Di tengah derasnya arus modernitas yang menelan banyak tradisi, I Gusti Ngurah Indrajaya, memilih jalannya sendiri. Anak muda asal Badung Bali ini berupaya di antara usia produktifnya untuk mengibarkan panji wastra Nusantara. Sejak belia, Indra sudah merasa jadi bagian dari kultur tenun Bali, lembar tekstil turun temurun yang memantulkan filosofi Hindu-Bali, sebuah warisan yang mengekspresikan kesabaran dan ketekunan. Baginya, keindahan Bali tidak hanya tergambar pada lanskap sawah dan pura, melainkan juga pada benang-benang yang ditenun dengan tangan dan hati.

Toko Tenun Wirajaya, Showroom Kecil dengan Jiwa Besar
Secara swadaya, Indra mendirikan sebuah showroom sederhana, hanya tujuh menit dari kawasan resor The Westin Ubud. Ia menamainya Tenun Wirajaya, sebuah toko sekaligus galeri kecil yang menampung kain-kain Cagcag Karangasem. Meski berukuran mungil, showroom ini tertata rapi, modern, namun tetap menyatu dengan lanskap pedesaan di sekitarnya. Kontras yang manis, di antara puri-puri tradisional, berdiri ruang kontemporer yang memperlihatkan wastra Bali dengan lugas.


Hubungan dengan Penenun Karangasem
Namun bagi Indra, toko ini bukan sekadar ruang usaha. Ia menjadikannya jendela kecil untuk dunia melihat keanggunan budaya Bali. Instagram: @tenun_wirajaya . Indra bekerja langsung dengan para penenun Karangasem, menjaga mutu dan ketelitian dengan mata yang jeli. Satu helai wastra membutuhkan waktu tenun antara dua hingga tiga bulan. Dalam tiap helai kain, Indra membaca kesungguhan, ketekunan, bahkan denyut jiwa si penenun.
“Saya bisa tahu penenun terburu-buru hanya dari bentuk leher motif burung. Kalau lehernya terlalu pendek, berarti ada waktu yang dipersingkat,” ujarnya.

Tenun Cagcag Karangasem: Warisan Tekstil Sakral dari Sidemen
Tenun Cagcag adalah teknik tenunan khas dari Sedemen terutama dari Sedemen, Karangasem. Nama “cagcag” muncul dari bunyi ritmis alat gedogan kayu yang digunakan saat menenun, “cag, cag”, suara harmoni sederhana antara tangan, benang, dan jiwa. Dari proses ini lahir kain songket, kain sakral yang dipercaya membawa energi protektif. Motif-motifnya sarat simbol kosmologi: gunung, bunga, naga, dengan warna dominan merah, hitam, kuning, dan biru tua dari pewarna alami akar, daun, hingga kulit kayu.

Tingkatan Tenun Cagcag
Tenun Cagcag sendiri terdiri dari 3 jenis bahan dasar, yaitu: Bahan katun, bahan dasarnya dari benang katun yang biasanya di padukan dengan benang Banyumas biasa (lumer); Bahan semi sutra menggunakan paduan benang katun dan benang sutra dan bisanya di padukan dengan benang Banyumas (cendana); Bahan sutra, kualitas bahan terbaik songket, ditenun dari benang sutra dan di padukan dengan benang Banyumas (lalubai). Bagi Indra, tiap jenis wastra ini bukan sekadar soal estetika, melainkan kisah spiritualitas yang dalam. Indra bisa dijumpai di toko Tenun Wirajaya miliknya, di Jalan Cempaka 1 no. 12 BR Samu Mekar Bhuwana, Kecamatan Abiansemal, Kab. Badung, Bali










