Bukan lagi sekadar soal seberapa sering pergi. Traveler Indonesia kini tampaknya lebih tertarik membuat setiap perjalanan terasa lebih penuh, lebih bermakna, dan tentu saja, lebih worth it.
Ada perubahan menarik dalam cara traveler Indonesia memandang perjalanan. Mereka masih ingin pergi lebih sering, tetapi yang lebih menonjol adalah keinginan untuk mengeluarkan lebih banyak uang dalam satu perjalanan, mengunjungi lebih banyak tempat, dan mengumpulkan lebih banyak pengalaman.
Temuan tersebut muncul dalam Hilton South East Asia Pulse Check, survei yang dilakukan pada Juni 2026 terhadap 3.000 responden di enam negara Asia Tenggara, masing-masing 500 responden dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Responden terbagi dalam empat generasi, mulai dari Gen Z hingga Baby Boomers.

Dan Indonesia punya satu angka yang cukup mencolok.
Sebanyak 68% traveler berbasis Indonesia mengatakan mereka berencana mengeluarkan lebih banyak uang untuk setiap perjalanan. Angka ini bahkan lebih tinggi dibandingkan mereka yang berencana mengunjungi lebih banyak destinasi dalam satu perjalanan, sebesar 58%, bepergian lebih sering sebesar 46%, atau mengambil perjalanan yang lebih panjang sebesar 40%.
Artinya, masa depan travel mungkin bukan semata-mata tentang “more trips”, melainkan “more value per trip.”
Lebih Banyak Budget, Tapi Bukan Berarti Berhenti Mencari Value
Menariknya, keinginan untuk spending lebih besar ternyata berjalan beriringan dengan sikap yang tetap sangat selektif.
Ketika memilih destinasi di Asia Tenggara, 52% traveler Indonesia menempatkan value for money sebagai pertimbangan utama, disusul food and culinary experiences sebesar 50%, serta nature and outdoor adventures sebesar 35%.
Di sinilah menariknya perubahan perilaku tersebut.
Traveler mungkin bersedia mengeluarkan lebih banyak uang, tetapi mereka tetap ingin tahu apa yang mereka dapatkan sebagai gantinya.
Bukan sekadar kamar hotel yang lebih mahal, misalnya, tetapi lokasi yang lebih strategis, restoran yang bagus, pengalaman lokal, wellness, akses ke alam, atau itinerary yang terasa lebih effortless.
Ketika memilih hotel pun polanya serupa. Value for money berada di posisi pertama dengan 65%, sangat dekat dengan convenient location sebesar 64%. Setelah itu, quality dining options mencapai 58%, family-friendly amenities 47%, dan reputasi atau kepercayaan terhadap brand hotel 41%.
Dengan kata lain, “mahal” saja sudah tak cukup.
Traveler ingin merasa bahwa uang yang dikeluarkan memang membuat perjalanan menjadi lebih baik.
Satu Trip, Banyak Cerita
Ada perubahan lain yang juga cukup menarik. Traveler Indonesia ternyata termasuk yang paling gemar mengeksplorasi destinasi baru di kawasan Asia Tenggara.
Sebanyak 62% biasanya mengunjungi beberapa kota atau area dalam satu negara dalam satu perjalanan. Hanya 29% yang memilih bertahan di satu destinasi, sementara 9% melakukan perjalanan lintas beberapa negara dalam satu trip.
Ke depan, 49% bahkan berencana lebih banyak mengeksplorasi destinasi baru, sementara 41% ingin mengombinasikan destinasi baru dengan tempat-tempat yang sudah familiar. Hanya 11% yang berencana lebih banyak kembali ke destinasi yang sama.

Ini memberi gambaran tentang traveler yang semakin curious.
Mereka tak cuma ingin pergi ke Bangkok. Mereka mungkin ingin Bangkok, Ayutthaya, lalu Chiang Mai. Bukan cuma Bali, tapi sekaligus mengeksplorasi destinasi lain di Indonesia. Bahkan ketika memilih satu negara, itinerary-nya pun dibuat lebih kaya.
Satu perjalanan, beberapa destinasi, lebih banyak cerita.
Kuliner Ternyata Jadi Bahasa Universal Traveler Indonesia
Kalau ada satu hal yang tampaknya selalu berhasil menggoda traveler Indonesia, jawabannya cukup jelas: kuliner.
