Apa jadinya jika wastra tenun Garut bertemu dengan imajinasi gaya klasik fashion Eropa? Tentu jadi sesuatu yang mind blowing, sesuatu yang baru juga bagi khasanah wastra Nusantara. Kisahnya dimulai dari seorang anak yang pulang kampung ke Indonesia, setelah beberapa waktu menimba ilmu fashion di London College of Fashion di Inggris, lalu Instituto Marangoni dan Instituto di Moda Burgo (dua-duanya di Milan). Di Jakarta ia bertemu dengan Cita Tenun Indonesia, yang mengajaknya ke Garut dan ke Jakarta Fashion Week 2026.

Pulang ke rumah, singgah ke Garut
Namanya Dery Rizkianto, ia mempersembahkan koleksi bertajuk Casa, yang berarti ‘Rumah’, Koleksi ini mengedepankan motif polka dot, semacam lingkaran simbol dari garis penuh tempat bertemunya titik awal dengan titik langkah pulang. Sebuah refleksi dari garis perjalanan balik pulang ke rumah, Indonesia. Bersama Cita Tenun Indonesia, Dery bertemu dengan rumah tenun Pak Hendar di Garut, memesan tenunan bersulam benang keemasan bermotif polka dot.

Tantangan Tangan Penenun
Ini adalah tantangan yang membuat Pak Hendar harus melalui beberapa kali proses percobaan, karena motif permintaan Dery ini bukan tipikal tenun yang biasa dilakukan oleh Pak Hendar. Setelah mencapai hasil yang diharapkan, lalu Dery memboyong semua hasil tenunan ke Jakarta, dan merangkumnya ke menjadi 12 set rancangan. Rancangan Dery bergaya nostalgia Eropa klasik tahun 1950-an, siluetnya ramping, mood-nya gala, dengan pilihan warna monokromatik khas rumah-rumah mode di Milan.

Polka Dot dari Eropa
Polka dot Garut seperti melayang ke era Audrey Hepburn dan Grace Kelly, elegan dalam rancangan yang rapi dan finishing yang prima. Sebuah interaksi mengagumkan dari tangan-tangan penenun di antara sawah dan bukit di Garut dengan cara pikir sekolah mode di Eropa. Konteks koleksi ini juga berada dalam ruang dialog yang dihadirkan oleh Cita Tenun Indonesia (CTI) tahun ini, yaitu usaha untuk menemukan artikulasi baru dalam lanskap mode modern.













