Saya melihat Watches and Wonders Geneva tahun ini terasa berbeda. Bukan karena komplikasi paling rumit atau tourbillon paling ekstrem, melainkan karena industri jam tangan luxury seperti sedang belajar berbicara lebih pelan dengan pendeketan yang lebih personal dari sebelumnya.
Di ( hampir ) setiap booth Watches and Wonders Geneva 2026, aura hyper-masculine sports watch perlahan mulai melunak. Case besar mulai mengecil. Bracelet terasa lebih cair di pergelangan tangan. Dial tampil lebih ekspresif. Bahkan jam tangan putih — yang dulu dianggap niche dan terlalu fashion — kini justru menjadi simbol luxury lifestyle generasi baru. Tahun ini terasa seperti tentang menemukan konsep baru tentang elegansi, yang mungkin lebih elevated atau inovatif.
Dan menariknya, perubahan ini datang hampir dari semua arah industri. Rolex kembali bermain dengan proporsi yang lebih klasik, Cartier semakin mempertegas bahasa jewelry watch, sementara Bvlgari justru menghadirkan salah satu pergeseran paling penting tahun ini lewat Octo Finissimo 37 mm yang lebih kecil dan refined.
Smaller Watches, Bigger Sophistication
Trend terbesar tahun ini mungkin terdengar sederhana: ukuran jam tangan yang mengecil. Tapi dengan dampak yang jauh lebih besar dari sekedar angka diameter case. Yang juga saya perhatikan selama satu dekade terakhir, industri luxury watches hidup dalam era oversized sport dan chunky watch. Jam tangan menjadi simbol presence – besar, tebal dan sangat terlihat kehadirannya pada total look seseorang. Namun kali ini, menunjukkan arah berbeda. Ukuran 36 mm sampai 39 mm kini menjadi sweet spot baru industri.

Yang lebih menarik adalah, hampir semua jenama jam tangan menerjemahkan trend ini dengan cara berbeda. Rolex dan Tudor bermain pada nostalgia proporsi vintage. Cartier justru memperkuat aura intellectual elegance lewat Tank dan Santos yang semakin terasa timeless. Sementara Jaeger-LeCoultre dan Patek Philippe membawa kembali daya tarik ultra-thin dress watch yang sophisticated lewat Nautilus edisi 50 tahun yang diperkecil. Namun tidak ada yang seberani Bvlgari dengan apa yang mereka perbuat terhadap Octo Finissimo.


Bvlgari dan Evolusi Octo Finissimo
Selama bertahun-tahun, Octo Finissimo dikenal sebagai salah satu simbol modern watch design: ultra-thin, arsitektural, maskulin, dan sangat design-driven. Tapi tahun ini Bvlgari melakukan sesuatu yang cukup radikal dengan mengecilkan Octo Finissimo menjadi 37 mm. Dan ini bukan sekedar downsizing biasa, melainkan membangun ulang movement baru BVF100 yang volumenya 20 persen lebih kecil dibanding generasi sebelumnya yang berukuran 40 mm. Dan hasilnya bukan hanya ukuran yang mengecil, tapi jam tangan ini terasa lebih fluid, sensual dan jauh lebih wearable lintas gender. Bracelet-nya terlihat lebih cair di pergelangan tangan, sementara proporsi ultra-tipisnya kini justru terasa semakin elegan.

Langkah ini memperlihatkan perubahan besar dalam kultur luxury watch saat ini yang seolah menemukan kembali ( dalam konteks yang lebih luxury )kehadirannya tanpa berbicara dengan keras.
White Watches Take Over Geneva
Jika ada satu trend visual yang paling mudah dikenali tahun ini, jawabannya mungkin adalah jam tangan putih. Bukan hanya white dial, tetapi full monochromatic white aesthetic — mulai dari ceramic case, white rubber strap, sampai tone putih matte yang terlihat seperti luxury resort object.
Chanel masih menjadi referensi utama lewat J12 putih yang kini terasa semakin relevan, sementara IWC menghadirkan nuansa futuristik lewat ceramic pilot watches bernuansa putih bersih. Hublot, H. Moser & Cie., hingga Hublot, juga semakin agresif memainkan bahasa ceramic monochrome luxury.

Estetika ini terasa seperti antitesis dari era stealth-black watches beberapa tahun lalu. Yang mana kalau jam tangan hitam memberi kesan tactical dan agresif, maka jam tangan putih tahun ini justru terasa kental dengan vibes luxury resort, tennis/ padel – club sophistication, gaya hidup berlayar dan pantai, serja clean futurism. Apakah ada hubungannya dengan gaya hidup luxury wellness destination yang semakin menjamur di berbagai belahan dunia?
Karena secara visual, ini mengingatkan saya pada linen tailoring putih saat musim panas di Portofino dan Bali, summer yacht di Saint-Tropez, atau quiet luxury wardrobe yang kini mendominasi fashion global.


Jam Tangan Sebagai Fashion Object
Satu lagi yang paling terasa dari Watches and Wonders 2026 sebenarnya bukan hanya desain jam tangan saja, tetapi bagaimana industri mulai memposisikan jam tangan sebagai bagian dari fashion culture. Mungkin sudah lama, tapi ini terlihat kembali dengan arus yang deras.


Perbatasan antara haute horology dan high jewelry semakin kabur. Cartier, Piaget, Van Cleef & Arpels, Chanel, hingga Bulgari dan Jeager-LeCoultre semakin memperlihatkan bahwa jam tangan kini bukan hanya alat ukur waktu, melainkan collectible sculpture untuk gaya hidup modern. Yang membuat Watches and Wonders kali ini seakan sebuah fashion week dibanding watches fair trade yang teknikal. Apakah bertanda baik atau sebaliknya?
Jam tangan hadir dalam lebih banyak warna dengan berbagai material batu mulia berwarna-warni yang membuatnya kuat akan pengaruh perhiasan. Dan ini membuat ( jam tangan ) lebih banyak mengandung emotional storytelling.

Tapi mungkin itu yang membuat Watches and Wonders 2026 terasa sangat menarik: industri jam tangan akhirnya menyadari bahwa luxury modern bukan lagi tentang menunjukkan kekuatan secara keras, melainkan tentang bagaimana sebuah objek bisa terasa intimate, personal, dan effortlessly elegant. Walau hanya lewat sebuah trend, yang mungkin akan timless atau bertahan sebentar.


