Ada tempat yang tidak lahir dari tren, melainkan dari ingatan. tara adalah salah satunya. Bar koktail di kawasan Senopati menjadi ruang yang tumbuh dari perjalanan panjang sebuah benda kecil bernama teko. Dari sanalah cerita tara bermula, sebelum lampu temaram dan gelas kristal bertemu di Jakarta.
Sebuah Perjalanan yang Dimulai dari Meja Makan
Tahun 1947, sebuah teko sederhana ikut menempuh perjalanan besar dari Pakistan menuju India. Ia dibawa bukan karena nilainya yang mewah, melainkan karena ikatan emosional yang melekat padanya. Teko itu menjadi saksi hidup yang berpindah tangan, berpindah kota, berpindah negara. Dari India, ia melanjutkan perjalanan ke Bangkok, hingga akhirnya menemukan rumah baru di Jakarta.
Perjalanan panjang ini menjadi fondasi konsep tara. Sebuah ruang yang merayakan perpindahan, percampuran budaya, dan memori yang terbentuk di sepanjang jalan. Konsep third culture bukan hadir sebagai istilah abstrak, melainkan sebagai pengalaman yang bisa kamu rasakan langsung lewat rasa dan suasana.
Bar yang Hidup di Ruang Antara

Masuk ke tara, kesan pertama bukan kemewahan yang dingin, melainkan kehangatan yang familiar. Rasanya seperti masuk ke ruang tamu di rumah teman. tara hidup di ruang antara. Antara rumah dan bar, nostalgia dan energi urban, dan masa lalu yang penuh cerita dan masa kini yang terus bergerak.
Di sinilah orang datang untuk minum, tinggal lebih lama, berbagi cerita, dan membiarkan malam berjalan apa adanya. Tak ada sekat antara meja. Semua orang bisa berbaur dalam satu ruang komunal.
Menu yang Personal
Hal menarik dari tara jakarta adalah pendekatannya terhadap makanan dan minumannya. Menunya dirancang dari latar belakang pemiliknya yang memang gemar memasak. Pengalaman memasak di rumah, menyajikan makanan untuk orang orang terdekat, terasa kuat di setiap hidangan.

Ada sensasi seperti sedang main ke rumah teman. Duduk, berbincang, lalu tiba tiba disodori camilan. Salah satu contohnya adalah Fried Chicken Skin dengan Thai dipping sauce yang krispi dan gurih.
Menu makanan di tara jakarta terasa akrab, tapi tidak biasa. Lamb Momo with Peanut Chutney misalnya. Momo adalah dumpling khas wilayah Himalaya, di sini dipadukan dengan saus kacang yang mengingatkan pada bumbu sate. Kombinasi ini terasa dekat dengan lidah lokal, namun tetap membawa cerita lintas budaya.
Ada juga Tuna Croquette dengan caper aioli. Teksturnya lembut, bersih, dan memberi jeda di antara rasa rasa berbumbu kuat. Sementara Dry Laksa menjadi contoh bagaimana tradisi bisa diolah ulang. Laksa versi kering tanpa kuah ini sengaja diciptakan agar lebih mudah disantap di bar, tanpa kehilangan karakter rasa khasnya.

Untuk penutup, Coconut Tres Leches hadir dengan manis yang pas. Terbuat dari beberapa jenis susu, dessert ini terasa ringan dan menenangkan, seperti akhir percakapan yang menyenangkan.
Minuman di tara dibuat dengan pendekatan yang sama personalnya. Banyak bahan diracik dari awal, menggunakan elemen yang familiar di kehidupan sehari hari seperti kemangi, hibiscus, rempah.

Kemangi Martini misalnya. Tanqueray gin yang diinfus kemangi, dry vermouth, dan olive oil menghasilkan minuman yang segar. Hibiscus Sour membawa karakter berbeda. Warna merah muda lembutnya ternyata berasal dari campuran hibiscus syrup, lemon, dan egg white. Sementara Sate Ayam menjadi pernyataan berani. Mezcal, shallot, peanut, homemade bone broth, salt tincture, dan chilli tincture menyatu dalam satu sajian eksploratif.
Dengan kehangatan interior, makanan, dan minumannya, tara menjadi tempat di mana rasa, ingatan, dan manusia saling bertaut, lalu tinggal lebih lama dari yang direncanakan.

