Ada momen ketika dunia seni dan investasi saling bersua dalam satu panggung yang lebih besar: Art Jakarta 2025. Tahun ini, pameran seni terbesar di Asia Tenggara menghadirkan 75 galeri dari 16 negara, dengan lebih dari separuh peserta berasal dari Indonesia. Namun bukan hanya kanvas, patung, atau instalasi yang menjadi sorotan. Kehadiran nama-nama besar dari dunia keuangan global—mulai dari Julius Baer, Bibit, Stockbit, Treasury, hingga BCA—memberi dimensi baru, menautkan nilai estetika dengan horizon investasi jangka panjang.

Art Jakarta 2025 – Destroy Bad Art
Julius Baer, grup manajemen kekayaan asal Swiss yang dikenal dengan tagline “creating value beyond wealth”, menegaskan posisinya dengan menggandeng Eddie Hara. Sang seniman nyentrik yang telah lama bermukim di Basel ini menampilkan karya bertajuk “CALL 911. DESTROY BAD ART”, sebuah ironi sekaligus seruan yang mengajak audiens untuk mempertanyakan definisi seni itu sendiri. Karya Hara, yang berlapis humor dan kritik, hadir di Julius Baer VIP Lounge, dilengkapi sesi meet-and-greet yang memungkinkan interaksi intim dengan sang maestro.

Seni dan Portrait of Possibilities
Sementara itu, Agus Suwage menghadirkan “Portrait of Possibilities”, iterasi baru dari karya monumentalnya yang terdiri dari 60 panel seng bergambar dirinya sendiri. Setiap wajah—kadang tertawa, kadang menyimpan iman, kadang berubah jadi binatang atau terbakar api—membuka refleksi tentang kondisi manusia. Suwage, dengan bahasa visual potret diri, kembali menyoroti ketidakadilan dan intoleransi, mengajak publik untuk bercermin pada wajah dunia hari ini.

Ranah Instalasi
Di ranah instalasi interaktif, kolaborasi antara Azizi Al Majid dan Nuri Fatimah melalui “Reserve of Care” mengguncang persepsi tentang makna kekayaan. Empat kaki meja—Shelter, Wealth, Care, dan Love—menjadi metafora nilai-nilai keluarga yang setara pentingnya dengan emas dan modal. Karya ini selaras dengan semangat Treasury, platform investasi emas digital yang mengedepankan kemudahan, keamanan, dan masa depan yang inklusif.

Perbankan Dalam Ruang Seni
Teknologi perbankan juga menemukan ruang artistiknya lewat kolaborasi myBCA dengan seniman pop-art Muklay. Instalasi spatial Muklay, penuh karakter ikonik dengan humor satir, menghadirkan pengalaman interaktif yang mencerminkan kualitas aplikasi perbankan digital: responsif, dekat, dan menghibur. Bagi generasi muda, ini bukan sekadar seni—tetapi juga representasi gaya hidup urban yang cair antara transaksi, hiburan, dan ekspresi diri.

SUPERMUSIC dan Instalasi Audiovisual
Tidak ketinggalan, SUPERMUSIC menghadirkan The Acceptance Gallery, sebuah ruang transformatif yang memadukan karya seni, instrumen musik, hingga produk keseharian buatan pengrajin Jawa. Galeri ini sekaligus pernyataan bahwa musik, seni, dan identitas anak muda adalah denyut yang tak bisa dipisahkan. Begitu pula karya Ricky Janitra dengan “Lumiphona.Dat”, instalasi audiovisual berbasis data cuaca dari panel surya iForte, yang menjelma jadi orkestra kenong dalam tempo lambat, menghadirkan kontemplasi tentang keterhubungan kosmos.

Horizon Baru
Akhirnya, instalasi “New Horizon” dari Jessica Soekidi menutup lingkaran dengan puisi visual tentang matahari terbit. Piramida terbalik yang menggantung dari langit-langit, disertai batu-batu sebagai tempat duduk, mengundang pengunjung merenungi momen reset—sebuah pengingat bahwa horizon baru selalu menanti. Dengan hadirnya Julius Baer dan para mitra investasi lain di Art Jakarta 2025, seni dan finansial bukan lagi dua dunia yang terpisah. Mereka justru beresonansi, menciptakan ekosistem di mana kreativitas dan kekayaan berbagi satu panggung yang sama.


