Kemewahan sering kali identik dengan bangunan megah, layanan eksklusif, dan pengalaman yang tak terlupakan. Namun di era saat ini, definisi kemewahan terus berkembang. Semakin banyak pelaku industri hospitality yang menyadari bahwa pengalaman terbaik bagi tamu tidak hanya diukur dari kenyamanan dan kemewahan semata, tetapi juga dari bagaimana sebuah destinasi mampu menjalankan operasionalnya secara bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.
Filosofi inilah yang menjadi inti perjalanan Luxina saat memenuhi undangan Marina Bay Sands dalam program bertema Where Sustainability Meets Art. Selama beberapa hari di Singapura, Luxina diajak melihat lebih dekat bagaimana sustainability telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya dan operasional salah satu integrated resort paling ikonik di dunia tersebut. Mulai dari pengelolaan energi dan air, pengurangan limbah, hingga berbagai program edukasi publik yang dikemas melalui seni dan pengalaman imersif.

Perjalanan ini juga bertepatan dengan peluncuran perdana dunia pameran Into the Ocean: Journey Beneath di ArtScience Museum, hasil kolaborasi dengan OceanX, organisasi eksplorasi laut terkemuka yang dikenal melalui berbagai ekspedisi ilmiah dan dokumentasi bawah laut kelas dunia. Pameran ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana Marina Bay Sands memanfaatkan kekuatan seni, teknologi, dan storytelling untuk membangun kesadaran terhadap isu lingkungan global.
Sustainability yang Sudah Menjadi Bagian dari DNA Marina Bay Sands
Berbeda dengan banyak perusahaan yang menjadikan sustainability sebagai program tambahan, Marina Bay Sands menempatkan keberlanjutan sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjangnya. Melalui kerangka kerja global Sands ECO360, berbagai inisiatif lingkungan diintegrasikan ke dalam operasional sehari-hari dengan fokus pada pengelolaan energi, konservasi air, pengurangan limbah, pengadaan berkelanjutan, perlindungan biodiversitas, hingga edukasi masyarakat.
Komitmen tersebut telah menghasilkan berbagai pencapaian yang terukur. Marina Bay Sands berhasil menurunkan jejak karbonnya hingga 19 persen sejak tahun 2015, sekaligus terus berinvestasi pada teknologi yang mampu meningkatkan efisiensi operasional tanpa mengurangi kualitas pengalaman tamu.

Salah satu fondasi utama dari strategi tersebut adalah Intelligent Building Management System senilai S$50 juta yang telah diterapkan sejak awal operasional Marina Bay Sands. Sistem ini memanfaatkan lebih dari 125.000 sensor yang memantau penggunaan listrik, pencahayaan, pendingin udara, kualitas udara, hingga konsumsi air secara real-time. Data yang dikumpulkan kemudian digunakan untuk mengoptimalkan operasional dan mengurangi dampak lingkungan tanpa mengorbankan kenyamanan tamu.
Teknologi yang Bekerja di Balik Layar
Luxina berkesempatan berbincang dengan Shawn Ng, Assistant Vice President of Hotel Operations Marina Bay Sands. Dengan pengalaman lebih dari 25 tahun di industri hospitality di Singapura, Malaysia, dan Makau, Shawn saat ini memimpin berbagai operasional hotel yang mencakup layanan kamar, guest services, concierge, transportasi, hingga Paiza Collection, koleksi akomodasi ultra-luxury Marina Bay Sands.
Menurut Shawn, teknologi memainkan peran penting dalam transformasi operasional Marina Bay Sands. Namun teknologi tidak digunakan untuk menggantikan sentuhan manusia yang menjadi esensi hospitality. Sebaliknya, berbagai sistem otomatisasi diterapkan untuk menyederhanakan proses internal sehingga para karyawan dapat lebih fokus memberikan pelayanan personal kepada para tamu.

Pendekatan yang sama juga diterapkan pada aspek keberlanjutan. Shawn menjelaskan bahwa kamar-kamar hotel Marina Bay Sands telah dilengkapi sistem manajemen energi cerdas yang mampu menyesuaikan pencahayaan, suhu pendingin udara, dan pengaturan tirai berdasarkan tingkat penggunaan ruangan. Teknologi tersebut memungkinkan konsumsi energi ditekan secara signifikan tanpa mengurangi kenyamanan yang diharapkan para tamu premium.
Bagi Marina Bay Sands, sustainability bukanlah proyek sesaat. Shawn menegaskan bahwa prinsip keberlanjutan telah tertanam dalam berbagai aspek operasional, mulai dari pemilihan pemasok yang memenuhi standar sustainability, penggunaan kendaraan listrik, pengurangan konsumsi energi, hingga eksplorasi berbagai cara untuk memanfaatkan kembali sumber daya yang sebelumnya dianggap sebagai limbah.
Menjaga Setiap Tetes Air
Salah satu praktik sustainability yang paling menarik perhatian Luxina adalah pendekatan Marina Bay Sands dalam mengelola air.
Di tengah meningkatnya tantangan global terkait ketersediaan air bersih, water stewardship menjadi salah satu pilar utama strategi keberlanjutan Marina Bay Sands. Melalui berbagai inovasi operasional dan program efisiensi, resor ini berhasil menghemat sekitar 13 juta liter air sepanjang 2025, dua kali lipat dari target awal yang telah ditetapkan.

