Di tengah pergeseran wacana seni kontemporer global, material bukan lagi sekadar medium, melainkan pernyataan. Dalam Zirah Kesadaran, KanA Fuddy Prakoso memilih kardus bukan sebagai keterbatasan, tetapi sebagai bentuk kejujuran yang gamblang. Karya yang dipresentasikan di Galeri Nasional Indonesia ini berbicara tentang zaman yang mudah melipat kesadaran manusia: dibentuk opini, diarahkan algoritma, lalu dilupakan secepat tren berganti. Kardus, dengan segala fungsinya, menjadi metafora yang nyaris terlalu relevan untuk diabaikan.
Fondasi Historis yang Tidak Romantik
Inspirasi dari Ratu Kalinyamat memberi fondasi historis yang tidak romantik, melainkan tajam. Dalam pembacaan KanA, zirah tidak pernah benar-benar tentang logam atau perlindungan fisik, tetapi tentang kehendak yang tidak mudah runtuh. Dua figur tanpa wajah yang hadir dalam instalasi ini seolah menampung energi kolektif tentang keteguhan tersebut, membebaskan narasi dari satu identitas menuju pengalaman yang lebih luas dan personal. Simbol-simbol yang merujuk pada Jepara, laut, dan perlawanan disematkan bukan sebagai dekorasi, tetapi sebagai jejak memori yang terus berdenyut di permukaan karya.

Kardus Neo-Minimalisme
Yang menarik, kardus di tangan Kana tidak lagi menjadi material “rendah”. Ia bergeser menjadi bagian dari percakapan global tentang materialitas dan kecenderungan neo-minimalisme, di mana tekstur, aroma, dan ketidaksempurnaan justru menghadirkan kedalaman yang tidak bisa ditiru oleh dunia digital. Dalam konteks ini, Zirah Kesadaran terasa seperti respons terhadap kelelahan visual era layar, menawarkan pengalaman yang lebih taktil, lebih lambat, dan lebih jujur. Kardus yang mudah rusak justru mempertegas gagasan bahwa pertahanan batin manusia tidak pernah final.

INDONESIAN WOMEN ARTISTS #4: ON THE MAP – Galeri Nasional Indonesia
Pada akhirnya, karya ini bekerja sebagai pengingat yang tenang namun mengendap. Zirah yang dibangun bukan untuk melawan dunia luar, melainkan untuk menjaga kejernihan di dalam diri. Dalam dunia yang dipenuhi notifikasi, distraksi, dan simulasi realitas, Zirah Kesadaran mengajak kita mempertanyakan ulang: seberapa kuat kita menjaga kewarasan sendiri, ketika bahkan fondasinya bisa lapuk jika tidak dirawat setiap hari. Karya ini hadir dalam pameran INDONESIAN WOMEN ARTISTS #4: ON THE MAP yang berlangsung mulai 10 April hingga 30 Juni 2026 di Gedung A Galeri Nasional Indonesia, Jalan Medan Merdeka Timur Nomor 14, Jakarta Pusat. Pengunjung dapat menikmati karya seni setiap Selasa hingga Kamis pukul 10.00 hingga 18.00 WIB, serta Jumat hingga Minggu pukul 10.00 hingga 20.00 WIB.

