Bagaimana jika seorang seniman bernama Abell Octovan, yang telah berkarya selama lebih dari 15 tahun punya pertanyaan tanpa tanda tanya: “Am I an Artist”. Walau terbersit secercah krisis identitas, tetapi di tangan Abell Octovan justru kalimat pendek ini menjadi bahan bakar kreatif yang bergelora. Di debut solo exhibition-nya ini, Abell tidak mencari definisi tentang siapa dirinya sebagai seniman. Ia melesatkan keunggulan anatomi dan keberanian warna, di batas antara patung dan lukisan, antara humor dan sensualitas, antara keindahan dan absurditas, lalu membuat semuanya bertemu dalam satu bahasa visual yang berani, penuh warna, dan diam-diam personal.

“How To Be Normal” 2026, 150 x 150 cm, acrylic on canvas
Color Blocking Abell Octovan
Abell membawa bahasa visual tersebut ke dalam lukisan dengan cara yang tampak organik. Siluet tubuh manusia bergaya patung klasik tampil dalam bidang dua dimensi melalui color blocking yang tegas, dengan hijau toska, merah, kuning, dan ungu yang saling bertabrakan. Anatomi patung ditambahkan dengan cara seolah-olah tempelan, misalnya, tangan patung menjadi empat, atau kakinya menjadi tiga. Letak tempelan sangat terencana, antara seproporsi dengan anatomi utama dan sebagai sensor aurat. Bagian tempelan sangat kontras dengan warna yang mencolok. Sekilas muncul kesan gerak.

“Manual Instruction” 2026, 150 x 150 cm, acrylic on canvas
Survaival Guide on Earth for Alien
Yang membuat karya-karya tersebut semakin menarik adalah benturan antara tubuh klasik dan bahasa sehari-hari yang nyaris absurd. Seorang figur tanpa busana memegang buku bertuliskan “What to Wear When the Apocalypse Comes” dan “HOW TO SAY ‘F U’ POLITELY”. Figur lain membawa “SURVIVAL GUIDE ON EARTH FOR ALIEN”, sementara secarik catatan di meja berkata sederhana, “it is what it is”. Humor witty semacam ini bukan sekadar gimmick visual, tetapi pemancing dialog yang seru.

“Let’s Move On” 2026, 120 x 100 cm, acrylic on canvas
Figur Renaissance Atletis
Fogur-figur klasik dalam lukisan Abell mengalami semacam penyebrangan lintas dimensi. Tubuh ideal yang biasanya diasosiasikan dengan keagungan seni klasik, renaissance, kini hadir dalam situasi domestik yang pop art, sembari ia duduk, membaca, memegang bunga, atau menghadapi buku panduan tentang tips menghadapi akhir jaman. Wajah yang tidak hadir secara spesifik juga menghapus identitas individual figur tersebut. Mereka berubah menjadi semacam manusia anonim yang cerah atletis, vibrant. Tambah lagi, keindahan tubuh sang figur yang berotot ideal, tanpa busana, menebarkan aura sensual yang tak bisa dipungkiri.

“We Are All Alone” 2026, 180 x 150 cm, acrylic on canvas
What a Wonderful World
Satu karya berjudul: “We Are All Alone” (180 x 150 cm Acrylic on canvas 2026) terdiri dari 8 atau 9 figur bertubuh indah khas patung-patung Michelangelo, saling menopang pundak membentuk menara kecil. Tak ada kesan letih dan lelah, semua kokoh bergelora, tangan dan kaki saling bertautan di leher dan dada. Mereka dikitari oleh sembilan burung-burung merah yang gesit. Sementara di dalam ruang pameran ini ada tulisan-tulisan: “What a Wonderful World”. Kalau tak membaca keterangan lukisan (apalagi di era orang malas membaca saat ini), secara visual imajinasi bisa terbawa ke sepentas gelora gairah yang memuncak seperti menara. Tetapi deskripsi lukisannya adalah:
Doa
Sehari-hari, hidup selalu ramai. Ada orang-orang di sekitar, ada suara, ada arah yang ditunjukkan dari berbagai penjuru — sebagian membantu, sebagian membingungkan. Begitu banyak yang harus ditopang, begitu banyak yang harus didengarkan. Tapi ada satu titik yang tidak bisa diwakilkan siapa pun “Doa. Di situ, semua kebisingan mereda, dan yang tersisa hanya diri sendiri, berhadapan langsung dengan Sang Pencipta, mencari jalan yang harus dipilih. Yang sering luput disadari, jawaban itu sebenarnya sudah ada sejak awal — hadir terus-menerus, seperti burung yang terbang mengelilingi, membawa petunjuk yang sebenarnya sudah disediakan. Hanya saja, di tengah riuhnya dunia, tidak selalu mudah untuk benar-benar melihatnya. Sebanyak apa pun orang di sekeliling, pada akhirnya kita sendiri yang harus menentukan dan memilih jalan hidup kita.

“What A Wonderful World” 2026, 160 x 80 x 45 cm, Concrate & Galvanis Acrylic on canvas + ABS 3D Print

“Seing The Other Side” 2026, 150 x 120 cm, acrylic on canvas

“Leave it Open” 2026, 100 x 100 cm, acrylic on canvas

“I Am What I Am” 2026, 100 x 80cm ( canvas size ) Acrylic on canvas + ABS 3D Print

“The Art of Release” 2026, 60 x 50 cm, acrylic on canvas

