Dalam lanskap Milan Design Week 2026 yang selalu menjadi barometer kreativitas global, Louis Vuitton menghadirkan narasi baru melalui koleksi Objets Nomades terbarunya. Bertempat di Palazzo Serbelloni, presentasi ini tidak sekadar pameran, melainkan sebuah perjalanan visual yang merangkai warisan Art Deco dengan sensibilitas desain masa kini.
Ruang-Ruang Kenangan
Memasuki ruang Giangaleazzo, pengunjung seakan ditarik mundur ke awal abad ke-20 melalui penghormatan terhadap Pierre Legrain. Sosok visioner ini menjadi fondasi eksplorasi Louis Vuitton terhadap furnitur, tekstil, hingga Art of Dining yang terinspirasi dari karya penjilidan bukunya yang legendaris. Koleksi tersebut berdialog intim dengan arsip maison, mulai dari trunk awal hingga aksesori perjalanan dan ilustrasi langka yang menegaskan akar craftsmanship mereka.

Skala dan Warna Louis Vuitton
Di ruang Gabrio, narasi berkembang menjadi lebih hidup melalui komposisi skala dan warna. Sebuah karpet Tikal dari koleksi hommage Pierre Legrain menjadi pusat gravitasi visual, dengan palet biru malam dan cokelat yang merangkum ruang tamu, ruang makan, hingga perpustakaan dalam satu alur yang harmonis. Di sini, desain menjadi pengalaman multisensorial yang merayakan tekstur, pola, dan ritme warna secara dinamis.

Bagai Karya Seni Monumental
Ruang Napoleonica menghadirkan interpretasi yang lebih grafis dan teatrikal. Throw besar dengan komposisi khas Pierre Legrain dipasang layaknya karya seni monumental, berdampingan dengan furnitur ikonik seperti Riviera chaise longue dan meja rias Celeste yang kembali dihadirkan dalam material kayu lacquer dan kulit Nomade. Setiap detail terasa seperti dialog antara masa lalu dan masa kini yang berjalan selaras.

Geometris
Eksplorasi berlanjut di ruang Beauharnais yang terinspirasi oleh karya Charlotte Perriand. Motif geometris bernuansa biru dan beige menghadirkan lanskap pegunungan yang subtil, berpadu dengan kreasi kontemporer mulai dari peralatan makan hingga lilin aromatik rancangan Marc Newson. Sentuhan desain dari Patrick Jouin dan Cristian Mohaded memperkaya dialog lintas generasi ini.

Era Art Deco
Ruang Parini kemudian membungkus pengalaman dalam spektrum merah yang intens dan emosional. Karpet monumental dengan ritme geometris menjadi fondasi visual bagi koleksi tableware dan aksesori yang merayakan garis minimalis khas era Art Deco. Sementara itu, Boudoir menghadirkan dua karya luar biasa dari Estudio Campana, termasuk Cabinet Kaléidoscope dan Baby-foot yang penuh imajinasi, serta Cocoon Dichroic yang berkilau dalam lapisan daun iridescent.

Belle Arti di Brerara
Di Grand Foyer, kursi Stella karya studio Raw Edges membawa dimensi baru dalam definisi kenyamanan. Dengan permainan ilusi optik pada tekstilnya, desain ini terasa hampir kosmik, menghadirkan sensasi visual yang memikat sekaligus eksperimental. Instalasi berlanjut hingga halaman palazzo, di mana karya monumental hasil kolaborasi dengan Accademia di Belle Arti di Brera menjembatani estetika Art Deco dengan semangat desain kontemporer.

Inovasi
Sebagai penutup, pengalaman ini meluas ke butik di Via Montenapoleone yang menampilkan trunk ikonik, termasuk Malle Courrier Lozine Maison de Famille yang terbuat dari kaca patri, terinspirasi oleh arahan kreatif Pharrell Williams. Dari Malle Paravent hingga Malle Lit yang berakar pada desain tahun 1865, Louis Vuitton sekali lagi menegaskan bahwa inovasi sejati selalu berangkat dari warisan. Pameran ini dibuka untuk publik pada 21 hingga 26 April 2026, menjadi destinasi wajib bagi mereka yang mencari makna baru dalam seni hidup dan perjalanan.






