Di tengah gegap gempita Ubud yang kian lelah menjual eksotisme, hadir satu ruang baru yang tak hanya menawarkan keindahan, tapi juga kedalaman. Ubud Art Ground (UAG) diluncurkan secara resmi lewat pameran seni internasional bertajuk Parallels: Legacies in Flux pada 11 Juli 2025, bertempat di Gudang Kayu, Batu Kurung Estate. Lebih dari sekadar ruang pamer, UAG adalah upaya sadar untuk menjembatani akar tradisi dengan bahasa artistik kontemporer, menghadirkan 70 lebih seniman dari Bali dan Tiongkok dalam satu percakapan panjang yang tak selalu nyaman, tapi perlu.

Pameran menafsir ulang warisan budaya
Bagian pertama dari pameran ini, Legacies in Flux: Bali, dikurasi oleh Farah Wardani, menghadirkan 51 seniman Bali yang menafsir ulang warisan mereka lewat lima pendekatan: dari karya instalasi luar ruang I Made Djirna yang subtil namun mengusik, hingga karya perupa muda yang menolak dibekukan dalam stereotip “tradisi”. Sementara di sisi lain, Legacies in Flux: China kurasi Prof. Qiu Ting, Dekan CAFA Beijing, menjadi eksplorasi bagaimana teknik guohua yang klasik disulap menjadi narasi baru yang berbicara dalam bahasa masa kini—tajam, reflektif, dan sangat sadar konteks.

Ekosistem Ubud Art Ground 2025
Yang menjadikan UAG menarik bukan hanya karena skalanya, tapi karena keberaniannya menjadi ekosistem. Terletak di atas lahan 5.000 m² dengan visi membangun pusat seni 2.000 m² ke depan, UAG bukan mimpi sementara. Gudang Kayu sebagai ruang awal hanyalah “starter”—laboratorium ide yang menolak kemewahan palsu dan memilih menjadi wadah tumbuh bagi dialog lintas budaya dan generasi. Ia bukan tempat untuk selfie. Ia tempat untuk berpikir, untuk merasa, dan kadang—untuk bertanya ulang: apa makna menjadi seniman hari ini?

Ruang hidup seni
Dengan dukungan penuh dari Yayasan Satya Djaya Raya, UAG lahir bukan sebagai galeri, tapi sebagai ruang hidup. Seperti kata Yuanita Sawitri, direktur UAG, “Ini bukan sekadar ruang seni, tapi jaringan pikiran yang saling bersinggungan.” Sementara Yulia Kurniawan dari yayasan pendukungnya menegaskan: tradisi tidak bisa dibiarkan beku, ia harus ditantang agar tetap hidup. Maka, jika selama ini Bali dikenal lewat “warisan”, kini ia mulai bicara tentang legasi dalam transisi. Dan UAG adalah salah satu suara pertamanya.