Salah satu inisiatif yang paling inovatif adalah sistem pemulihan air kondensasi dari pendingin udara. Sejak 2016, Marina Bay Sands mengumpulkan dan mendaur ulang air yang dihasilkan oleh sekitar 3.000 unit pendingin udara yang tersebar di tiga tower hotel. Sistem ini mampu menghasilkan penghematan rata-rata 77.000 liter air setiap hari. Air yang berhasil dikumpulkan kemudian digunakan kembali untuk kebutuhan lanskap, fitur air di area properti, hingga berbagai kebutuhan operasional non-konsumsi lainnya. Hingga kini, lebih dari 200 juta liter air telah berhasil dihemat melalui program tersebut.
Selain itu, sistem irigasi lanskap Marina Bay Sands juga memanfaatkan teknologi berbasis cloud yang mampu menganalisis kebutuhan air setiap tanaman secara spesifik. Dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan curah hujan Singapura, sistem ini memastikan penggunaan air berlangsung secara optimal dan efisien.
Mengubah Limbah Menjadi Sumber Daya
Komitmen Marina Bay Sands terhadap sustainability juga terlihat dari cara mereka mengelola limbah.
Melalui strategi global E3R yang terdiri dari Eliminate, Reuse, Replace, dan Recycle, berbagai produk sekali pakai secara bertahap dikurangi dan digantikan dengan alternatif yang lebih berkelanjutan. Penggunaan dispenser isi ulang, amenitas berbahan bambu, hingga berbagai material yang dapat digunakan kembali telah menjadi bagian dari operasional sehari-hari.
Di area dapur, Marina Bay Sands menerapkan berbagai teknologi pemrosesan limbah makanan yang mampu mengurangi volume sampah sekaligus mengubahnya menjadi sumber daya baru. Teknologi WasteMaster, misalnya, memungkinkan limbah makanan diproses menjadi pakan ikan yang kemudian dimanfaatkan oleh pertanian akuaponik lokal. Sejak 2013, hampir 10 juta kilogram limbah makanan berhasil dialihkan dari tempat pembuangan akhir melalui berbagai program pengolahan dan daur ulang yang diterapkan.
Tak hanya itu, Marina Bay Sands juga aktif mendonasikan makanan yang masih layak konsumsi kepada berbagai organisasi sosial. Antara tahun 2016 hingga 2024, lebih dari 70.000 kilogram makanan berhasil disalurkan kepada komunitas yang membutuhkan di Singapura.
Ketika Seni Menjadi Sarana Konservasi
Salah satu aspek yang membedakan pendekatan Marina Bay Sands dibanding banyak perusahaan lain adalah kemampuannya menghubungkan sustainability dengan seni dan budaya.
Melalui ArtScience Museum, berbagai isu lingkungan diterjemahkan menjadi pengalaman yang lebih dekat dengan publik. Museum ini secara aktif menghadirkan pameran, program edukasi, dan kolaborasi bersama berbagai organisasi internasional seperti WWF, National Geographic, hingga OceanX untuk meningkatkan kesadaran terhadap isu perubahan iklim, biodiversitas, dan konservasi lingkungan.
Puncak pengalaman tersebut hadir melalui pameran Into the Ocean: Journey Beneath. Menggunakan rekaman eksklusif dari kapal riset OceanXplorer, pengunjung diajak menjelajahi berbagai lapisan samudra, mulai dari terumbu karang perairan Singapura, organisme mikroskopis, hingga ekosistem laut dalam yang memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas iklim bumi.

Pameran ini tidak hanya menampilkan data ilmiah, tetapi juga menghadirkan pengalaman multisensorik yang menggabungkan visual, suara, ruang imersif, dan instalasi artistik. Hasilnya adalah sebuah pengalaman yang mampu menghubungkan emosi pengunjung dengan realitas yang sedang dihadapi lautan dunia saat ini.
Masa Depan Kemewahan yang Lebih Bertanggung Jawab
Kunjungan Luxina ke Marina Bay Sands memperlihatkan bahwa sustainability bukan lagi sekadar tren dalam industri hospitality global. Di Marina Bay Sands, keberlanjutan telah berkembang menjadi fondasi yang memengaruhi cara sebuah resor dirancang, dioperasikan, dan berinteraksi dengan masyarakat.
Melalui investasi pada teknologi, pengelolaan sumber daya yang cermat, inovasi operasional, serta berbagai program edukasi publik, Marina Bay Sands berhasil menunjukkan bahwa kemewahan dan tanggung jawab lingkungan bukanlah dua hal yang saling bertentangan.
Sebaliknya, keduanya dapat berjalan beriringan untuk menciptakan pengalaman yang lebih bermakna, tidak hanya bagi para tamu yang datang hari ini, tetapi juga bagi generasi yang akan menikmati dunia di masa depan.


