Peluncuran Aluih (Sumatera) melalui acara bertajuk An Ode To Aluih (Sumatera) di Goodrich Suites, Jakarta Selatan, menandai hadirnya label clothing yang membawa semangat seru bagi Kebaya Panjang Sumatera. Didirikan oleh enam sahabat asal Sumatera Barat yaitu Anggi Tjaja, Dian Sjarif, Faulin Irmawan, Intan Abdams, Lia Dira, dan Penty Djani, brand ini memposisikan kebaya bukan sekadar busana seremoni, melainkan sebagai pilihan gaya sehari hari yang relevan bagi perempuan modern. Pendekatan desain yang bersih dan kontemporer menjadi fondasi untuk mengembalikan kebaya ke dalam ritme keseharian.

Aluih = Halus
Nama Aluih, diambil dari bahasa Minang yang berarti “halus”, merangkum filosofi kelembutan dan keanggunan yang menjadi jiwa label ini. Kebaya Panjang Sumatera diinterpretasikan sebagai busana yang berakar kuat pada budaya, namun tetap terasa modern, stylish, dan mudah dikenakan. Melalui visi ini, Aluih ingin menggeser persepsi bahwa kebaya hanya milik acara adat, menjadi bagian alami dari gaya hidup perempuan Indonesia yang bangga pada identitasnya.

Kebaya Panjang Sumatera
Keprihatinan terhadap semakin jarangnya kebaya dikenakan menjadi pemantik lahirnya Aluih. Anggi Tjaja menyoroti bagaimana kebaya, khususnya Kebaya Panjang Sumatera, perlahan menghilang bahkan dari momen momen penting seperti pernikahan. Fenomena ini tidak hanya terjadi di kota besar, tetapi juga terasa hingga kampung halaman di Sumatera Barat. Pergeseran tersebut memperlihatkan bagaimana warisan budaya bisa memudar jika tidak dirawat secara aktif.

Kebaya dari generasi ke generasi
Faulin Irmawan menambahkan bahwa pengalaman mudik memperlihatkan perubahan visual yang nyata dari generasi ke generasi. Kebaya yang dahulu akrab di ruang sosial desa kini semakin jarang terlihat. Dari rasa kehilangan inilah Aluih lahir sebagai ajakan personal namun bermakna, mengundang perempuan Indonesia untuk kembali dekat dengan kebaya sebagai simbol identitas dan kontinuitas budaya.

Kebaya Panjang Multi-Styling
Secara desain, Kebaya Panjang Sumatera tampil dengan siluet sederhana menyerupai kebaya klasik dengan bukaan depan simetris dan garis leher V. Panjangnya melewati lutut dengan potongan longgar yang memberi kenyamanan. Penty Djani menjelaskan bahwa penggunaan katun pilihan menghadirkan sensasi ringan dan sejuk, sementara permainan motif floral dengan furing polos kontras menciptakan aksen visual yang segar. Fleksibilitas ini memungkinkan kebaya dikenakan sebagai atasan maupun outer, mudah dipadukan untuk aktivitas kasual hingga semi formal.

Gaya Kontemporer
Acara peluncuran menjadi simbol dialog antara tradisi dan gaya hidup kontemporer. Dukungan dari Manjusha Nusantara untuk perhiasan serta riasan oleh Sari Ayu Martha Tilaar memperkuat narasi estetika Nusantara yang modern. Lebih dari sebuah presentasi koleksi, momen ini memposisikan kebaya sebagai bahasa visual yang tetap hidup dan berkembang.

Langkah Aluih (Sumatera)
Ke depan, Aluih (Sumatera) berkomitmen mengeksplorasi kekayaan busana Sumatera dan Nusantara dalam pendekatan yang wearable dan relevan. Upaya ini tidak hanya berbicara tentang desain, tetapi juga tentang merawat ingatan kolektif melalui pakaian. Kebaya Panjang Sumatera pun kembali hadir sebagai ekspresi gaya yang halus, modern, dan penuh makna bagi perempuan Indonesia masa kini.

















