Sarah Burton memulai narasinya dengan sebuah pertanyaan reflektif, “bagaimana kita menyusun kembali diri kita di dunia yang terus berubah?” untuk koleksi terbaru Givenchy. Peragaan tentang feminitas modern yang multidimensional, mempertemukan kelembutan, sensualitas, dan otoritas dalam satu bahasa busana yang terstruktur. Fondasi koleksi dibangun dari ketepatan tailoring yang menjadi ciri rumah mode ini: setelan double breasted yang presisi, tuxedo tegas, serta Spencer jacket dengan pinggang dipersempit yang membentuk siluet arsitektural.

Headwear dari masa Old Master
Namun Sarah tidak berhenti pada disiplin sartorial. Ia memperluas narasi melalui gaun malam yang tampak dilukis dan “disobek” secara artistik, cape duchesse satin yang dramatis, hingga gaun floral berfringe yang bergerak dengan keanggunan teatrikal. Referensi visualnya merujuk pada lukisan Old Master di era Medieval, diperkuat oleh headwrap sederhana namun skulptural rancangan Stephen Jones yang dipelintir dari T shirt, menciptakan siluet yang mengingatkan pada potret klasik karya Johannes Vermeer.

Ketegasan vs. Kelembutan
Material yang digunakan memperkaya dialog antara ketegasan dan kelembutan. Velvet, kimono silk, lace, bordir silver bullion, hingga shearling bermotif leopard menyatu dalam palet hitam dan abu abu yang subtil namun berlapis. Mantel shearling biru yang terasa selembut jubah rumah, gaun slip velvet yang sensual, serta mantel maskulin bergaris pinstripe membentuk lemari pakaian yang mencerminkan kompleksitas kehidupan perempuan masa kini. Dalam musim ketika banyak desainer condong pada minimalisme yang kaku, Givenchy justru menghadirkan sesuatu yang lebih manusiawi: busana yang lahir dari memori, kerajinan tangan, dan simbol personal, disusun dalam siluet yang berbicara dengan kejelasan dan keyakinan.

























