Di awal 2026, Museum MACAN merumuskan sebuah pernyataan kuratorial yang tidak sekadar merangkum, melainkan menggugah: bagaimana waktu, lanskap, dan identitas dikonstruksi, dibaca ulang, lalu dinegosiasikan dalam kesadaran hari ini. Empat presentasi hadir secara simultan, bergerak dari lukisan hingga new media, dari instalasi hingga tekstil, mempertemukan praktik lintas generasi dan geografi. Di antaranya, Riar Rizaldi dengan Period Piece menelusuri lapisan sejarah yang tersembunyi dalam sistem teknologi dan industri, membangun kembali ingatan ruang sinema Indonesia era 1990-an sebagai lanskap kultural yang hidup dan terus beresonansi.
Cakrawala Museum MACAN
Sementara itu, pameran kelompok Menelan Cakrawala membingkai horizon sebagai konstruksi kuasa yang selama ini dianggap netral, menghadirkan dialog antara nama-nama seperti Raden Saleh hingga Robert Rauschenberg dalam satu spektrum visual yang kompleks. Di ruang lain, Dawn Ng melalui Atlantis II meresapi kefanaan lewat medium es yang perlahan menghilang, sementara Marcos Kueh menghadirkan Kenyalang Circus, sebuah tafsir tekstil yang tajam tentang warisan dan komodifikasi. Keseluruhan program ini tidak hanya menawarkan pengalaman visual, tetapi juga mengajak pengunjung untuk membaca ulang lanskap sebagai medan aktif, tempat sejarah, material, dan kekuasaan saling berkelindan.