Dalam daftar pengalaman yang paling dicari, culinary tours berada di posisi pertama dengan 61%, diikuti cultural and heritage experiences sebesar 51%, nature and adventure 49%, serta slow travel and longer stays yang juga mencapai 49%.
Secara regional, makanan bahkan menjadi pengalaman travel nomor satu di Indonesia, Filipina, Malaysia, Vietnam, dan Singapura. Indonesia mencatat angka 61%, tertinggi kedua setelah Filipina yang mencapai 62%.
Ini menunjukkan bahwa perjalanan semakin sulit dipisahkan dari pengalaman makan.
Kuliner bukan lagi sekadar kebutuhan ketika berada di destinasi. Ia sudah menjadi alasan untuk pergi.
Mencari restoran tertentu, mencicipi makanan lokal, mengikuti culinary tour, atau bahkan memilih hotel karena kualitas dining experience-nya, semuanya bisa menjadi bagian dari alasan seseorang menentukan perjalanan.
Slow Travel Mulai Mendapat Tempat
Yang juga menarik, traveler Indonesia ternyata tak cuma mengejar sebanyak mungkin tempat.
Sebanyak 49% menunjukkan ketertarikan pada slow travel dan longer stays.
Sekilas ini memang terdengar bertentangan dengan fakta bahwa 62% traveler Indonesia suka mengunjungi beberapa destinasi dalam satu negara.
Tapi justru di situlah gambaran traveler modern menjadi lebih menarik.
Mereka mungkin ingin mengeksplorasi lebih banyak tempat, tetapi di saat yang sama menginginkan pengalaman yang lebih dalam ketika berada di sana.
Bukan sekadar datang, foto, checklist, lalu pergi.
Ada keinginan untuk benar-benar menikmati destinasi, makan di tempat lokal, memahami budaya, menikmati alam, atau sekadar punya waktu untuk tidak melakukan apa-apa.
Gen Z Tidak Main-Main Soal Traveling
Generasi yang lebih muda juga menjadi salah satu motor perubahan ini.
Di Indonesia, 64% Gen Z berencana spending lebih banyak sekaligus mengunjungi lebih banyak destinasi dalam satu perjalanan. Sebanyak 55% berencana bepergian lebih sering, sementara 45% mengharapkan perjalanan yang lebih panjang.
Jadi anggapan bahwa Gen Z selalu mencari perjalanan murah mungkin perlu dipikirkan kembali.
Yang terlihat dari survei ini justru generasi muda punya appetite yang besar terhadap travel, tetapi mereka juga semakin tertarik pada pengalaman.
Di tingkat Asia Tenggara, Gen Z juga menunjukkan ketertarikan terhadap pengalaman yang berkaitan dengan self-discovery dan personal growth, yang mencapai 34%.
Travel bagi generasi ini tampaknya bukan hanya tentang “pergi ke mana”, tetapi juga “saya akan menjadi siapa setelah pulang?”
Traveler Indonesia Ternyata Cukup Spontan
Ada satu karakter lain yang cukup menarik: traveler Indonesia ternyata tidak selalu merencanakan perjalanan jauh-jauh hari.
Sebanyak 56% merencanakan perjalanan dalam waktu empat minggu sebelum keberangkatan. Rinciannya, 23% merencanakan kurang dari dua minggu sebelumnya dan 33% sekitar dua sampai empat minggu sebelumnya.
Bandingkan dengan mereka yang merencanakan satu sampai tiga bulan sebelumnya, sebesar 32%, sementara hanya 7% yang merencanakan tiga sampai enam bulan sebelumnya dan 4% lebih dari enam bulan.

Ini bisa menjelaskan mengapa social media punya pengaruh yang begitu besar terhadap keputusan travel traveler Indonesia.
Ketika inspirasi bisa muncul pagi ini di TikTok atau Instagram, bukan tidak mungkin keputusan untuk pergi sudah berubah menjadi booking beberapa minggu kemudian.
Dari Instagram dan TikTok ke AI
Perjalanan traveler Indonesia juga semakin digital.
Dalam survei regional Hilton, social media masih menjadi sumber inspirasi yang lebih kuat dibandingkan AI. Secara regional, social media memengaruhi pilihan destinasi sebesar 78%, dibandingkan AI 63%. Untuk menentukan pengalaman dan aktivitas, social media mencapai 72%, sementara AI 63%.
