STELLARISSA menghadirkan FREEDOM, sebuah pameran multidisiplin yang berlangsung di D Gallerie, Jakarta. Publik diajak memasuki ruang kontemplatif tempat couture, fotografi, film, dan craftsmanship bertemu dalam sebuah perayaan terhadap ekspresi diri dalam semesta gaun pengantin. FREEDOM hadir sebagai refleksi dari keberanian menjadi diri sendiri. Stella Rissa memandang kebebasan bukan hanya sebagai sebuah konsep, melainkan sebagai kondisi batin yang memungkinkan seseorang tetap autentik di tengah tekanan untuk menyesuaikan diri. Dalam narasi tersebut, fashion menjadi medium untuk merayakan individualitas, emosi, kerentanan, sekaligus semangat pemberontakan yang lembut dan elegan.

Couture berdetail kompleks
Delapan karya couture yang menjadi pusat pameran menampilkan interpretasi feminin yang lebih personal dan intuitif. Seluruhnya hadir dalam warna putih, simbol yang membuka ruang bagi beragam makna tentang kemurnian, kemungkinan, transformasi, dan harapan. Setiap siluet terasa seperti pernyataan yang bebas dari batasan konvensi, menghadirkan bahasa visual yang emosional sekaligus sangat manusiawi. Stella bermain dengan material Organdy, lace, tulle, dan duchess satin ditata dalam lapisan yang kompleks melalui proses manipulasi tekstil dan pengerjaan tangan yang detail. Berbagai jenis renda dibongkar lalu disusun ulang menjadi komposisi baru yang menghadirkan dialog antara masa lalu dan masa kini.

Eksperimen STELLARISSA
Eksperimen artistik juga terlihat pada instalasi material table yang menampilkan ragam teknik ornamentasi modern. Sembilan jenis material manik dirangkai dengan presisi tinggi, berpadu dengan buket bulu yang dijahit menggunakan teknik tambour serta bentuk-bentuk yang dibangun dari cetakan batu alam. Keseluruhan proses tersebut memperlihatkan dedikasi terhadap seni kriya yang semakin asing dalam dunia yang bergerak serba cepat.

STELLARISSA dan MAHIJA
Narasi kebebasan kemudian diperluas melalui kolaborasi dengan seniman Galuh Anindita dan visual director MAHIJA. Dalam interpretasinya, sosok angsa menjadi simbol utama yang merepresentasikan kerinduan, transformasi, dan harapan. Terinspirasi oleh puisi Le Cygne karya Stéphane Mallarmé, karya MAHIJA menghadirkan rantai yang terpilin, sayap pelindung, serta bentuk tetesan air mata sebagai metafora tentang hubungan, pengabdian, dan kerentanan. Kebebasan di sini dipahami sebagai proses menjadi, yang dibentuk oleh ketahanan, kelembutan, dan harapan yang terus bertahan.

Bidikan Indra Leonardi
Fotografer Indra Leonardi turut menghadirkan perspektif yang berbeda melalui karya berjudul WED | 31.07.2024 | 08, bagian dari proyek fotografi tahunannya, 365. Dikenal luas melalui karya-karya potret yang intim, kali ini Indra mengarahkan pandangannya pada momen-momen sederhana yang sering luput dari perhatian. Cahaya yang berlalu, bentuk yang samar, dan fragmen kehidupan sehari-hari diabadikan sebagai meditasi visual tentang kebebasan dalam melihat dan merasakan dunia.

FREEDOM bersama Asmara Abigail dan Ruben Torino
Pameran ini juga menampilkan film pendek kolaboratif berjudul FREEDOM yang diciptakan bersama Asmara Abigail dan Ruben Torino. Terinspirasi oleh Isadora Duncan, penari revolusioner yang menolak aturan balet tradisional dan memilih menari tanpa alas kaki, film tersebut menjadikan gerak tubuh sebagai ekspresi kebebasan emosional yang paling murni. Melalui perpaduan fotografi, film, perhiasan, musik, fashion, dan seni kriya, FREEDOM menghadirkan pengalaman imersif yang mengajak pengunjung memahami bahwa kebebasan tidak pernah hadir dalam satu definisi tunggal. Ia hidup dalam beragam bentuk, identitas, dan perjalanan personal yang terus berkembang.




