Ketika bicara tentang Jepang, sebagian besar pelancong dunia masih membayangkan jalan neon Shinjuku, kuil merah di Kyoto, atau pasar ramai di Osaka. Namun, lanskap pariwisata Jepang kini sedang mengalami pergeseran besar: semakin banyak wisatawan mencari pengalaman yang lebih otentik di luar kota-kota utama. Menurut laporan Badan Pariwisata Jepang, lebih dari 37% tamu mancanegara kini menginap di wilayah regional—angka yang melonjak signifikan dibanding sebelum pandemi.
Hoshino Resorts, jaringan hotel yang dikenal dengan konsepnya yang mengakar pada budaya dan alam setempat, menjadi pionir dalam perubahan arah ini. Dengan lebih dari 60 properti di Jepang dan luar negeri, grup ini konsisten menawarkan pengalaman yang tidak sekadar mewah, melainkan penuh makna, membiarkan tamu masuk ke dalam denyut kehidupan lokal.
Tahun 2025, Hoshino Resorts membuka tiga properti penting: KAI Hakone yang menampilkan kembali nuansa perjalanan Edo, LUCY Ozehatomachi yang menjadi hotel gunung pertama di Jepang, dan RISONARE Shimonoseki yang merayakan budaya maritim serta kuliner laut. Masing-masing hadir bukan sebagai sekadar penginapan, melainkan sebuah pintu masuk menuju dunia yang jarang tersentuh oleh wisata massal.
KAI Hakone: Sentuhan Edo di Jalan Tokaido
Hakone selalu menjadi destinasi favorit bagi pecinta onsen, tetapi kehadiran kembali KAI Hakone pada 13 Agustus 2025 memberi alasan baru untuk menjejak kota mata air panas ini. Terletak di jalur legendaris Tokaido Road, yang dulu menghubungkan Edo (Tokyo) ke Kyoto, KAI Hakone menghidupkan kembali budaya perjalanan masa lampau sambil memberikan kenyamanan modern.

Ryokan ini tampil dengan desain baru “Hakone Gokochi” yang terinspirasi oleh artefak perjalanan era Edo. Sandogasa (topi jerami), jikatabi (alas kaki), dan lentera tidak hanya menjadi dekorasi, melainkan narasi visual yang membawa tamu membayangkan diri mereka sebagai musafir berabad-abad lalu. Dua suite terbaru—dengan luas lebih dari 110 meter persegi, pemandian terbuka, serta taman dalam—menjadi pilihan ideal untuk keluarga atau rombongan multigenerasi yang ingin merasakan kemewahan dalam suasana tradisional.

Salah satu highlight adalah Sawa-chaya Tea House, rumah teh bergaya Edo yang didirikan di tengah taman resort. Seperti kedai teh di pinggir jalan kuno, tempat ini menyambut tamu dengan teh hangat, dango manis, hingga sake herbal saat malam. Kehangatan interaksi ini menciptakan nuansa persinggahan musafir di tengah perjalanan panjang, lengkap dengan makna kata “sawa” yang merujuk pada sungai, desiran daun, sekaligus percakapan ringan.

Budaya lokal hadir melalui program Cultural Discovery khas KAI. Di Hakone, tamu dapat mencoba yosegi-zaiku, kerajinan kayu marquetry yang membutuhkan kesabaran luar biasa untuk menghasilkan pola geometris nan rumit. Aktivitas ini bukan sekadar workshop, melainkan cara untuk memahami filosofi estetika Jepang yang mengutamakan detail dan harmoni.
Di meja makan, pengalaman pun sarat sejarah. Menu kaiseki musiman dihidangkan dalam ruang semi-pribadi, dengan puncaknya berupa nabe daging sapi ala era Meiji—simbol pergeseran kuliner Jepang saat daging mulai diperkenalkan ke masyarakat luas. Makan malam di sini terasa seperti perjalanan melintasi waktu, dengan setiap gigitan membawa cerita berbeda dari Hakone sebagai kota persinggahan penting dalam sejarah.
LUCY Ozehatomachi: Pionir Hotel Gunung Jepang
Jika KAI Hakone berakar pada nostalgia, maka LUCY Ozehatomachi menghadirkan wajah baru bagi pariwisata alam Jepang. Dibuka pada 1 September 2025, hotel ini tidak hanya sekadar akomodasi, tetapi menandai kelahiran brand baru Hoshino Resorts bernama LUCY, sebuah lini yang sepenuhnya didedikasikan untuk wisata gunung.

Terletak di Hatomachi Pass, pintu masuk paling populer ke Oze National Park, hotel ini menjadi revolusi kecil dalam dunia pendakian Jepang. Sebelumnya, pilihan akomodasi di ketinggian sebatas pondok sederhana tanpa fasilitas modern. Kini, dengan 25 kamar yang terdiri dari dormitori, twin, hingga family room, LUCY Ozehatomachi memberikan kenyamanan yang sebelumnya tak terpikirkan: pancuran hangat setelah mendaki, toilet modern dengan bidet, hingga Wi-Fi yang stabil untuk para tamu yang ingin tetap terhubung meski berada di alam liar.

