Ketika wastra memasuki ruang mode, ia tidak kehilangan akar, melainkan bergerak ke wilayah transisi yang disebut LIMINAL: sebuah ambang antara tradisi dan kemungkinan baru. Di titik ini, MORAL memilih untuk membaca ulang tenun Lombok, bukan sebagai artefak, tetapi sebagai bahasa hidup yang dapat beradaptasi. Koleksi ini tampil bagai after party dari sebuah konser rock, di mana kemilau songket Lombok bertemu leather, denim distressed, paku-paku kecil, serta buckle logam. Ada keanggunan yang rockin‘, bertenaga untuk berdiri tegak di lanskap mode kontemporer.

Fondasi dari Cita Tenun Indonesia
Cita Tenun Indonesia (CTI) sebagai fondasi fashion show ini, telah menenun jalur panjang dalam pelestarian wastra Nusantara sejak berdiri pada 28 Agustus 2008. Melalui pembinaan intensif di 28 kabupaten/kota sentra tenun di 14 provinsi selama satu tahun, CTI bekerja bersama praktisi dan desainer untuk memperluas wawasan perajin terhadap kebutuhan pasar modern tanpa menghilangkan nilai lokal. Fokusnya bukan hanya kualitas produksi, tetapi keberlanjutan kehidupan. Tenun tidak hanya menjadi komoditas, tetapi sumber daya budaya dan ekonomi yang hidup.

Motif Tenun Lombok
Namun sebelum tenun mengemuka sebagai objek mode, ia lahir dari tubuh dan napas perempuan Sasak di Sukarara. Menenun adalah penanda kedewasaan dan martabat diri. Dengan alat tenun gedogan yang sederhana, ritme benang dan kayu mengalir seperti langkah waktu. Motif Subahnale, Ragi Genep, hingga Kembang Komak adalah doa dan ingatan yang tertanam dalam warna-warna yang diambil dari bumi: merah bata dari kulit kayu, biru senja dari indigo, kuning hangat dari kunyit. Maka sebuah helai tenun bukan sekadar kain. Ia adalah memoar, jejak tangan, dan nyawa yang dituturkan dari generasi ke generasi. Di titik inilah MORAL dan CTI tidak sekadar memperlihatkan wastra, tetapi mendengarkan ia berbicara.



















