Ketika sebuah rumah wewangian memilih menggandeng seorang seniman lokal untuk menyambut kehadiran butik pertamanya di Indonesia, yang lahir bukan sekadar karya dekorasi interior, melainkan sebuah dialog budaya, dan kebanggaan bagi kancah seni rupa kita. Itulah yang dilakukan Diptyque saat membuka butik perdananya di Plaza Indonesia dengan menggandeng seniman Indonesia, Mangmoel. Kolaborasi ini sebenarnya tidak asing bagi Diptyque. Sejak awal berdiri, Diptyque memang dibangun oleh tiga orang seniman yang percaya bahwa aroma, ruang, dan karya visual selalu memiliki hubungan yang tak terpisahkan.

1961 di Paris
Diptyque didirikan pada tahun 1961 oleh tiga sosok kreatif yang berasal dari disiplin seni berbeda. Yves Coueslant dikenal sebagai desainer panggung yang piawai membangun atmosfer visual, Christiane Gautrot merupakan desainer interior dengan sensitivitas tinggi terhadap ruang, sementara Desmond Knox Leet adalah seorang pelukis yang menciptakan identitas visual Diptyque melalui ilustrasi dan tipografi yang hingga kini tetap menjadi ciri khas jenama tersebut.

Diptyque dan Seni Multisensori
Latar belakang artistik ketiga pendiri inilah yang menjelaskan mengapa Diptyque selalu memandang sebuah butik sebagai karya utuh, bukan sekadar tempat berjualan parfum. Setiap ruang dirancang sebagai pengalaman multisensori, tempat aroma, cahaya, tekstur, furnitur, hingga karya seni saling melengkapi. Dalam konteks tersebut, kehadiran instalasi Mangmoel terasa seperti melanjutkan percakapan yang telah dimulai oleh ketiga pendiri Diptyque lebih dari enam puluh tahun silam.

2026 di Plaza Indonesia, Jakarta
Butik seluas 92 meter persegi yang baru diresmikan di Plaza Indonesia, menjadi interpretasi kontemporer dari butik legendaris Diptyque di 34 Boulevard Saint Germain, Paris. Sejak melewati fasad hijau ikonis dan lantai mosaik yang dirancang khusus, pengunjung memasuki ruang yang bagaikan rumah seorang kolektor dari pada sebuah butik parfum. Lantai parket kayu gelap, dinding bertekstur stucco, furnitur penuh warna, hingga objek seni yang dipilih secara personal menghadirkan suasana hangat yang menjadi identitas maison asal Prancis tersebut selama lebih dari enam dekade.


Mangmoel Merajut Diptyque
Di ruang utama itulah karya Mangmoel mengambil peran penting. Menggantung di atas fragrance counter, instalasi crochet art tersebut langsung menjadi titik perhatian yang mengikat keseluruhan pengalaman ruang. Mangmoel memerlukan waktu dua tahun, sejak mulai dari dihubungi Diptyque, komunikasi kreatif, produksi, hingga akhirnya terpajang di Plaza Indonesia. Mangmoel melibatkan sepuluh perajin dari tim Konco Mogus untuk membuat kolaborasi pertama Mangmoel bersama sebuah maison parfum internasional.

Warna Alam Diptyque
Pilihan warna earth tone yang mendominasi karya tersebut terasa begitu selaras dengan bahasa visual Diptyque. Terakota, krem, cokelat muda, hingga aksen oranye membangun lanskap bawah laut yang tidak hadir secara harfiah, melainkan melalui interpretasi artistik yang tenang dan penuh kedalaman. Kehangatan warna tersebut juga memperkuat atmosfer butik yang mengusung konsep rumah kolektor dengan karakter personal, intim, dan penuh cerita.

Tekstur Organik Mangmoel
Melalui teknik crochet, Mangmoel menghadirkan tekstur organik yang menyerupai pertumbuhan terumbu karang, anemon, serta kehidupan bawah laut yang kompleks. Setiap simpul rajutan membangun dimensi yang kaya, menghasilkan komposisi tiga dimensi yang hidup ketika bersentuhan dengan pencahayaan butik. Kehadiran siluet ikan berwarna kuning yang tersebar di antara komposisi utama memberikan ritme visual yang lembut sekaligus menghadirkan narasi mengenai ekosistem laut yang terus bergerak.

Imajinasi Lanskap Bawah Laut
Karya tersebut juga memperlihatkan bagaimana Mangmoel memahami alam bukan sebagai objek yang harus direplikasi, melainkan sebagai memori yang diterjemahkan kembali melalui bahasa crochet yang tekstural. Ia melakukan abstraksi terhadap bentuk-bentuk organik sehingga pengunjung tidak sekadar melihat terumbu karang, tetapi juga merasakan suasana yang ditimbulkan oleh lanskap bawah laut. Pendekatan seperti inilah yang sejak lama menjadi fondasi kreatif Diptyque dalam meracik setiap aroma, yaitu membangkitkan kenangan melalui interpretasi, bukan reproduksi.

Mangmoel dan Wewangian
Nilai craftsmanship menjadi titik temu berikutnya. Teknik crochet yang digunakan membutuhkan ketelitian tinggi, kesabaran, serta waktu panjang, sebagaimana alam memerlukan puluhan bahkan ratusan tahun untuk membentuk terumbu karang yang megah. Filosofi proses yang lambat tersebut terasa sangat dekat dengan karakter Diptyque yang selalu mengutamakan kualitas pengerjaan dibandingkan produksi massal. Di sinilah instalasi Mangmoel memperoleh bobot artistik yang jauh melampaui fungsi dekoratif. Ini adalah kolaborasi pertama Mangmoel dengan rumah wewangian, namun selanjutnya Mangmoel tengah mengikuti program residensi seniman bersama Rumah Atsiri Indonesia (sebuah destinasi wisata edukasi dan wellness aromatik yang berlokasi di Desa Plumbon, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah).

Ayo kami tunggu perusahaan Perancis yang lain
Pada akhirnya, pembukaan butik pertama Diptyque di Jakarta memperlihatkan bahwa industri beauty dari Paris sudah sampai pada taraf membuka diri merangkul seniman Indonesia. Sudah sepantasnya kita pun menunggu kembali, siapa produk-produk Paris lainya, fashion dan beauty, bersinergi dengan sekian banyak seniman-seniman Indonesia lain yang sedang dan semakin bersinar, di antaranya ada Chuans Lee, Fauzan, Joko Nastain, dan Theresia Agustina.

