Luxina, Semua juga tahu bahwa Rolex tidak sekadar mencatat waktu tapi juga merawat warisan. Dalam peta sinema global yang terus bergerak, jenama asal Swiss ini menempatkan dirinya sebagai penjaga ritme: menghubungkan masa lalu, merayakan masa kini, dan menyiapkan masa depan perfilman dunia. Melalui komitmen panjangnya terhadap seni, Rolex membangun sebuah narasi yang melampaui horologi—sebuah dialog lintas generasi yang terwujud dalam apa yang kini dikenal sebagai Perpetual Arts Initiative.
Di dalam ranah sinema, hubungan ini telah berakar sejak pertengahan abad ke-20. Tahun 1951 menjadi titik awal simbolik ketika Rolex turut memproduksi film animasi The Story of Time, sebuah eksplorasi awal tentang waktu yang bahkan mendapat nominasi di Academy Awards. Sejak itu, kehadiran Rolex di layar lebar berkembang menjadi bahasa visual tersendiri—jam tangan yang dikenakan karakter tidak lagi sekadar aksesori, melainkan penanda identitas, status, dan keteguhan karakter, sebagaimana terlihat dalam film-film awal James Bond.
Hubungan ini kemudian bertransformasi dari simbol menjadi sistem pendukung yang nyata. Rolex tidak hanya hadir di layar, tetapi juga di balik layar—mendukung para pembuat film, institusi, dan ekosistem kreatif yang menjaga denyut industri tetap hidup. Sejak 2017, Rolex menjadi mitra resmi Academy of Motion Picture Arts and Sciences, sekaligus Proud Sponsor dari Oscars—sebuah panggung global yang menegaskan standar tertinggi dalam perfilman.
Namun, keterlibatan Rolex tidak berhenti pada seremoni. Di balik kemegahan malam Oscar, terdapat ruang transisi yang justru menyimpan intensitas paling jujur: Greenroom. Sejak 2016, Rolex merancang ruang ini sebagai pengalaman imersif yang memadukan desain, warisan, dan keahlian tangan tingkat tinggi. Untuk edisi ke-98 pada tahun 2026, Greenroom tampil dalam palet hijau beludru dan aksen emas champagne—sebuah refleksi visual dari identitas Rolex sekaligus penghormatan pada glamour sinema klasik.
Di ruang inilah waktu terasa lebih lama, sebuah momen antara harapan dan pencapaian. Dan di tengah atmosfer tersebut, hadir Rolex Oyster Perpetual Cosmograph Daytona dalam balutan emas kuning 18 karat dengan dial hijau, simbol performa dan kemenangan yang merepresentasikan esensi perjalanan seorang sineas: presisi, daya tahan, dan ambisi.
Lebih jauh, Rolex membangun ekosistem yang menopang keberlanjutan sinema sebagai disiplin seni. Kolaborasinya dengan institusi seperti The Film Foundation yang didirikan oleh Martin Scorsese, hingga dukungan terhadap Academy Museum of Motion Pictures, menunjukkan pendekatan yang menyeluruh—tidak hanya merayakan karya, tetapi juga melindungi sejarahnya.
Nama-nama besar pun menjadi bagian dari narasi ini. Leonardo DiCaprio, Zendaya, James Cameron, hingga Jia Zhang-Ke bukan sekadar duta, melainkan representasi dari spektrum sinema kontemporer—dari eksplorasi teknologi hingga refleksi sosial yang intim. Mereka adalah perpanjangan dari filosofi Rolex: bahwa keunggulan lahir dari dedikasi tanpa kompromi.
Di saat yang sama, perhatian terhadap generasi berikutnya menjadi fondasi penting. Program seperti Student Academy Awards dan dukungan terhadap Sundance Institute memastikan bahwa suara-suara baru mendapatkan ruang untuk berkembang. Rolex memahami bahwa masa depan sinema tidak hanya ditentukan oleh mereka yang telah mapan, tetapi juga oleh mereka yang sedang mencari bentuk.
Pada akhirnya, hubungan antara Rolex dan sinema adalah tentang waktu dalam makna yang paling puitis. Film menangkap momen, sementara Rolex mengabadikannya. Keduanya bekerja dalam dimensi yang sama—menciptakan sesuatu yang melampaui keberadaan fisik, sesuatu yang dapat diwariskan.

