima Unsur dalam tradisi Tiongkok menjadi salah satu referensi penting. Warna dikaitkan dengan kekuatan alam, arah dan musim, memperlihatkan bagaimana sesuatu yang terlihat sederhana seperti warna dapat memiliki lapisan makna yang jauh lebih kompleks.
Bab terakhir, The Power of Light, membawa warna kembali pada material. Cahaya mengubah cara emas, perak dan batu permata terlihat, menciptakan permukaan yang terasa hidup melalui refleksi, transparansi dan perubahan intensitas warna.
Ketika Roma Bertemu Shanghai
Salah satu karya yang menarik perhatian dalam edisi Shanghai adalah sebuah sautoir tahun 1973 dari Bvlgari Heritage Collection.
Dibuat dari emas dengan coral, onyx dan berlian, karya ini memiliki komposisi warna yang berani dan dilengkapi medali jade berukir yang mengingatkan pada tradisi artistik Tiongkok.
Karya tersebut menjadi contoh yang tepat untuk memahami gagasan besar Kaleidos Shanghai: bukan menggabungkan dua budaya secara literal, melainkan memperlihatkan bagaimana satu bahasa kreatif dapat menemukan interpretasi baru ketika ditempatkan dalam konteks budaya yang berbeda.
Dalam konteks inilah Shanghai menjadi lokasi yang relevan. Sebuah kota yang mempertemukan warisan sejarah dengan perkembangan kontemporer, sekaligus menjadi ruang pertemuan antara perspektif Timur dan Barat.
Perhiasan Bertemu Seni Kontemporer

Eksplorasi warna dalam Kaleidos juga tidak berhenti pada perhiasan.
Dua seniman kontemporer Tiongkok, Liang Manqi dan Zhang Ding, turut menghadirkan karya yang memperluas pembahasan tentang warna dan cahaya ke dalam ruang.
Liang Manqi menghadirkan Boundless Synesthesia, sebuah instalasi yang membawa lukisan keluar dari batas kanvas dan masuk ke dinding, lantai serta ruang tiga dimensi. Sementara Zhang Ding menghadirkan The Form of Light, instalasi yang menggunakan panel cahaya berwarna emas dan bentuk kepala manusia dari kaca transparan dengan permukaan menyerupai batu permata.
Scenography pameran sendiri dikembangkan bersama studio arsitektur SANAA dan studio desain Italia Formafantasma. Arsitektur, cahaya dan material tidak sekadar menjadi latar bagi perhiasan, tetapi ikut membangun pengalaman visual Kaleidos.
Sebuah Bahasa yang Melampaui Batas

Sketch from Bulgari Historical Archive.
Please ask to Brand Heritage Department for any use.
Ada alasan mengapa warna menjadi tema yang menarik bagi sebuah Maison seperti Bvlgari. Warna dapat dikenali secara universal, tetapi maknanya bisa sangat personal dan kultural. Merah, misalnya, memiliki asosiasi yang kuat dengan vitalitas dan kemakmuran dalam budaya Tiongkok. Dalam sebuah pameran perhiasan, warna tersebut dapat hadir melalui ruby, coral atau kombinasi batu lainnya, tetapi konteks budaya membuat pengalaman melihatnya menjadi berbeda.
Kaleidos Shanghai kemudian memperluas pertanyaan tersebut: bagaimana sebuah Maison dengan akar Italia membaca kembali bahasa warnanya ketika berhadapan dengan tradisi Tiongkok? Jawabannya hadir melalui perhiasan, seni, cahaya dan ruang. Tidak ada satu bahasa yang menjadi lebih dominan. Sebaliknya, semuanya bertemu melalui satu elemen yang sama: warna.
Bvlgari Kaleidos: Colors, Cultures and Crafts berlangsung di Power Station of Art, Shanghai, dari 5 September hingga 31 Oktober 2026. Sebuah perjalanan visual yang menunjukkan bahwa dalam High Jewelry, warna bukan hanya sesuatu yang dilihat—tetapi juga sesuatu yang dapat membawa sejarah, budaya dan gagasan ke dalam satu karya.



