Luxina, Louis Vuitton memilih Musée du Louvre sebagai pentas untuk koleksi Spring-Summer 2026, tepatnya di bekas apartemen musim panas Anne of Austria, Ratu Prancis. Sebuah ruang yang penuh sejarah, kini disulap menjadi kanvas modern bagi perayaan art de vivre yang berfokus pada intimasi. Koleksi ini bukan sekadar peragaan busana, melainkan deklarasi tentang kebebasan personal, ruang privat, dan seni hidup yang tak terikat oleh batasan.

Sartorial Louis Vuitton
Kebebasan sartorial menjadi bahasa utama koleksi ini. Louis Vuitton bermain-main dengan ide “wardrobe indoor” yang biasanya kaku dan fungsional, lalu menyulapnya menjadi simbol penemuan diri dan subversi gaya. Potongan baju yang intim, tekstur yang lembut, dan siluet yang penuh interpretasi melahirkan suasana yang nyaris teatrikal—namun tetap terasa akrab dan personal. Inilah bagaimana mode, sekali lagi, membebaskan sekaligus merayakan hal-hal yang paling dekat dengan manusia: keintiman.

Refleksi dari dalam kamar pribadi
Lebih dari sekadar koleksi, Louis Vuitton SS26 adalah refleksi tentang bagaimana rumah, ruang pribadi, dan busana bisa bertransformasi menjadi manifesto gaya hidup. Di tangan jenama Prancis ini, intimasi bukan lagi soal privasi semata, melainkan sebuah estetika. Intimacy as an Art de Vivre membuktikan bahwa di balik dinding-dinding Louvre, seni hidup menemukan bahasa baru: penuh kebebasan, penuh keberanian, dan sepenuhnya personal.


















