Jika dunia kini serba digital dan instan, apakah kita masih membutuhkan estetika yang menuntut kesabaran, detail, dan kehalusan couture seperti karya Adrian Gan? Di siniah Adrian Gan datang, menghempaskan sekoleksi karya dalam rangka perjalanan 40 tahunnya di industri fashion Indonesia. Ia merajut fashion dengan estetika gothic, memadukan romantic darkness dengan ornamentasi art nouveau yang tak ada habis-habisnya. Ia menciptakan look yang ke luar dari stereotipe penampilan cantik anggun khas jakarta, ia menghadirkan sebuah mimpi untuk berpakaian, multi-dimensional tapi mudah, sophisticated tapi kasual, masa lalu tapi today.

Pertemuan Gothic dan Art Nouveau
Koleksi ini ia beri judul “Séance”, dari bahasa Prancis, maknanya adalah sebuah pertemuan, berkumpul secara ritual untuk menghubungkan diri dengan hal-hal yang tak kasatmata, memori, atau energi masa lalu. Sebagai master dari “Séance”, Adrian bukan mengumpulkan orang-orang, ia mengumpulkan berbagai jejak kehidupan, jejak luka dan keindahan, jejak kekangan cara berpakaian era Victorian dan indahnya Art Nouveau, atmosfer Gothic dan kebebasan surrealism, lalu romantisme dan sisi-sisi budaya Indonesia. Sungguh sebuah pertemuan yang menakjubkan.

Imajinasi Era Victorian dan Surealisme
Karya-karya Adrian ini mengeksplorasi struktur desain, layering, permainan tekstur, dan pertemuan material vintage koleksi pribadi yang sarat memori. Ia melakukan perburuan dan restorasi bahan antik, mulai dari crochet, patch, hingga patchwork era Victorian. Tarikan alam surealisme yang memuai dalam kibasan Art Nouveau hadir dalam potongan tepian outer, seni patchwork, yang ditingkahi dengan motif-motif unik, termasuk wayang, peralatan makan, hingga reinterpretasi batik, yang semuanya memberi karakter Indonesia.

Detail rumit Adrian Gan
Art Nouveau memang mekar di era Victorian, esensi gaya ini terletak pada dorongan untuk menyatukan seni dengan kehidupan sehari-hari melalui bentuk-bentuk organik yang mengalir. Gerakannya menolak kekakuan industrial dan memilih estetika yang terinspirasi dari tumbuhan, misalnya garis lengkung seperti tanaman merambat, motif flora dan fauna, serta siluet yang seolah tanpa sudut dan tanpa akhir. Art Nouveau juga menekankan craftsmanship: detail rumit, pengerjaan tangan, dan perpaduan seni dekoratif dengan desain modern. Hasilnya adalah gaya yang romantis, sensorial, dan penuh fluiditas, dengan karakter visual yang merayakan harmoni garis melengkung, ornamentasi sensual, dan estetika yang mengutamakan kehalusan serta kepekaan artistik.

Perhiasan Rinaldy A. Yunardi
Koleksi ini juga memperlihatkan komitmen Adrian terhadap keberlanjutan, dengan memanfaatkan kembali kain tua seperti Batak Toba, Gedok Tuban, hingga material peranakan yang ia pilih secara selektif. Setiap potongan diproses melalui pewarnaan alami, sulaman ulang, atau rekonstruksi kreatif, sehingga material yang hampir terlupakan mendapatkan kehidupan baru. Narasi visual koleksi diperkuat melalui aksesori rancangan Rinaldi A. Yunardi.

Serunya Tramp Shoes Yongki Komaladi
Narasi yang sangat solid dan membuat kita menghela nafas ini, menjadi menyenangkan dan fun, karena sepatu-sepatu Tramp yang dibuat oleh Yongki Komaladi. Tramp shoes, istilah informal untuk menggambarkan sepatu besar dan sedikit slouchy yang menjadi bagian dari kostum ikonik Charlie Chaplin, yang tentu saja membawa pesan jenaka. Tapi Yongki membuatnya kadang sporty, kadang glam-up, super seru. Satu kolaborasi menggemaskan dari Adrian dan Yongki.