Namun AI mulai masuk ke tahap yang berbeda.
Ketika memilih akomodasi, pengaruh social media berada di angka 67%, sementara AI sudah mencapai 61%. Ini menunjukkan AI mulai berperan bukan hanya sebagai tempat bertanya, tetapi sebagai travel planning companion.
Di Asia Tenggara, YouTube dan TikTok menjadi dua platform utama untuk mendapatkan inspirasi travel, masing-masing 75% dan 71%. Di kalangan Gen Z, TikTok bahkan mencapai 84%.
Hotel Pun Tak Lagi Cuma Tempat Tidur
Perubahan perilaku traveler juga membuat peran hotel ikut bergeser.
Di tingkat Asia Tenggara, value for money dan location masih menjadi dua faktor terpenting ketika memilih hotel. Namun quality dining dan family-friendly amenities juga semakin penting.
Untuk traveler Indonesia, bahkan 58% mempertimbangkan quality dining options ketika memilih hotel.
Ini memperkuat satu tren besar dalam hospitality: hotel semakin diharapkan menjadi bagian dari pengalaman perjalanan, bukan sekadar tempat tidur setelah seharian sightseeing.
Hotel dengan restoran menarik, wellness experience, akses alam, desain yang distinctive, atau aktivitas yang membuat tamu betah, punya peluang lebih besar untuk menjadi bagian dari alasan seseorang memilih sebuah destinasi.
Lalu, Apa Artinya Semua Ini?
Kalau seluruh angka tersebut dirangkum, traveler Indonesia pada 2026 terlihat seperti ini:
Mereka ingin pergi. Mereka bersedia membayar lebih. Tapi mereka ingin uangnya terasa worth it.
Mereka ingin mencoba tempat baru, tetapi tidak keberatan kembali ke destinasi favorit. Mereka tertarik pada banyak destinasi dalam satu perjalanan, tetapi juga mulai mengapresiasi slow travel. Mereka mencari makanan, budaya, alam, dan pengalaman yang bisa memberikan sesuatu lebih dari sekadar foto untuk Instagram.
Dan yang paling menarik, keputusan perjalanan mereka semakin dibentuk oleh dunia digital.
Jadi mungkin definisi “luxury travel” juga sedang berubah.
Luxury bukan selalu tentang hotel paling mahal atau itinerary paling eksklusif.
Kadang luxury adalah punya waktu lebih panjang untuk menikmati sebuah tempat. Memilih restoran karena pengalaman kulinernya. Menginap di lokasi yang tepat sehingga tak perlu menghabiskan waktu di jalan. Mengunjungi destinasi baru yang belum terlalu ramai. Atau simply, membayar lebih untuk sebuah perjalanan yang benar-benar terasa worth it.
Dan kalau melihat angka 68% tadi, tampaknya semakin banyak traveler Indonesia yang mulai berpikir seperti itu.
Hilton Juga Membaca Arah Perubahan Ini
Pertumbuhan appetite terhadap experience-led travel tersebut datang ketika Hilton terus memperluas portofolionya di Asia Tenggara. Hilton saat ini menyebut memiliki 124 properti di kawasan tersebut, dengan sejumlah pembukaan baru dan upcoming properties yang menyasar kebutuhan berbeda, dari resort, wellness, lifestyle hingga luxury travel.
Di Indonesia, Hilton Padalarang Bandung hadir dengan 218 kamar di Kota Baru Parahyangan, dekat Padalarang High-Speed Train Station, serta menawarkan dining, fitness, meeting dan event spaces.
Sementara itu, Hilton juga mencantumkan Waldorf Astoria Jakarta yang dijadwalkan hadir pada 2028 sebagai debut brand Waldorf Astoria di Indonesia, dengan 183 kamar, tiga konsep dining, wellness facilities, outdoor pool, dan fitness centre.
Di kawasan Asia Tenggara, ekspansi juga bergerak ke destinasi leisure yang semakin menarik perhatian, termasuk Phu Quoc, Phuket, Langkawi, Chiang Rai, dan berbagai destinasi lainnya.
Pada akhirnya, survei ini memperlihatkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar angka tentang hotel atau perjalanan.

