Ada masa ketika kecantikan tidak datang bersama algoritma. Tidak ada TikTok, Instagram, beauty influencer, atau tutorial makeup berdurasi 30 detik. Ada majalah yang dibolak-balik, iklan televisi yang ditunggu, suara penyiar yang terdengar resmi, dan bedak yang perlahan dibaurkan di depan cermin. Memori tentang bagaimana perempuan Indonesia berdandan, memilih warna, dan mendefinisikan cantik itulah yang kini kembali dipertemukan dengan generasi hari ini melalui HYAS: Makeup Through the Ages, pameran pertama di Indonesia yang secara khusus menelusuri sejarah makeup dan warisan kecantikan Indonesia.

Pameran Kecantikan Nostalgia
Dibuka untuk publik pada 4–6 September 2026 di SPAC8, ASHTA District 8, Jakarta, pameran yang digagas oleh Sissy Sosro, dikurasi, diteliti, dan ditulis oleh Allysha Nila, dengan arahan kreatif Abraham Dewanggana serta strategic partnership direction oleh Ein Halid, terasa seperti persilangan museum dan galeri. Lebih dari 350 benda makeup dari berbagai periode sejarah Indonesia dipamerkan, bersama sekitar 200 majalah vintage dan 100 buku langka yang dikumpulkan melalui riset selama sembilan bulan. Ini bukan sekadar parade kosmetik lawas. Ini adalah usaha membaca kembali bagaimana kecantikan pernah tumbuh sebagai bagian dari identitas, budaya, ekonomi, bahkan cara sebuah bangsa melihat dirinya sendiri.

Bedak dari Era Kolonial
HYAS membagi perjalanan tersebut ke dalam tiga fase besar: masa kuno, kolonial, dan periode modern hingga sekitar era Reformasi. Salah satu benda tertua yang ditampilkan adalah bedak wajah yang diproduksi sebuah apotek pada era kolonial di Surabaya, diperkirakan berasal dari dekade 1920-an atau bahkan lebih awal. Benda kecil itu tiba-tiba menjadi semacam mesin waktu. Sebab makeup tidak pernah benar-benar hanya soal warna di wajah. Di balik sebuah kotak bedak, lipstik, atau botol kosmetik, tersimpan cerita tentang teknologi, perdagangan, kelas sosial, selera, perubahan gaya hidup, dan gagasan tentang kecantikan yang terus bergeser.

Nostalgia Estetika Perempuan Indonesia
Bagi generasi yang tumbuh pada dekade 1980-an, bagian ini barangkali terasa paling menggoda. Industri kecantikan Indonesia ketika itu memiliki karakter visual yang sangat khas. Sariayu Martha Tilaar, Mustika Ratu, dan Viva Cosmetics bukan sekadar nama produk yang menghiasi meja rias, melainkan bagian dari pembentukan estetika perempuan Indonesia. Iklan di media cetak dan televisi memperkenalkan kecantikan melalui bahasa yang puitis, formal, sekaligus penuh keyakinan. Jamu, sirih, kemuning, dan kekayaan alam Nusantara menjadi narasi yang menyandingkan kecantikan dengan akar budaya sendiri.


Gaya Makeup 1980-an
Yang menarik, kecantikan era 1980-an juga tidak berdiri sendirian sebagai tren kosmetik. Warna dan gaya makeup kerap berkelindan dengan peragaan busana serta inspirasi budaya daerah—Jawa, Bali, Sumatra, dan berbagai kekayaan visual Nusantara lainnya. Bersolek menjadi lebih dari sekadar aktivitas personal; ia menjadi cara untuk merayakan identitas. Komunikasinya memang satu arah, tetapi justru di situlah kekuatan zamannya: ada rasa percaya kepada majalah, televisi, pakar kecantikan, dan merek yang telah membangun reputasi. Tidak ada kolom komentar untuk memperdebatkan sebuah klaim kecantikan.

Gagasan Merayakan Alam dan Indonesia
HYAS juga memperlihatkan bahwa apa yang disebut legacy tidak harus menjadi benda mati di dalam lemari arsip. Dukungan Kiki Tilaar dari Sariayu Martha Tilaar menghadirkan lebih dari 150 arsip makeup, banyak di antaranya untuk pertama kalinya ditampilkan kepada publik di luar museum mereka. Mustika Ratu turut meminjamkan arsip makeup serta menghadirkan sejumlah workshop menggunakan produk-produk ikoniknya. Sementara Martha Tilaar Group membawa perjalanan lebih dari lima dekade industri kecantikan Indonesia, memperlihatkan bagaimana Sariayu tumbuh dari gagasan merayakan alam dan budaya Indonesia, lalu terus beradaptasi melalui inovasi dan perubahan zaman.

Legacy dan Viralitas
“Legacy bukan sekadar tentang apa yang telah dibangun di masa lalu, tetapi tentang nilai yang tetap relevan untuk dibawa ke masa depan,” ujar Dr. Kilala Tilaar, CEO Martha Tilaar Group. Pernyataan ini menjadi relevan ketika sejarah kecantikan berhadapan dengan industri hari ini yang bergerak dalam kecepatan berbeda. Media sosial, komunitas digital, dan perilaku konsumen yang berubah memungkinkan sebuah beauty brand menjadi viral dalam hitungan jam. Tetapi viralitas memberi perhatian; legacy membutuhkan konsistensi, kepercayaan, dan kemampuan untuk terus memiliki makna. Dua dunia itu tidak harus saling meniadakan.

Visi Kecantikan Indonesia Alami
Karena itu, HYAS: Makeup Through the Ages terasa penting bukan hanya bagi pencinta makeup, tetapi bagi siapa pun yang tertarik pada sejarah visual Indonesia. “Visi kami adalah membangunkan Indonesia terhadap kedalaman dan kecanggihan kecantikan alaminya,” kata Sissy Sosro. Pameran ini memang baru sebuah awal dari gerakan yang ingin menghormati, menjaga, dan memperluas cerita warisan kecantikan Indonesia. Di SPAC8, ASHTA District 8 menyediakan ruang kontemporer bagi sejarah tersebut untuk bertemu dengan audiens hari ini, lengkap dengan workshop, talk show, serta shop yang mempertemukan produk terbatas dari merek kecantikan warisan dengan generasi brand baru.

Sejarah Bangsa yang Cantik
Dan mungkin di situlah daya tarik terbesar HYAS: ia membuat kita sadar bahwa sebelum wajah Indonesia dibentuk oleh filter, feed, dan kecanggihan kamera depan, ada tangan, cermin, bedak, lipstik, majalah, salon, jamu, dan ritual kecantikan yang lebih dulu membentuk cara kita memandang diri sendiri. Sejarah makeup Indonesia ternyata bukan cerita tentang kosmetik yang menua, melainkan tentang sebuah bangsa yang terus merias ulang pengertian cantiknya sendiri.




