Hong Kong kembali menjadi sorotan dunia perdagangan internasional dengan dibukanya Mega Show Part 1 pada 20–23 Oktober 2025. Bertempat di Hong Kong Convention and Exhibition Centre (HKCEC), pameran tahunan ini telah menjadi salah satu ajang sourcing terbesar di Asia sejak pertama kali digelar pada 1992. Diselenggarakan oleh Comasia Limited, Mega Show memainkan peran penting sebagai penghubung antara ribuan produsen dan pembeli dari seluruh dunia, sekaligus mencerminkan kekuatan rantai pasok global yang semakin terintegrasi.

Pameran Terbesar Asia untuk Produk Gaya Hidup dan Konsumen
Sebagai pameran dagang internasional untuk produk hadiah, peralatan rumah tangga, mainan, dan kebutuhan gaya hidup, Mega Show Hong Kong 2025 menghadirkan beragam kategori mulai dari kitchenware, dekorasi rumah, produk bayi, hingga perlengkapan olahraga dan Natal. Setiap tahun, ribuan peserta pameran dari Hong Kong, Tiongkok, Taiwan, dan negara-negara Asia lainnya menampilkan produk terbaru mereka untuk menjangkau pasar global yang semakin kompetitif.


Mega Show bukan sekadar ajang pameran, tetapi juga jembatan antara pelaku industri Asia dan pasar internasional. Kegiatan ini memberikan wadah bagi merek-merek Asia untuk memperluas jangkauan global mereka.
Paviliun Indonesia Menjadi Sorotan di Handicraft Zone
Salah satu daya tarik utama tahun ini adalah Paviliun Indonesia yang menampilkan karya-karya unggulan dari pelaku industri kreatif dan UMKM di bawah koordinasi Deka Event Indonesia. Produk-produk kerajinan tangan atau handicraft yang dipamerkan berhasil menarik perhatian para buyer internasional berkat desainnya yang artistik dan keunikan bahan lokal yang digunakan.

Aldin Jauhari, Konsul Perdagangan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Hong Kong, yang turut hadir meninjau Paviliun Indonesia, mengungkapkan optimismenya terhadap potensi besar produk tanah air. “Saya telah melihat Paviliun Indonesia di Mega Show Hong Kong, terutama di Handicraft Zone. Produk-produk handicraft yang ditampilkan menurut saya sangat baik dan memiliki potensi besar untuk dipasarkan di Hong Kong,” ujarnya.

Menurut Aldin, Hong Kong merupakan hub perdagangan internasional yang strategis untuk mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan buyer dari berbagai negara. “Minat pembeli internasional terhadap produk Indonesia cukup tinggi. Saya berharap, melalui keikutsertaan di Handicraft Zone, produk-produk kerajinan tangan Indonesia dapat semakin dikenal dan menembus pasar yang lebih luas, tidak hanya di Hong Kong dan Tiongkok, tetapi juga hingga Amerika dan Eropa,” tambahnya.
Kolaborasi dan Fasilitasi yang Mendorong Ekspor Indonesia
Tahun ini, partisipasi Indonesia di Mega Show semakin menonjol dengan hadirnya 12 exhibitor dari berbagai sektor dan sekitar 200 pembeli (buyer) dari Indonesia. Rachel Kurniawan, Assistant Project Director Deka Event Indonesia, menegaskan bahwa Mega Show Hong Kong menjadi peluang emas untuk memperluas jaringan perdagangan ekspor.

“Subsidi tahun ini juga lebih besar dibandingkan pameran-pameran sebelumnya. Kompetitornya makin banyak, dan salah satu strategi untuk menarik buyer adalah lewat program sponsorship,” ujar Rachel. “Nilainya bisa mencapai 2.600 dolar Hong Kong, dan fasilitasnya sudah termasuk akomodasi hotel. Tidak heran kalau Mega Show tahun ini terasa lebih nyaman dan tertata dibanding sebelumnya.”
Rachel menambahkan bahwa tantangan utama dalam memasarkan produk Indonesia ke pasar global bukan pada potensi, tetapi pada kesiapan produk. “Produk kita bagus dan tidak kalah dengan negara lain, tapi masih banyak yang belum siap ekspor—baik dari segi kuantitas maupun konsistensi kualitas. Kadang batch pertama bagus, tapi batch berikutnya berbeda. Jadi, pembinaan soal standar produksi dan ketepatan waktu sangat penting,” jelasnya.
Tantangan dan Potensi UMKM Indonesia di Pasar Global
Sementara itu, Medy Prakoso, Wakil Ketua Umum Kadin Surabaya Bidang Logistik, Perdagangan Barang & Jasa, dan Ekspor-Impor, menilai bahwa keterlibatan pelaku UMKM Indonesia dalam ajang internasional seperti Mega Show masih terbatas akibat kurangnya akses dan fasilitasi.

“Yang pertama, karena minimnya akses pengetahuan tentang pameran dan kegiatan semacam ini,” kata Medy. “Belum ada pihak yang benar-benar mendorong atau memotivasi mereka untuk mencari informasi kegiatan seperti ini.
Namun, Medy optimistis terhadap masa depan ekspor Indonesia. Ia menyebut Jawa Timur sebagai salah satu daerah dengan potensi besar, terutama untuk sektor perhiasan, produk industri, dan kerajinan tangan. “Jawa Timur punya banyak kantong keterampilan yang unggul. Tapi lagi-lagi, kurangnya dukungan dalam hal pembiayaan membuat aksesnya sulit. Kalau sektor kreatif seperti tekstil, kerajinan, dan produk olahan didukung serius, itu bisa menjadi motor ekonomi baru,” tambahnya.

Medy juga menyoroti pentingnya gerakan mencintai produk lokal agar industri dalam negeri kembali menjadi “raja di negeri sendiri”. “Kita punya potensi luar biasa, tapi sering kali malas mengembangkan produk kita sendiri. Pemerintah sudah menyediakan regulasi yang baik, tinggal bagaimana masyarakat bisa menjangkau dan memanfaatkannya,” ujarnya.
Mega Show: Pusat Inspirasi dan Jejaring Bisnis Asia
Dengan lebih dari 2.500 peserta pameran dan ribuan pembeli internasional, Mega Show Hong Kong terus menjadi pusat inspirasi dan jejaring bisnis lintas negara. Acara ini tidak hanya memfasilitasi transaksi dagang, tetapi juga menjadi wadah pertukaran pengetahuan, ide, dan inovasi antara para pelaku industri.


Sebagai bagian dari Mega Show Series, acara ini memperkuat posisi Hong Kong sebagai hub perdagangan global yang dinamis, menghubungkan produsen Asia dengan pasar dunia. Lebih dari sekadar pameran, The Mega Show adalah simbol kolaborasi ekonomi Asia yang terus berkembang — membuka peluang baru bagi pelaku usaha dari berbagai sektor untuk memperluas sayapnya ke panggung internasional.