Brand LUCY sendiri mengambil nama Isabella “Lucy” Bird, penjelajah Inggris abad ke-19 yang menulis catatan perjalanan epik melintasi Jepang. Semangat eksplorasi Bird tercermin dalam filosofi hotel ini: mendorong para tamu untuk menemukan kebebasan, kemandirian, sekaligus kebersamaan di alam terbuka. Ruang komunal dengan jendela besar menghadap dataran tinggi Oze menciptakan suasana base camp modern, di mana para pendaki saling bertukar cerita sebelum atau sesudah perjalanan.
Pengalaman di LUCY tidak berhenti di fasilitas. Tamu diajak terlibat dalam aktivitas yang menyatu dengan alam, mulai dari workshop membuat lonceng beruang dari paracord—simbol perlindungan sekaligus kerajinan khas—hingga konseling jalur hiking oleh staf yang berpengalaman. Menginap di sini juga memungkinkan tamu berangkat saat fajar, ketika jalur masih sepi dan kabut tipis menari di atas rawa Oze, memberikan pengalaman hiking yang intim dan magis.

Dengan menu sederhana namun penuh energi, seperti sup miso babi dengan ikan makarel panggang, LUCY mengingatkan kita bahwa perjalanan di gunung tidak harus mengorbankan kenyamanan. Ia justru menjadi penghubung antara keindahan alam dan kebutuhan manusia modern akan kenyamanan dasar.
RISONARE Shimonoseki: Resort Maritim dengan Sentuhan Desainer
Di ujung selatan Honshu, Shimonoseki berdiri sebagai kota yang kaya sejarah maritim sekaligus pusat gastronomi Jepang. Pada 11 Desember 2025, RISONARE Shimonoseki membuka pintunya, membawa karakter khas brand RISONARE—resort keluarga dengan desain modern—ke wilayah Kyushu–Yamaguchi untuk pertama kalinya.

Berlokasi tepat di tepi Selat Kanmon, yang sejak dulu menjadi jalur penting perdagangan dan peperangan, hotel ini menawarkan 187 kamar yang semuanya menghadap laut. Desain interiornya digarap oleh Nihon Sekkei dan Klein Dytham Architecture, dengan dominasi warna hijau zamrud yang terinspirasi dari perairan selat. Beberapa kamar bahkan ramah hewan peliharaan, sementara Strait Cabana Suites menghadirkan kejutan unik berupa “pantai dalam ruangan”—lantai berpasir, teropong, hingga dekorasi kerang, menciptakan suasana bermain tepi laut tanpa meninggalkan kamar.

Kuliner di RISONARE Shimonoseki pun mencerminkan jati diri kota ini. OTTO SETTE Shimonoseki, restoran Italia khas brand RISONARE, menghadirkan menu fugu yang diolah dengan teknik kuliner modern, menekankan tekstur dan cita rasa unik ikan buntal. Untuk pengalaman yang lebih santai, PUKU PUKU menawarkan buffet hidangan lokal: fugu karaage yang renyah, hingga soba Kawara yang disajikan di atas genting panas.

Bagi keluarga, resort ini ibarat taman bermain akuatik. Infinity pool yang seolah menyatu dengan laut menciptakan panorama dramatis, sementara “fugu pool” dengan seluncur 30 meter menghadirkan keriangan anak-anak. Ada pula kolam dangkal untuk balita dan ruang bermain air yang aman. Naminami Terrace, dengan undakan hijau berbentuk gelombang, menjadi tempat ideal menikmati kapal-kapal yang lalu lalang di selat.
RISONARE Shimonoseki juga menghadirkan program edukatif seperti Captain Academy, di mana anak-anak dapat mengenakan seragam kapten dan belajar langsung di ruang kemudi kapal. Aktivitas ini bukan hanya hiburan, melainkan cara menanamkan rasa ingin tahu tentang dunia maritim sejak dini.

Dengan tarif mulai dari ¥21,000 per orang per malam, resort ini menjadi pilihan terjangkau untuk pengalaman penuh gaya, menjadikannya magnet baru di barat daya Jepang bagi keluarga internasional maupun domestik.
Sebuah Simfoni Perjalanan Regional Jepang
Ketiga resort baru ini memperlihatkan filosofi Hoshino Resorts yang konsisten: setiap properti harus berbicara dengan lanskap dan sejarah di sekitarnya. Bukan sekadar akomodasi, melainkan bagian dari perjalanan itu sendiri.
KAI Hakone mengajak tamu merasakan kembali atmosfer perjalanan Edo, LUCY Ozehatomachi menghidupkan semangat eksplorasi di dataran tinggi, sementara RISONARE Shimonoseki merayakan laut dan kuliner yang menjadi nadi kota. Bersama-sama, mereka menyusun simfoni perjalanan yang lebih kaya, lebih mendalam, dan jauh dari jalur wisata massal.


