Fred Perry adalah salah jenama fashion yang mampu mempertahankan relevansi lintas generasi tanpa kehilangan identitas asli. Berawal dari lapangan tenis Inggris pada awal 1950-an, label berlambang Laurel Wreath itu kini justru menemukan denyut terkuatnya di jalanan, di panggung musik, hingga dalam kultur anak muda yang terus berevolusi. Pekan ini di Jakarta, perjalanan panjang tersebut diterjemahkan menjadi sebuah ruang pengalaman bertajuk “DNA Exhibition” yang digelar di Plaza Senayan.
Selama sepuluh hari, area Fountain Plaza Senayan berubah menjadi semacam kapsul budaya yang merangkum sejarah, gaya, dan pengaruh sosial Fred Perry. Bukan sekadar pameran fashion, melainkan sebuah narasi tentang bagaimana sebuah polo shirt mampu melampaui fungsi olahraga dan menjadi simbol identitas lintas subkultur.

Pameran ini terasa menarik karena Fred Perry tidak hanya membawa arsip masa lalu, tetapi juga membangun koneksi dengan energi kreatif Jakarta hari ini. Di dalam ruang pamer, pengunjung akan menemukan atmosfer yang hidup: meja pingpong komunitas, bar kolaborasi bersama Modernhaus, hingga rangkaian pertunjukan musik dari nama-nama seperti Jugo Djarot, The Patras, Tomorrow People Ensemble, Greybox Ensemble, sampai sesi DJ dan open deck yang digerakkan oleh komunitas independen lokal. Pendekatan ini terasa selaras dengan DNA Fred Perry sendiri—brand yang sejak lama hidup berdampingan dengan musik dan kultur jalanan, bukan sekadar industri fashion.
Ada sesuatu yang selalu menarik dari perjalanan Fred Perry: bagaimana sebuah pakaian olahraga bisa berubah menjadi simbol perlawanan budaya. Ketika polo shirt M3 pertama kali diperkenalkan pada 1952, ia lahir sebagai seragam tenis yang sederhana dan fungsional. Namun sejarah kemudian membawanya jauh melampaui lapangan olahraga. Kaum modernist Inggris mengenakannya sebagai simbol gaya hidup, generasi punk menjadikannya bagian dari sikap anti-establishment, sementara era Britpop menghidupkannya kembali sebagai seragam kultur musik urban. Dari stadion tenis hingga klub bawah tanah, Laurel Wreath terus berpindah tangan tanpa pernah kehilangan makna dasarnya: ekspresi individualitas.

Melalui “DNA Exhibition”, Fred Perry mencoba memetakan kembali elemen-elemen yang membentuk identitas tersebut. Beberapa “Hero Styles” yang dipamerkan menjadi semacam artefak budaya pop: Fred Perry Shirt sebagai ikon subkultur lintas generasi, Tennis Bomber yang membawa estetika sportswear ke ranah street style, hingga Taped Track Jacket yang identik dengan kultur rave dan musik elektronik Inggris. Bahkan Barrel Bag dan lini tennis shoes mereka ditampilkan bukan hanya sebagai produk, melainkan sebagai bagian dari perjalanan visual kultur urban selama beberapa dekade terakhir.
Salah satu bagian paling menarik dari pameran ini adalah hadirnya koleksi arsip dan kolaborasi legendaris yang untuk pertama kalinya ditampilkan di Jakarta. Di sinilah publik bisa melihat bagaimana Fred Perry menjalin hubungan dengan berbagai figur dan label yang memiliki pengaruh besar dalam budaya populer. Mulai dari mendiang Amy Winehouse, band virtual Gorillaz, hingga label-label seperti Comme des Garçons, Raf Simons, dan Stüssy. Deretan kolaborasi tersebut memperlihatkan satu hal penting: Laurel Wreath tidak pernah berdiri sebagai simbol kemewahan yang eksklusif dan jauh dari realitas jalanan, melainkan sebagai emblem kultur yang terus bergerak bersama komunitasnya.

Di Jakarta, pendekatan seperti ini terasa relevan, karena (mungkin), Jakarta, memiliki hubungan yang kuat dengan kultur musik independen, skate, streetwear, hingga komunitas kreatif lintas disiplin. Fred Perry tampaknya memahami bahwa relevansi hari ini tidak dibangun hanya melalui nostalgia, tetapi lewat kemampuan untuk tetap hadir di tengah percakapan budaya kontemporer.
Mungkin itu sebabnya “DNA Exhibition” terasa lebih seperti ruang temu ketimbang sekadar instalasi retail. Orang datang bukan hanya untuk melihat produk, tetapi untuk membaca kembali bagaimana fashion bisa menjadi penanda identitas sosial, preferensi musik, bahkan sikap hidup. Dan dalam lanskap fashion modern yang semakin dipenuhi logo tanpa makna, kemampuan sebuah brand untuk tetap memiliki konteks budaya adalah sesuatu yang semakin langka.


